Ini Dia Komoditas Indonesia yang disukai oleh Rasulullah SAW!

Ilustrasi kayu gaharu, salah satu komoditas utama Nusantara di zaman dulu (freepik.com - almuhtada.com)

almuhtada.com – Tidak banyak yang tahu bahwa pohon penghasil salah satu parfum termahal di dunia itu sebetulnya tumbuh subur di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan. Pohon itu adalah gaharu dengan nama latin Aquilaria malaccensis. Nama lati tersebut diambil dari kata Malaka, karena dari sanalah pohon ini dulu banyak diperdagangkan ke penjuru dunia.

Di dunia Arab, gaharu dikenal dengan nama “oud”, harganya selangit. Tapi jauh sebelum oud menjadi tren parfum modern, Rasulullah SAW sudah lebih dulu mencintai aroma ini.

Riwayat dari Aisyah

Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan kebiasaan sehari-hari beliau, pernah menyebut soal ini secara langsung. Ibnul Jauzi mencatat riwayatnya dalam kitab Al-Wafa:

“Parfum yang paling disukai Rasulullah adalah aroma gaharu.” (HR. Ibnul Jauzi dalam Al-Wafa, hlm. 496)

Dari sekian banyak wewangian yang ada, gaharu adalah yang paling disukai. Bukan cuma sesekali dipakai, tapi ini adalah pilihan utama beliau. Dan pohon penghasilnya tumbuh di tanah yang sekarang kita huni.

Kenapa Pohonnya Jadi Wangi?

Pohon gaharu tidak langsung menghasilkan aroma saat ditebang. Ada proses yang unik di sini. Ketika batang pohon Aquilaria terluka atau terinfeksi sejenis jamur, pohon itu bereaksi dengan memproduksi resin gelap yang pekat. Resin inilah yang menjadi sumber aromanya.

Jadi gaharu semacam respons pertahanan pohon terhadap ancaman dari luar. Menariknya, justru dari “luka” itulah sesuatu yang berharga lahir. Aromanya dalam, hangat, dan punya efek menenangkan. Para ulama juga menyebutnya baik untuk ketenangan jiwa.

Baca Juga:  Refleksi Diri - Apakah Kita Sudah Bersabar?

Perjalanannya dari Malaka ke Afrika

Ada cerita menarik soal bagaimana gaharu masuk ke kisah Sirah Nabawiyah. Waktu itu, Rasulullah SAW menikah dengan Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha. Akad nikahnya dilangsungkan di Habasyah, di wilayah Afrika, karena Ummu Habibah saat itu sedang berhijrah ke sana.

Wali sekaligus wakil dalam akad itu adalah Raja Habasyah sendiri, Najasyi. Raja ini sudah memeluk Islam, meski ia menyembunyikannya dari rakyatnya. Ia yang memimpin prosesi, ia yang mewakilkan dari pihak Rasulullah.

Istri Najasyi pun turut memberikan hadiah. Melalui seorang budak perempuan, ia mengirimkan minyak wangi dan perlengkapan pengantin. Di antara hadiah itu ada gaharu. Kayu yang ditebang dari hutan Nusantara, diperdagangkan lewat jalur rempah melintasi Samudra Hindia, sampai ke tangan seorang ratu di Afrika, lalu dikirim sebagai hadiah pernikahan untuk Rasulullah SAW.

Wewangian dalam Keseharian Nabi

Rasulullah SAW dikenal sangat memperhatikan kebersihan dan wewangian. Ini bukan soal gaya hidup semata. Dalam ajaran Islam, menjaga tubuh agar bersih dan tidak mengganggu orang lain adalah bagian dari adab. Memakai wewangian juga termasuk sunnah yang dianjurkan.

Dari situ bisa dipahami kenapa tradisi memakai minyak wangi, terutama berbahan gaharu, sangat kuat di kalangan santri dan pesantren. Ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun yang tidak jelas asal-usulnya. Ada akarnya langsung dari Sirah Nabi.

Baca Juga:  Terlambat Meminta Maaf? Berikut Cara Meminta Maaf kepada Orang yang Telah Meninggal Menurut Islam

Satu Hal Lagi yang Jarang Disebut

Kembali ke cerita pernikahan Ummu Habibah. Budak perempuan yang bertugas membawa hadiah dari ratu Habasyah itu, setelah menjalankan tugasnya, rupanya tidak langsung pergi. Ia sempat menyaksikan keseharian Ummu Habibah.

Nizar Abazah dalam bukunya “Bilik-Bilik Cinta Muhammad” mencatat bahwa budak itu kemudian masuk Islam, tergerak oleh akhlak Ummu Habibah yang ia saksikan langsung. Tidak ada perdebatan panjang, tidak ada ceramah. Ia cukup melihat bagaimana seorang Muslimah menjalani hari-harinya.

Ini salah satu pola yang berulang dalam kisah dakwah di Habasyah: orang masuk Islam karena melihat, bukan karena diperdebatkan.

Kaitan Kita dengan Kisah Ini

Mungkin terasa jauh, kisah di abad ke-7 itu. Tapi ada benang nyata yang menghubungkannya ke sini. Pohon yang tumbuh di hutan leluhur kita, melalui jalur perdagangan panjang, ikut mengambil bagian dalam keseharian seorang Nabi.

Nusantara bukan hanya tempat yang menerima Islam dari luar. Jauh sebelum Islam masuk ke kepulauan ini secara masif, produk bumi kita sudah lebih dulu hadir dalam peradaban Islam. Salah satunya lewat aroma gaharu yang dicintai Rasulullah SAW.

Kali berikut kita mencium aroma gaharu atau minyak oud, mungkin ada yang berbeda dari sebelumnya. [] Moh. Zadidun Nurrohman

Related Posts

Latest Post