almuhtada.org – Sekali dua kali, bahkan mungkin berkali-kali, kita pernah menghakimi orang lain hanya dari apa yang tampak hari ini.
Mungkin bisa dari potongan kecil cerita yang kita dengar, dari kesalahan lama yang pernah ia lakukan, atau dari citra yang terlanjur melekat di benak kita.
Kita lalu mengunci identitas seseorang pada satu titik waktu, seolah hidupnya berhenti di sana.
Tanpa sadar, kita menutup pintu kemungkinan bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis yang bisa belajar, jatuh, bangkit, dan tentunya bisa berubah.
Padahal, menilai seseorang semata hanya dari masa lalunya adalah bentuk kezaliman yang sering kali terasa halus, namun bisa berdampak besar.
Kita bukan hanya melabeli, tetapi juga merampas hak paling mendasar yang dimiliki setiap manusia, yaitu hak untuk berubah.
Kita lupa bahwa kesalahan hari kemarin tidak selalu mencerminkan pilihan hari ini, apalagi menentukan masa depan.
Seseorang yang pernah salah bukan berarti selamanya akan salah. Seseorang yang pernah jatuh bukan berarti tak pernah bisa bangkit kembali.
Allah Swt. Yang Maha Adil sejak awal telah menanamkan prinsip besar dalam kehidupan manusia bahwa perubahan itu nyata dan selalu mungkin terjadi.
Dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra‘d (13) ayat 11 menegaskan bahwa Allah Swt. tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri yang mengubah apa yang ada dalam diri mereka.
Artinya, perubahan takdir bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba dari luar, melainkan berawal dari gerak batin dari hati yang sadar, dari niat yang jujur, dan dari keberanian untuk memilih jalan yang berbeda.
Perubahan hati adalah titik mula dari segala perubahan. Ia tidak selalu tampak, tidak selalu diumumkan, dan sering kali berlangsung dalam sunyi.
Namun justru di sanalah kekuatannya. Ketika seseorang memutuskan untuk berhenti menyalahkan keadaan, berhenti atas keburukan di masa lalu, dan mulai melangkah meski perlahan, di saat itulah Allah Swt. membuka jalan-jalan yang sebelumnya terasa buntu.
Jalan itu mungkin tidak mudah, tapi selalu ada bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.
Pada akhirnya, segalanya kembali pada pilihan personal masing-masing. Apakah seseorang mau berjuang melawan dirinya sendiri, atau memilih tetap tinggal dalam versi lama yang nyaman namun stagnan.
Perubahan yang tulus tidak lahir dari paksaan, apalagi dari penilaian orang lain, melainkan dari keputusan sadar untuk menjadi lebih baik.
Sebagai sesama manusia, tugas kita bukanlah menghakimi, melainkan memberi ruang-ruang untuk tumbuh, ruang untuk memperbaiki, dan ruang untuk membuktikan bahwa setiap manusia berhak atas masa depan yang lebih baik daripada masa lalunya.[] Aisyatul Latifah










