Zuhud dan Media Sosial: Antara Memberi Contoh atau Mencari Pujian

Ilustrasi seseorang yang sedang memposting kehidupannya di sosial media (pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Salah satu fenomena yang kini marak terjadi adalah tren menampilkan kesederhanaan atau perilaku yang tampak seperti “zuhud”. Namun, muncul sebuah pertanyaan besar: Apakah kita sedang berusaha memberi contoh kebaikan, atau justru sedang haus akan pujian?

Kata zuhud berasal dari bahasa Arab  زَهَدَ-يَزْهَدُ-زُهْدًاyang berarti meninggalkan, berpaling, menjauhkan diri, atau tidak menyukai sesuatu. Sedangkan secara istilah, zuhud adalah tidak terikat pada dunia dan menggunakannya hanya sebagai bekal ibadah.

Orang yang zuhud adalah mereka yang memiliki harta namun tidak membiarkan harta tersebut menguasai hatinya. Ia merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak haus akan pengakuan manusia. Fokus utamanya adalah ridha Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ ۝٢٣

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Ayat ini mengajarkan bahwa inti dari zuhud adalah keseimbangan hati. Namun, ketika konsep ini dibawa ke media sosial seperti Instagram atau TikTok, maknanya bisa beda tipis dan membingungkan.

Seperti halnya banyak dari kita yang mengunggah foto saat sedang bersedekah, duduk di majelis ilmu dengan pakaian sederhana, atau menulis caption religius yang merendah. Alasan yang paling sering muncul adalah ingin memberi inspirasi atau syiar. Memang benar, memperlihatkan kebaikan bisa menjadi pahala jika niatnya tulus untuk mengajak orang lain.

Baca Juga:  Adab Berdoa: Rahasia Dibalik Terkabulnya Sebuah Doa

Namun, media sosial memiliki sisi lain yang sangat menggoda hati manusia, seperti: fitur like, jumlah viewers, dan kolom komentar. Fitur-fitur ini secara tidak sadar menciptakan kebutuhan akan validasi atau pengakuan dari orang lain. Di sinilah letak bahayanya. Ketika seseorang merasa senang dan bangga saat dipuji sebagai orang yang sederhana atau alim, maka hakikat zuhud yang sebenarnya sudah mulai terkikis.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW dalam salah satu hadis tentang riya’ atau pamer:

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya (pamer).” (HR. Ahmad)

Riya’ dalam konteks media sosial bisa berbentuk hal yang sederhana, seperti merasa lebih baik dari orang lain karena mampu hidup sederhana, dan memamerkan kesederhanaan itu agar dianggap suci.

Lalu bagaimana cara kita membedakan apakah unggahan kita adalah inspirasi atau sekadar cari perhatian? Jawabannya ada pada kejujuran hati nurani kita masing-masing. Jika kita merasa kecewa, sedih, atau merasa rugi karena sudah berbuat baik tapi tidak diketahui orang, maka bisa jadi ada benih riya di dalam hati kita. Sebaliknya, orang yang benar-benar zuhud akan merasa bahwa cukup Allah SWT yang tahu kebaikannya.

Zuhud di era modern bukan berarti kita harus menghapus akun media sosial atau membuang semua barang bagus yang kita punya. Zuhud adalah tentang keberanian untuk menjaga privasi antara kita dan Allah SWT. Tidak semua hal baik perlu diketahui publik, karena ada keindahan tersendiri dalam kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Baca Juga:  Upaya Memerangi Disinformasi

Kesederhanaan adalah suatu kemuliaan, tetapi menunjukkan kesederhanaan untuk mendapatkan pujian adalah sebuah beban pikiran. Oleh karena itu, mari kita gunakan media sosial dengan sewajarnya, dan biarkan kesederhanaan hidup menjadi rahasia antara kita dengan Allah SWT. [Maulida Auliyah]

Related Posts

Latest Post