Rahasia Rezeki dalam Sebutir Anggur

Gambar buah anggur (Freepik.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Mengutip hadis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi dalam keadaan lapar di pagi hari dan pulang dalam keadaan kenyang di sore hari.”

Ternyata dipahami dengan dua sudut yang berbeda oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik, loh.

Suatu hari di Madinah, Imam Syafi’i duduk bersama gurunya, Imam Malik. Keduanya membahas mengenai ayat-ayat rezeki. Imam Malik berkata dengan tenang, “Wahai Syafi’i, rezeki itu cukup dengan tawakal. Seperti burung yang dijamin Allah, asalkan yakin, rezeki akan datang.”

Imam Syafi’i, dengan kecerdasan dan sifatnya yang kritis, menyanggah dengan sopan, “Wahai Guru, burung itu harus terbang dulu baru kenyang. Jika ia hanya berdiam di sarang, bagaimana rezeki bisa masuk ke paruhnya?”

Keduanya bersikukuh pada pendapat masing-masing namun tetap saling menghormati. Diskusi selesai tanpa ada yang mau mengalah.

Sekeluarnya dari majelis, Imam Syafi’i ingin membuktikan pendapatnya. Saat berjalan, beliau melihat seorang kakek tua yang sedang kesulitan memanen buah anggur di kebunnya.

Tanpa banyak bicara, Imam Syafi’i membantu kakek itu. Beliau memanjat, memetik, dan memanggul keranjang anggur yang berat sampai ke rumah si kakek. Pekerjaan itu sangat melelahkan dan membuat beliau berkeringat.

Baca Juga:  Rezeki Tak Pernah Tertukar, Masih Ragu? Simak Penjelasan Ini

Setelah selesai, si kakek memberikan dua ikat anggur besar sebagai upah. Imam Syafi’i senangnya bukan main. Dalam hatinya beliau bergumam, “Lihat, kalau aku tidak lelah membantu kakek tadi, anggur ini tidak akan ada di tanganku.”

Beliau langsung berlari menuju rumah Imam Malik. Beliau ingin menunjukkan bahwa ikhtiar (usaha) adalah penyebab datangnya rezeki. Begitu sampai, beliau meletakkan anggur itu di depan gurunya.

“Guru!” seru Imam Syafi’i penuh semangat. “Seandainya aku tidak keluar tadi dan membantu orang memanen anggur, niscaya anggur ini tidak akan pernah sampai kepadaku. Ini bukti bahwa rezeki butuh kerja fisik!”

Imam Malik tersenyum simpul, sebuah senyuman yang sangat tenang. Beliau tidak membantah cerita muridnya. Beliau justru mengambil sebutir anggur, memakannya, lalu berkata:

“Wahai Syafi’i, ketahuilah! tadi pagi aku sedang duduk di sini dan sempat terlintas di pikiranku bahwa aku sedang ingin sekali makan anggur yang manis. Aku tidak keluar rumah, aku tidak bekerja, aku hanya berdiam diri dan bertawakal.”

Beliau menatap muridnya dengan lembut, “Lalu tiba-tiba, engkau datang mengantarkan anggur terbaik ini ke pangkuanku secara gratis. Bukankah ini bukti bahwa rezeki datang kepada mereka yang bertawakal?”.

Dari kisah tersebut dapat kita ambil hikmah bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha. Namun, justru harus berjalan seimbang dengan ikhtiar sebagai bentuk tanggung jawab manusia. Rezeki memang telah dijamin oleh Allah. Namun, cara sampainya tetap melalui ikhtiar (usaha), sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya. [] Lailia Lutfi Fathin

Baca Juga:  Menjalin Ukhuah Melalui Silaturahmi

Related Posts

Latest Post