EFT vs Dzikir: Mana yang Benar-Benar Menenangkan Hati?

Ilustrasi wanita yang melakukan tapping di wajah (Pinterest.com - Almuhtada.org)

almuhtada.org – Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, rasa gelisah, cemas, dan lelah secara emosional menjadi hal yang sering dirasakan. Dalam kondisi seperti itu, manusia akan selalu mencari cara untuk menenangkan diri.

Sebagian memilih metode modern seperti Emotional Freedom Technique (EFT), sementara sebagian lainnya kembali kepada dzikir sebagai bentuk pendekatan kepada Allah.

EFT dikenal sebagai teknik “tapping”, yaitu mengetuk titik-titik tertentu pada tubuh sambil mengucapkan afirmasi. Metode ini banyak digunakan untuk membantu meredakan stres atau kecemasan.

Di sisi lain, dzikir dalam Islam sudah lama menjadi cara utama untuk menenangkan hati, bukan hanya secara emosional, tetapi juga secara spiritual.

Menariknya, muncul satu pendekatan yang mulai dilakukan oleh sebagian orang, yaitu menggabungkan keduanya. Gerakan tapping dilakukan, namun bukan dengan afirmasi umum, melainkan disertai dengan dzikir seperti istighfar, hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, atau doa-doa sederhana kepada Allah.

Dalam praktiknya, tubuh menjadi lebih rileks, sementara hati diarahkan untuk tetap terhubung kepada Allah.

Menurut penulis, pendekatan seperti ini bisa dipahami sebagai bentuk ikhtiar untuk membantu diri lebih fokus dalam berdzikir, terutama ketika kondisi hati sedang tidak stabil. Gerakan yang dilakukan bukanlah inti, melainkan hanya sarana agar dzikir bisa lebih dihayati.

Allah berfirman:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Baca Juga:  Pesantren: Tempat Istimewa untuk Menempa Ilmu, Kepribadian, dan Keberkahan Hidup

Ayat ini menjadi pengingat bahwa sumber ketenangan yang sebenarnya tetap berasal dari dzikir itu sendiri. Bukan dari metode, bukan dari gerakan, melainkan dari hubungan antara hamba dengan Rabb-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang mudah untuk langsung tenang hanya dengan duduk dan berdzikir, terutama ketika pikiran sedang penuh. Terkadang, tubuh juga membutuhkan waktu untuk ikut “tenang” agar hati bisa lebih hadir. Di sinilah sebagian orang mencoba menggunakan pendekatan tambahan seperti EFT sebagai jembatan.

Menurut penulis, hal yang perlu dijaga bukan pada boleh atau tidaknya metode tersebut, tetapi pada arah hati. Selama dzikir tetap menjadi pusat, dan bukan digantikan oleh teknik, maka yang dikejar tetaplah kedekatan kepada Allah, bukan sekadar rasa tenang semata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia terkadang membutuhkan cara yang berbeda untuk kembali kepada ketenangan. Namun pada akhirnya, semua jalan itu akan bermuara pada satu titik yang sama, yaitu kembali mengingat Allah.

Karena sejauh apa pun seseorang mencari cara untuk menenangkan diri, ketenangan sejati tetap tidak akan ditemukan kecuali saat hati benar-benar kembali kepada-Nya.

Penulis: [Fitri Novita Sari]

Related Posts

Latest Post