Pendakian Gunung sebagai Media Tafakur dan Penguatan Nilai Keislaman

Gambaran orang yang sedang mendaki gunung (Freepik.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Pendakian gunung belakangan ini amat digemari generasi muda. Mungkin bukan hanya belakangan ini, bisa jadi dari dulu sudah banyak yang menyukai mendaki gunung, tetapi tidak terekspos ke media sosial seperti sekarang ini. Mendaki gunung bisa menjadi sarana menenangkan diri di tengah kesibukan duniawi yang semakin hari terasa semakin berat untuk dilalui. Selain hal itu, banyak tujuan lain generasi muda mendaki gunung, entah itu fenomena FOMO yang belakangan marak diperbincangkan atau sebagai bentuk tafakur terhadap nikmat Allah.

Ketika mendaki gunung, kita akan lebih dekat dengan Allah, melihat bagaimana kebesaran Allah hingga menciptakan alam yang seindah itu. Kita akan disadarkan bahwa hal-hal yang biasa kita banggakan dan sombongkan tidak ada artinya dibanding kebesaran Allah. Hal ini sejalan dengan QS. Ali Imran ayat 190-191 berikut ini:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran: 190 – 191)

Baca Juga:  Capek? Bertahanlah! Dunia Memang Tempatnya Capek

Selain tafakur, terdapat nilai-nilai keislaman lain yang bisa kita dapat ketika mendaki. Mendaki bisa mengingatkan tauhid, yang artinya alam sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah. Mendaki juga mengajarkan sabar dan istiqamah ketika menjalankan trek pendakian. Selain itu, mendaki bersama-sama mengajarkan kerja sama tim dan saling menolong, di mana hal tersebut berkaitan dengan ukhuwah Islamiyah.

Hanya saja, tidak dipungkiri bahwa segelintir orang menyalahgunakan pendakian gunung untuk kepentingan pribadi yang tidak baik, seperti mengejar kesyirikan, liburan bersama pasangan yang bukan mahram, dan hal-hal buruk lain. Padahal, pendakian gunung sejatinya bukan menjadi media perbuatan buruk, melainkan dapat menjadi media tafakur yang bermakna apabila dilandasi dengan niat yang benar dan etika keislaman. Keindahan dan tantangan alam seharusnya mengantarkan manusia pada kesadaran akan kebesaran Allah, memperkuat nilai-nilai tauhid, kesabaran, istiqamah, dan ukhuwah Islamiyah. [Nathasya Putri Ratu]

Related Posts

Latest Post