Hati-Hati Ketika Memuji Karena Dapat Mematahkan Punggung! Inilah Seni Memuji dalam Islam

Ilustrasi atasan yang sedang memuji pegawainya atas pekerjaan sang pegawai. (pexels.com – almuhtada.org)

Almuhtada.org – Sebuah pujian dapat menjadi doa yang mengangkat derajat orang lain, namun juga dapat mematahkan punggung seseorang. Agama islam adalah agama yang sempurna. Islam bahkan mengarahkan kita dengan navigasi kehidupan yang jelas, yang dapat mengubah interaksi biasa menjadi amalan bernilai.

Dalam islam, setiap kebaikan, prestasi, dan sifat terpuji yang ada pada diri kita adalah anugerah dan titipan dari Allah Swt. Mengakui hal ini adalah kunci untuk memuji dan menerima pujian dengan benar.

Allah Swt. berfirman dalam surat An-Najm ayat 32 yang berarti, “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa,”

Ayat ini menguatkan bahwa pujian yang kita terima dari omongan orang lain bukanlah milik kita melainkan pengakuan atas anugerah Allah. Selain itu, ayat ini dapat menjadi dasar dalam prinsip komunikasi dengan konteks memuji orang lain, yakni setiap ucapan yang dilontarkan harus dengan perkataan yang baik, jujur, dan lurus.

Rasulullah memandang sebuah pujian dengan sangat hati-hati, yaitu pujian dengan cara yang salah dapat menimbulkan kerusakan dalam diri seseorang. Seperti hadits nabi, dimana ada seseorang yang memuji orang lain dengan berlebihan, dan rasul pun bersabda, “kalian telah membinasakan (mematahkan) punggung orang itu.” Hadits lain juga ada yang membahas bahaya pujian yang salah.

Hadits-hadits peringatan bukanlah tentang melarang apresiasi, tetapi tentang melindungi kaum muslim dari perilaku ujub atau terkagum dengan diri sendiri, sombong dan perilaku buruk yang merusak.

Baca Juga:  Rahasia Tenteramnya Hati: Manfaat Dzikir Pagi Petang dalam Kehidupan Sehari-hari

Lalu kapan pujian dapat menjadi kebaikan, bukan sebagai bahasa yang dapat merusak diri seseorang? Dalam hadits sebelumnya menggambarkan bahwa ada beberapa larangan dalam memuji. Namun itu bukanlah larangan mutlak. Bahkan Rasulullah pun memuji para sahabatnya karena memang layak diberi pujian. Pujian menjadi tidak haram atau tidak makruh ketika orang yang dipuji memiliki keimanan yang sempurna dan ilmu yang membuatnya tidak akan terfitnah oleh pujian tersebut.

Maka inilah hukum-hukum memberika pujian kepada orang lain:

1. Dianjurkan

Pujian dianjurkan jika tujuannya adalah untuk kebaikan dan memberikan motivasi orang tersebut untuk terus berakhlak mulia. Selain itu, jika pujian diucapkan dengan tujuan untuk menerangkan keutamaan seseorang kepada orang lain sebagai teladan, maka hukumnya juga menjadi dianjurkan.

2. Diperbolehkan

Hukum asalnya adalah boleh yang penting tidak berlebihan dan tidak mengandung kedustaan.

3. Haram

Pujian dapat menjadi haram apabila dikhawatirkan akan membuatnya menjadi sombong, ujub dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Pujian diharamkan pula jika di dalamnya terdapat unsur kedustaan karena termasuk bentuk penipuan.

Pujian seharusnya menjadi hal baik apabila sesuai dengan apa yang Rasulullah ajarkan. yaitu tidak berlebihan, tidak mengandung kedustaan dan untuk memotivasi orang lain agar terus berbuat baik. Dengan kita mengikuti cara memuji yang baik, in syaa allah tujuannya bukan hanya untuk individu namun juga untuk membangun masyarakat yang sehat, tulus dan jujur. Wallahu a’lam bisshowab [Pranita Wulan Andini]

Baca Juga:  Memaknai Musibah dalam Islam

 

Related Posts

Latest Post