Ketahuilah Efek Membeberkan Dosa Saudaramu!

Gambar seorang anak laki-laki yang menunjukkan ekspresi kelelahan batin. (www.freepik.com-almuhtada.org)

Almuhtada.org – Bayangkan di malam hari ini kamu tertidur pulas, padahal nyawamu hanyalah titipan Allah. Bayangkan pula esok hari kamu masih bisa tertawa lepas padahal Allah hanya sedang menutup aibmu.
Tidak ada yang tahu. Manusia lebih sering mengulang dosanya dibandingkan taubatnya. Manusia lebih sering membeberkan cerita kelam saudaranya daripada dirinya sendiri. Maka, disinilah poin pentingnya, banyak manusia tergelincir masuk ke dalam lubang dosa yang sama.
Dalam pandangan Islam, dosa tidak hanya mengikat pada perbuatan manusia saja. Melainkan juga bagaimana cara seseorang bersikap setelah berbuat. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa seluruh umatnya berpeluang mendapat ampunan, kecuali mereka yang terang-terangan dalam bermaksiat
Ketika seseorang melakukan maksiat di situlah Allah ta’alaa sedang menutupi aibnya. Namun, terkadang manusia itu sendirilah yang membukanya. Seseorang yang berbuat dosa kemudian bertaubat, maka ia tidak boleh menceritakan dosa tersebut.
Perlu diketahui bahwa membuka aib bukanlah sikap rendah hati atau kejujuran spiritual. Melainkan bentuk penentangan terhadap al-‘afiyah atau harapan untuk keselamatan dan ampunan.
Fenomena yang terjadi di sekitar kita adalah mujarah atau pamer dosa. Seseorang menunjukkan sisi buruknya di masa lalu dan ini bukanlah tanda taubat. Efek sampingnya adalah menormalisasikan dosa bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain.
Fenomena lain muncul ketika seseorang meminta saudaranya untuk bercerita akan dosanya. Kemudian, ketika ia bercerita meyelipkan nama Allah di dalamnya. Jelas salah, hal tersebut tidak sah secara moral maupun syar’i.

Baca Juga:  Cara Sholat Taubat Paling Mudah

Rasulullah Saw. dengan jelas mengatakan bahwa tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Bertanya tentang dosa orang lain jelas bukan kebutuhan, melainkan sekadar rasa ingin tahu.
Dalam kondisi tersebut, seorang muslim tidak memiliki kewajiban untuk menjawab. Bahkan jika pertanyaan itu mengatasnamakan Allah. Karena tidak ada ketaatan dalam perkara yang membawa mudarat dan kedzaliman.
Sebagai penutup, anggapan bahwa mengungkap dosa kepada orang lain adalah hal yang menyimpang. Meskipun diniatkan untuk mendapatkan ampunan di hari kiamat tetap saja salah. Ampunan Allah datang melalui pintu taubat yang nasuha atau sungguh-sungguh. Bukan dengan membuka aib masa lalu tetapi menutupnya dan bersegera kembali pada Allah Swt.[] Lailia Lutfi Fathin

Related Posts

Latest Post