almuhtada.org – Siapa di antara kalian yang sudah menonton film Marvel terbaru, “Thunderbolts” (atau setidaknya tahu karakternya)? Pasti tidak asing dengan sosok Sentry.
Dalam semesta Marvel, Sentry (Robert Reynolds) digambarkan sebagai superhero dengan kekuatan setara “satu juta ledakan matahari”.
Dia adalah definisi “Isi” yang sempurna: kuat, bercahaya, dan dianggap sebagai pahlawan terhebat.
Namun, di balik segala kehebatannya itu, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan bernama The Void.
The Void adalah alter-ego jahat yang lahir dari ketakutan dan trauma Sentry sendiri. Semakin keras Sentry berusaha menjadi pahlawan sempurna (memaksakan diri menjadi “Isi”), semakin kuat pula The Void (si “Kekosongan” yang menghancurkan) muncul untuk menyeimbangkannya.
Sentry gagal berdamai dengan dirinya sendiri, sehingga ia dikuasai oleh kekosongannya.
Kasus Sentry ini mengingatkan pada sebuah nasihat jalanan yang terdengar sederhana tapi menohok, dari seorang Pedagang Bakso Bakar:
“Jangan kau pahami isi karena akan dapat kosong, pahamilah kosong maka kau akan dapat isi.”
Mari kita bedah kenapa Sentry adalah contoh nyata dari kegagalan memahami nasihat ini.
Mengapa Sentry menjadi The Void?
Sentry terobsesi untuk selalu menjadi “Golden Guardian of Good“. Dia ingin selalu terlihat penuh: penuh kebaikan, penuh kekuatan, penuh kepahlawanan.
Namun, nasihat si Penjual berkata: “Jangan kau pahami isi karena akan dapat kosong.”
Karena Sentry terlalu fokus mengejar “Isi” (validasi, citra pahlawan sempurna) dan menyangkal sisi manusianya yang rapuh, ia justru menuai “Kosong”.
Kekuatan besarnya menjadi percuma karena mentalnya keropos.
Ia menjadi cemas, takut, dan akhirnya menciptakan monsternya sendiri. Semakin ia ingin “penuh”, semakin ia merasa hampa.
Dalam hidup, ini sama seperti kita yang terlalu mengejar jabatan, pujian, atau pencitraan “si paling tahu”.
Kita sibuk mengisi kulit luar, tapi batin kita justru berlubang menjadi Void bagi diri sendiri.
Bagaimana dalam Perspektif Islam?
Konsep “memahami kosong” ini sebenarnya sangat dekat dengan ajaran Islam tentang adab menuntut ilmu. Seorang Muslim diajarkan untuk memiliki mental gelas kosong.
Imam Syafi’i, salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam, pernah berkata dengan sangat indah:
“Setiap kali ilmuku bertambah, bertambah pula aku tahu akan kebodohanku.”
Inilah definisi “Kosong dapat Isi”. Semakin seseorang berisi (berilmu), seharusnya ia semakin merasa kosong (rendah hati/tawadhu).
- Musuh Ilmu adalah “Merasa Tahu”: Dalam Islam, penyakit hati yang paling berbahaya bagi penuntut ilmu adalah Kibr (sombong). Jika kita merasa sudah “penuh” dan pintar, cahaya ilmu Allah tidak akan bisa masuk. Hati yang sombong itu ibarat bejana tertutup; dituangkan air sebanyak apapun (nasihat/ilmu), ia akan tetap kering di dalam.
- Haus yang Tak Pernah Padam: Seorang Muslim sejati tidak pernah “kenyang” akan ilmu. Rasulullah S mengajarkan doa “Rabbi zidni ‘ilman” (Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku). Kata “tambahkan” menyiratkan bahwa kita selalu kurang, selalu butuh, dan selalu “kosong” di hadapan samudra ilmu Allah yang tak bertepi.
Jika Sentry memiliki kerendahan hati mengakui bahwa dirinya tidak sempurna dan butuh pertolongan, mungkin The Void tidak akan pernah menguasainya.
Belajar dari Sentry dan nasihat Penjual Bakso Bakar, mari kita ubah cara pandang kita.
Jangan jadi bendungan yang kaku menahan air hingga jebol (seperti Sentry), tapi jadilah gelas yang terbuka. Kosongkan hati dari rasa “paling benar” dan “paling suci”.
Ingatlah firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 85: “Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Dengan menyadari “sedikit” itu, kita justru akan mendapatkan banyak hikmah, banyak ketenangan, dan terhindar dari The Void dalam diri kita sendiri. [] Raffi Wizdaan Albari











