almuhtada.org – Fenomena “Melek Walang”: Melihat Tanpa Memperhatikan
Orang yang tidak mengambil pelajaran dalam bahasa jawa disebut dengan “ melek walang” yang berarti orang punya mata namun tidak menggunakan matanya untuk mengaambil pelajaran di sekelilingnya, kenapa dikaitkan dengan belalang?karena belalang memilki indra penglihatnn yang lemah.
Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Q.S Al-ankabut ayat 20
قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ بَدَاَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللّٰهُ يُنْشِئُ النَّشْاَةَ الْاٰخِرَةَۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya : “Katakanlah, Berjalanlah di (muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (semua makhluk). Kemudian, Allah membuat kejadian yang akhir (setelah mati di akhirat kelak). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Dalam surat lain Allah Swt berfirman dalam Q.S Adz-dzariyat ayat 21
وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْن
Artinya: “(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan? ”
Respon anggota tubuh lain saling bertautan yang sakit hanya di gigi, namun lisan juga merespon dengan mengucapkan sakit, respon pipi menjadi bengkak, respon tangan mengusap usap pipi, otak mencari solusi dan kaki berjalan menuju apotik atau klinik.
Konektivitas Tubuh: Saat Satu Saraf Menggerakkan Seluruh Raga
Perumpamaan solidaritas seorang muslim adalah seperti hubungan anatomi tubuh yang saling bertautan jika ada satu anatomi tubuh yang sakit seperti gigi yang berlubang walaupun hanya sedikit tetapi semua anggota tuhuh merasakan sakit yang sama.
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 & Muslim)
Implementasi Ukhuwah: Menjadi “Satu Tubuh” yang Nyata
Rasulullah SAW mengibaratkan kaum mukmin seperti satu tubuh dalam hal rasa kasih (HR. Bukhari & Muslim). Jika satu anggota sakit, yang lain ikut demam dan tidak bisa tidur. Jika konsep anatomi tubuh ini benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sosial, maka:
- Tidak akan ada tetangga yang kelaparan saat kita kenyang.
- Tidak ada anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya.
- Tidak ada saudara kita yang harus tidur di jalanan tanpa perlindungan.
Kesimpulan
Sakit gigi adalah “guru” yang mengajarkan kita dua hal penting: Ketauhidan (mengagumi penciptaan Allah) dan Kemanusiaan (solidaritas sosial). Menjadi seorang Muslim berarti membuang sifat “Melek Walang” dan mulai mengasah kepekaan hati. Jika kita mampu merasakan kepedihan orang lain sebagaimana tangan kita merasakan sakitnya gigi yang berlubang, maka tatanan masyarakat yang sejahtera dan penuh kasih sayang bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan.
[Azizah Fiqriyatul Mujahidah]











