Almuhtada.org – Dalam falsafah Jawa ada sebuah ungkapan“Janmo tan keno kiniro” yang artinya manusia sepenuhnya tidak bisa ditebak atau diduga. Ungkapan ini bukanlah sekedar nasehat agar kita tidak mudah menghakimi ataupun menilai seseorang, namun ternyata didalam pemaknaan kalimat ini ada juga penegasan bahwa hakikat manusia memang kompleks. Ia tidak memiliki kontur yang tampak di permukaan, dan tidak cukup dipahami hanya dari satu sudut pandang.
Filsafat Jawa memandang manusia sebagai makhluk yang berlapis, dimana pendapat ini sebenarnya juga selaras dengan pendapatnya Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Ada raga, yaitu tubuh fisik yang terlihat. Inilah bagian yang paling mudah dinilai, seperrti penampilan, gaya bicara, gestur, dan perilaku. Namun raga hanyalah lapisan terluar manusia. Dibagian tengah manusia ada yang namanya rasa , yaitu kepekaan batin dan intuisi. Rasa membuat seseorang mampu menangkap makna, merasakan harmoni atau ketidaksesuaian, serta memahami sesuatu secara lebih halus dari sekedar berpikir.
Lebih dalam lagi ada cipta , yaitu akal atau daya pikir kita. Cipta inilah yang akan menerima ilmu dan pengetahuan, membuat pertimbangan, dan membantu seseorang mengambil keputusan. Setelah itu ada karsa , yakni kemauan atau dorongan untuk bertindak. Sehebat apapun pikiran seseorang, tanpa karsa ia tidak akan bergerak. Dan lapisan yang paling dalam yaitu sukma atau kita kenal dengan jiwa terdalam, dimensi ruhani yang menjadi pusat kesadaran dan nilai hidup manusia.
Lapisan-lapisan inilah yang menjadikan manusia didalam filsafat jawa disebut sebagai makhluk yang kompleks. Karena manusia itu tidak sesimpel dan sesederhana yang kita lihat. Ketika kita melihat seseorang melakukan suatu tindakan, harusnya kita sadari kalau tindakan itu adalah hasil pertemuan raga, rasa, cipta, karsa, dan kondisi sukma yang mungkin sedang bergejolak. Apa yang terlihat hanyalah ujung dari proses batin yang panjang.
Dalam perspektif keagamaan, manusia juga memahami sebagai makhluk yang memiliki potensi ganda. Ia diberi kemampuan untuk memilih kebaikan, tetapi juga memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Ia bisa berubah, bertumbuh, bahkan berbalik arah. Hari ini ia tampak lemah, besok bisa menjadi kuat. Hari ini salah, besok bisa menegevaluasi dan memperbaiki diri. Semua itu menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis dan terus berproses.
Kesadaran bahwa manusia itu kompleks seharusnya menjadikan kita lebih bijak dalam melihat seseorang. Jangan terburu-buru menyimpulkan hanya dari satu kejadian. Jangan merasa sudah memahami seseorang secara utuh hanya karena melihat sebagian kecil dari hidupnya. Bahkan diri kita sendiri pun sering kali belum sepenuhnya kita kenali.
Oleh karena itu memahami bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks adalah suatu hal yang sangat penting, bukan hanya soal wawasan filsafat, tetapi juga latihan spiritual. Ia mengajarkan kerendahan hati, empati, dan kehati-hatian dalam menilai seseorang disekitar kita. Karena pada kenyataannya, setiap manusia menyimpan sesuatu yang tidak selalu terlihat oleh mata. [Sahrul Mujab]











