almuhtada.org – Sadar atau tidak, banyak orang berusaha menjadi pribadi yang selalu baik dan selalu mengalah demi diterima di lingkungannya. Fenomena ini dikenal sebagai people pleaser, sikap berlebihan dalam menyenangkan orang lain hingga mengorbankan diri sendiri. Sekilas tampak mulia, namun jika dibiarkan, justru dapat merugikan diri sendiri dalam jangka waktu yang lama.
Islam memang mengajarkan akhlak mulia dan kepedulian terhadap sesama. Namun, kebaikan dalam Islam tidak berarti menghapus batasan dalam menyenangkan hati orang lain. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.”(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa menjaga diri, baik fisik maupun mental, merupakan kewajiban. Maka, mengorbankan diri demi validasi sosial bukanlah bentuk kebaikan yang diajarkan Islam.
Salah satu akar masalah people pleaser adalah orientasi hidup yang keliru, yaitu ketika ridha manusia lebih diutamakan daripada ridha Allah.
Rasulullah mengingatkan:
“Barang siapa mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya.”(HR. Tirmidzi)
Hadis di atas mengajarkan bahwa tidak apa jika ingin terlihat baik di mata manusia, tapi jangan sampai yang kita anggap kebaikan justru melenceng dari aturan Allah. Ayat Al-Qur’an juga menegaskan bahwa penilaian manusia bukanlah tujuan utama kehidupan seorang Muslim. Allah berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Menjadi pribadi yang baik tidak harus selalu berkata “iya”. Dalam Islam, berkata jujur dan menjaga prinsip adalah bagian dari akhlak. Bahkan, menolak dengan cara yang baik jauh lebih terhormat daripada menerima dengan keterpaksaan dan keluhan di belakang orang yang kita iyakan kemauannya.
Fenomena people pleaser seharusnya menjadi bahan muhasabah.
Apakah kebaikan yang kita lakukan benar-benar lahir dari keikhlasan, atau justru dari ketakutan akan penolakan? Islam mengajarkan keseimbangan, artinya berbuat baik tanpa melampaui batas, peduli tanpa menyakiti diri sendiri. []Nathasya Putri Ratu









