Ketika Setan Dibelenggu, lalu Siapa yang Menggodamu?

Ilutrasi seseorang yang berdoa (Freepik.com-almuhtada.org).

Almuhtada.org – Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi umat Islam. Kehadiran bulan suci ini biasanya disambut dengan baik oleh umat Islam, banyak orang yang mereka ibadahnya makin meningkat, hati terasa lebih lembut, doa terasa lebih ringan, dan masjid lebih ramai di bulan suci ini.

Meski demikian, sering dengar hadis bahwa ketika Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Akan tetapi dari pernyataan tersebut munculah sebuah pertanyaan bagi banyak orang. Jika memang setan dirantai, kenapa masih banyak sekali pendosa? Kenapa masih ada koruptor, pezina, pembunuh, penipu, dan berbagai kemaksiatan lainnya?

Siapa yang sebenarnya sedang berbisik di telinga mereka? Pertanyaan ini sebenarnya bukanlah hal baru. Sejak dulu orang bertanya hal yang sama. Kalau pintu kebaikan dibuka lebar, kenapa masih banyak yang memilih jalan gelap?

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dibelenggu bukan seluruh jenis setan, melainkan ma’arid atau para pembesar mereka yang biasanya menjadi komandan dalam merusak hati manusia.

Pada bulan suci ini mereka semua dibungkam, dibelenggu, dan tidak bisa menyentuh manusia seperti biasanya. Tapi bukan berarti manusia otomatis jadi suci. Karena ada satu hal yang tidak ikut dirantai bersama mereka yakni hawa nafsu.

Hawa nafsu bukan makhluk bersayap yang berbisik dari luar, ia ada di dalam diri. Ia adalah kebiasaan lama yang belum kita putus, ia adalah luka yang belum sembuh, ia adalah ambisi yang tak terkendali, atau mungkin cinta dunia yang terlalu dalam bercokol di dada.

Baca Juga:  Mitos Buruk Bulan Muharram: Bagaimana Islam Memandangnya?

Selama sebelas bulan, kita terbiasa menyalahkan setan. “Aku tergoda.” “Aku khilaf.” “Bisikannya kuat.” Ramadan datang dan mencabut sebagian alibi itu. Godaan melemah, lingkungan mendukung kebaikan, dan suasana spiritual menguat.

Lalu tersisa satu pertanyaan yang sangat penting, “Tanpa godaan setan pun, apakah kita tetap akan bermaksiat?”

Di sinilah Ramadan menunjukkan wajah aslinya. Ia bukan jaminan otomatis menjadi suci. Ia adalah bulan tarbiyah, tempat jiwa dilatih, tempat hati ditempa, dan tempat manusia belajar menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Kalau masih ada tangan yang korupsi, mungkin itu bukan semata karena setan. Kalau masih ada yang berkhianat, mungkin itu bukan hanya bisikan luar. Bisa jadi itu karena hawa nafsu yang sudah terlalu lama diberi ruang dan kenyamanan.

Ramadan mengajarkan tanggung jawab personal. Kelak, pada hari ketika tidak ada lagi Ramadan, tidak ada lagi alasan “Setan menggoda”, yang ditanya bukan siapa yang menyesatkanmu. Yang ditanyakan mungkin tentang apa yang kamu pilih?

Kita memang tidak bisa mengendalikan seluruh dunia, tidak bisa memaksa semua orang jadi baik, tidak bisa menghentikan semua kejahatan, tapi kita bisa melakukan satu hal, yakni menjaga diri sendiri.

Caranya bagaimana? Latih disiplin puasa, bukan hanya menahan lapar tapi juga menahan emosi, lisan, dan keinginan yang berlebihan.

Bangun kesadaran bahwa kebaikan adalah pilihan sadar, bukan sekadar hasil situasi.

Baca Juga:  Manusia adalah Makhluk Safar

Ramadan pada akhirnya adalah ujian kedewasaan iman. Ketika setan dilemahkan, dan hawa nafsu tetap ada, di situlah kualitas diri kita diuji.

Jika dibulan suci ini, kita masih memeluk dosa, berarti itu bukan lagi sebuah godaan, tetapi itu adalah sebuah pilihan. Dan pilihan kita tidak bisa disalahkan pada siapapun kecuali diri kita sendiri. []Sahrul Mujab

Related Posts

Latest Post