Cegil dalam Islam Apakah Boleh?

Ilustrasi cegil, perempuan gaul masa kini (pinterest.com-almuhtada.org)

almuhtada.org – Istilah cegil adalah salah satu bahasa gaul yang merupakan singkatan dari cewek gila. Makna sendiri dari cegil adalah perempuan mengejar cinta dari laki-laki yang dia suka terlebih dahulu.

Dalam adat orang Indonesia, biasanya kita memandang bahwa laki-laki yang harus bergerak terlebih dahulu, perempuan harus malu. Lalu, sebenarnya bagaimana pandangan dalam islam?

Pernahkah kalian membaca mengenai cerita cinta Nabi Musa dan putri Nabi Syuaib? Pada Al-Quran surat Al-Qashash ayat 23 sampai dengan ayat 28?

Baca Juga:  Nikmat yang Sering Terabaikan, Padahal Dapat Membahagiakan

Mari kita bahas sedikit demi sedikit mengenai ayatnya!

Pada saat nabi musa sedang melakukan pelarian dari kaum firaun, beliau sampai di dekat sumber air negeri Madyan. Pada saat itu, beliau melihat dua perempuan (putri nabi syuaib) sedang mengarahkan hewan ternaknya untuk menjauh dari sumber air. Padahal, pada saat itu, sedang banyak yang memberikan minum air kepada hewan ternaknya masing-masing.

Melihat hal tersebut, nabi musa bingung dan merasa iba, lalu bertanya “Apakah maksudmu dengan berbuat begitu menghambat ternakmu minum?” Kedua perempuan itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum ternak kami, sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternak mereka. Kami perempuan yang lemah, tidak bisa berdesak-desakan dengan laki-laki dan tidak memiliki saudara pria, sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya, tidak mampu melakukan pekerjaan ini.”

Lalu, nabi musa membantu kedua perempuan tersebut dan ketika sudah selesai mereka (dua perempuan) berterima kasih lalu pulang.

Lalu, nabi musa berteduh dari panasnya matahari dan mengingat nikmat Allah serta bersyukur lalu berdoa untuk meminta rezeki karena beliau dalam keadaan lapar.

Baca Juga:  Tiga Poin Pilihan dalam Hidup Manusia

Saat pulang, dua perempuan tadi menceritakan kebaikan dari nabi musa kepada ayahnya (nabi syuaib).

Lalu, sang ayah meminta salah satu dari putrinya untuk menyampaikan undangan kepada nabi musa untuk datang ke rumahnya.

Berjalan dengan malu-malu, putri nabi syuaib pun menyampaikan undangan yang diberikan oleh ayahnya.

Saat mereka sudah sampai di rumah, sang perempuan pun berkata kepada ayahnya “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja pada kita antara lain menggembalakan ternak kita, karena sesungguhnya dia adalah orang yang kuat dan terpercaya, dan sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita untuk pekerjaan apa pun ialah orang yang kuat fisik dan mentalnya dapat dipercaya.”

Mendengar kode dari anaknya tersebut, nabi syuaib langsung memahami bahwa sang putri sudah mengagumi nabi musa.

Lalu, dengan tanpa segan nabi syuaib langsung menyampaikan “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini yang telah engkau lihat dan kenal sejak di tempat sumber air. Pernikahan itu dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan yang delapan tahun itu menjadi sepuluh tahun secara sukarela maka itu adalah suatu kebaikan darimu, bukan sebuah kewajiban yang mengikat. Dan kendati itu adalah usulan dariku, tetapi ketahuilah bahwa aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Aku akan selalu berusaha menjadi orang yang menepati janji. lnsya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.”

Baca Juga:  Mengapa Manusia Lebih Dipilih sebagai ‘Khalifatul Ardhl’ Daripada Malaikat?

Lalu, nabi musa pun mempertimbangkannya dan menerima usulan tersebut.

Beliau berkata “Itu adalah perjanjian yang adil antara aku dan engkau. Adapun alternatif waktu yang engkau berikan, aku belum bisa memastikannya sekarang, tetapi pada prinsipnya yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka setelah itu tidak ada tuntutan tambahan atas diriku lagi. Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan.”

Melihat yang dilakukan oleh istri nabi musa tersebut, menunjukkan bahwa menjadi perempuan boleh saja menyukai lawan jenis terlebih dahulu, tetapi kita tetap harus menjaga diri.

Jangan sampai mempermalukan diri demi mendapatkan cinta dari sang laki-laki.

Lebih baik, jika memang masih merasa belum setara, maka berusaha untuk memantaskan diri terlebih dahulu.

Lalu, saat sudah siap menikah seperti istri nabi musa, maka dapat disampaikan melalui perantara paman, ayah, atau siapa pun yang dirasa bisa membantu menyampaikan maksud baik tersebut.

Sangat penting bagi perempuan memilki sifat iffah atau  memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Jadi, cegil diperbolehkan dalam islam, tetapi harus tetap menjaga marwah dengan memilki sifat iffah. []Shofiyatul Afiyah

Related Posts

Latest Post