Ketika pakaian Thrifting Membunuh Ekonomi Dan Ekologi

Ilustrasi penjual baju thrifting (sumber pribadi - almuhtada.org)

almuhtada.org – Pakaian bekas atau thrifting saat ini ramai digandrungi oleh anak muda, ini menjadikanya tren dengan peminat cukup masif. Di indonesia sendiri kebanyakan orang lebih memilih thrifting dibandingkan membeli pakaian baru jika kualitas dan jenis barang sama, lalu dengan thrifting juga bisa membeli barang branded dengan harga lebih terjangkau dibandingkan membeli secara baru, sebagian orang juga beranggapan bahwa thrifting dapat mendukung gerakan sustainable fashion atau fashion berkelanjutan yang dapat mengedepankan nilai nilai lingkungan dan kemanusiaan.

Thrift artinya irit atau hemat dalam bahasa inggris, sedangkan thrifting sendiri kegiatan berburu barang thrift, bisa melalui pasar online ataupun pergi langsung ke pasar pasar barang bekas. Walaupun thrifting sudah lama eksis tetapi akhir akhir ini mulai banyak sekali bisnis barang thrift bermunculan, berbagai macam patform sosial media tentunya membuat eksistensi thrifting semakin berkembang pesat, salah satunya facebook, dimana facebook sendiri memberikan banyak fitur jual beli barang bekas untuk pengguna.

Walaupun populer, thrifting mulai menunjukan dua sisi tajamnya seperti pisau bermata dua, di satu sisi, thrifting dapat membantu orang orang kalangan bawah tetap trendi agar tampil fashionable tetapi di satu sisi thrifting secara ekonomi mulai menjatuhkan beberapa industri tekstil lokal, juga secara ekologi limbah pakaian yang semakin bertambah setiap harinya akibat budaya fast fashion atau sering mengganti pakaian karena bosan ataupun selalu tampil berbeda, juga karena siklus trend mode yang begitu cepat berganti setiap harinya.

Baca Juga:  BERSYUKURLAH

Ironisnya sekarang dalam dunia ekonomi,thrifting mulai menggeser bisnis tekstil lokal, masyarakat dalam jumlah besar lebih memilih barang bekas yang secara produksi berasal dari luar negara, sehingga produk lokal semakin dipandang sebelah mata karena produk thrifting itu sendiri adalah produk branded. Sebagian besar barang bekaspun juga berasal dari sampah sampah negara besar yang over supply sehingga semakin menggeser ekonomi lokal dan meningkatkan ekonomi negara besar.

Kemudian thriting juga mulai masif mencemari ekologi, menurut komisi ekonomi perserikatan bangsa bangsa eropa 85% produk tekstil selalu berakhir ke

Pembuangan sampah, ini sama saja dengan buang buang uang. Sebagian besar hanya menjadi limbah karena minimnya daur ulang bahkan di negara besar sekalipun. Tidak jarang juga dalam tempat pembuangan limbah tekstil juga di buang begitu saja karena over supply, bahkan limbah tekstil terkadang lebih banyak dari bermacam jenis limbah karena susahnya dan kurangnya alternatif untuk daur ulang, selain itu juga limbah cair dari industri tekstil masih tergolong cukup rendah mendapat perhatian, banyak dari beberapa industri tekstil membuang limbah cair begitu saja tanpa proses pemurnian ke saluran air umum yang sangat meningkatkan resiko air tanah terkontaminasi dan biota, juga ini sangat merusak beberapa ekosistem alami, seperti sungai, laut, muara, dan hulu sungai. [Nafis Naufal Al Bana]

Baca Juga:  Menjauhi Riba Mewujudkan Hidup Yang Sejahtera

Related Posts

Latest Post