almuhtada.com-Dalam kehidupan kita, sering kali ada dua tipe cara pandang tentang rezeki. Ada yang percaya bahwa rezeki akan datang dengan sendirinya tanpa perlu banyak usaha. Di sisi lain, ada pula yang meyakini bahwa rezeki hanya bisa diperoleh melalui kerja keras tanpa melibatkan tawakal kepada Allah Swt. Padahal, keduanya sama-sama kurang tepat. Yang satu meninggalkan ikhtiar, sementara yang lain merupakan tawakal. Padahal, Allah Swt menciptakan kehidupan dengan keseimbangan, termasuk dalam urusan usaha dan rezeki.
Dalam Islam, usaha dan tawakal bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi. Kita diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt. Ada usaha dalam pekerjaan, ada usaha dalam ibadah, dan ada keyakinan bahwa Allah Swt adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
Rasulullah Saw pernah memberikan pelajaran sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Dikisahkan seorang sahabat meninggalkan untanya tanpa diikat sambil berkata, “Aku telah bertawakal kepada Allah Swt.” Rasulullah Saw kemudian menegurnya dan bersabda, “Ikatlah untamu, setelah itu baru bertawakal.” Dari kisah ini kita belajar bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal tidak menentang hukum sebab akibat yang Allah Swt tetapkan di dunia ini. Jika unta hilang karena tidak diikat, itu bukan karena Allah Swt tidak menjaganya, tetapi karena pemiliknya tidak melakukan bagian yang seharusnya ia lakukan.
Tawakal berarti melakukan kewajiban dan usaha terbaik terlebih dahulu, kemudian menyerahkan sisanya kepada Allah Swt. Karena itu, berbicara tentang rezeki tidak bisa dipisahkan dari ikhtiar. Allah Swt sendiri telah menjelaskan hal ini dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah Swt, dan ingatlah Allah Swt banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Dalam ayat tersebut terdapat dua perintah yang saling berkaitan: beribadah kepada Allah Swt dan bergerak mencari karunia-Nya. Kata “bertebaranlah di bumi” menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk aktif, bergerak, bekerja, dan berusaha. Rezeki bukan untuk ditunggu tanpa tindakan, tetapi untuk dicari dengan usaha yang halal dan sungguh-sungguh.
Namun, sebelum dan sesudah usaha itu ada hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu shalat dan mengingat Allah Swt. Menariknya, Allah Swt tidak mengatakan, “Salatlah, maka rezeki akan datang dengan sendirinya.” Akan tetapi, Allah Swt memerintahkan manusia untuk shalat, lalu melanjutkan dengan usaha mencari karunia-Nya. Artinya, ibadah bukan pengganti usaha, melainkan penguat dan penuntun dalam menjalani usaha tersebut.
Allah Swt mengetahui kapan rezeki itu datang, di mana rezeki itu berada, dan melalui jalan apa rezeki itu akan diberikan. Sedangkan ikhtiar adalah cara kita untuk meraih rezeki tersebut. Shalat menjadi bagian dari usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt, sementara kerja keras menunjukkan kesungguhan dan kualitas diri kita dalam menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, tugas manusia adalah melakukan bagian yang telah Allah Swt perintahkan: beribadah dengan taat, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tetap menjaga hati agar bergantung kepada-Nya. Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Allah Swt. Sebab Allah Swt tidak pernah lalai memenuhi janji-Nya kepada hamba yang mau berusaha dan taat kepada-Nya. [Shokifatus S]











