almuhtada.org – Siapa yang hidup tak pernah jauh dari kata “kritikus”. Terutama ketika ada satu atau dua hal yang membuat seseorang merasa bersalah. Tanpa disadari, seseorang sering menjadi seorang “kritikus” paling keras bagi dirinya sendiri.
Mungkin bagi beberapa orang mengkritik diri sendiri adalah hal yang positif. Karena, dari kegiatan tersebut akan muncul pemicu evaluasi dan perbaikan. Namun, bagi sebagian lainnya mengkritik adalah sesuatu yang negatif. Karena, hal tersebut dapat berubah menjadi suara yang terus melemahkan dan mengikis rasa percaya diri seseorang.
Sikap ini merupakan sikap manusiawi, ia bisa tumbuh atau bisa juga dipoles sedikit agar lebih berdampak positif bagi seseorang. Sedikit latihan dapat membuat kita bisa bersikap lebih ramah,
Pertama, sadari bahwa kritik diri merupakan suara yang jelas. Langkah ini merupakan langkah yang sama dengan mengubah persepsi menjadi motibasi. Pikiran negatif terkadang muncul secara spontan sehingga tidak perlu seseorang berlarut di dalamnya, berhentilah sebentar, dan amatilah apakah kritik tersebut related dengan dirimu sendiri.
Kedua, analisis manakah kritik yang membangun dan menjatuhkan. Ini penting sekali, karena ketika seseorang sedang dikuasai oleh egonya, ia akan gampang dijatuhkan. Maka di sinilah penting memiliki pikiran yang jernih. Untuk praktiknya, cobalah tulis pikiran-pikiran yang muncul saat kamu kecewa atau gagal. Lalu, petakan mana pikiranmu dan ubah kalimat yang muncul menjadi kalimat subjektif seakan nasihat dari lawan bicaramu.
Selanjutnya, gunakanlah kritik sebagai alarm rasa lelahmu dalam berpikir. Sehingga, ketika kritik itu muncul di kepala, kita akan mengingat bahwa ada beberapa hal yang mesti diperbaiki. Dan ini akan menjadi sinyal bantu jika digunakan dengan benar. Sinyal ini nantinya akan mempengaruhi tindak laku kita dalam menyikapi satu atau dua permasalahan.
Keempat, akui keberadaan emosi pada dirimu. Emosi seperti marah, tidak percaya diri, takut mengecewakan orang lain, takut gagal. Emosi demikian, sering muncul dan memenuhi isi pikiran kita. Namun, perlu kita sadari bahwa emosi adalah bentuk respon terhadap sekitar. Sehingga sepantasnya emosi untuk diakui agar emosi tidak mengambil alih peran tubuhmu.
Terakhir, perbanyaklah bersyukur dan hiduplah lebih baik dari hari kemarin. Kehidupan kita di detik ini adalah bentuk rahmat Allah kepada hamba-Nya. Untuk itu, dalam islam ada praktik doa dan dzikir pagi. Dua hal ini dapat dipraktikkan oleh kita agar tidak terlena oleh ketakutan terhadap dunia. Tentu setiap hari kita perlu meneladani untuk menjadikan hari lalu sebagai evaluasi dan perbaikan untuk hari setelahnya. Hal ini sejalan dengan Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi,
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).
Kritik diri tidak seharusnya menjadi suara yang menjatuhkan, melainkan cermin yang membantu kita melihat kekurangan dengan jernih dan melangkah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. [] Lailia Lutfi Fathin











