almuhtada.org – Sebagian dari kita tentu sangat sering memohon doa kepada Allah Swt. Setiap selesai salat, tangan terangkat dan bibir bergetar memohon, “Ya Allah, ampuni dosaku. Ya Allah, mudahkan urusanku setelah ini. Ya Allah, tutuplah aib dan kekuranganku.” Doa-doa itu terdengar seolah menjadi pengakuan bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Allah Swt.
Namun, sering kali di saat yang sama, ada hal penting yang luput dari kesadaran kita. Kita meminta maaf, tetapi enggan memaafkan. Kita memohon kemudahan, tapi justru mendatangkan urusan orang lain. Kita berharap aib kita ditutup rapat oleh Allah Swt., sementara lisan dan jari kita ringan mengumbar kekurangan sesama. Tanpa disadari, ada ketimpangan antara apa yang kita minta kepada Allah Swt. dan bagaimana kita memusatkan perhatian kepada manusia.
Padahal, dalam Islam terdapat sebuah prinsip penting yang sering dilupakan, yaitu hukum balasan sesuai jenis amal, khususnya dalam hubungan sosial. Cara kita memperlakukan orang lain bukan sekedar urusan antar manusia, melainkan juga cerminan bagaimana kita ingin diperlakukan oleh Allah Swt.
Salah satu kisah yang sangat kuat menggambarkan hal ini adalah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra Beliau pernah bersumpah untuk menghentikan bantuan kepada salah satu kerabatnya yang telah menyebarkan fitnah keji. Secara manusiawi, keputusan itu terasa wajar. Siapa yang tidak kecewa dan terluka ketika kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan?
Namun, Allah Swt. menurunkan sebuah ayat yang menggugah hati dan mengubah cara memandang kita tentang memaafkan. Dalam Surat An-Nur ayat 22, Allah Swt. menegur dengan lembut namun tegas, agar orang-orang yang diberi kelapangan rezeki tetap memberi dan memaafkan. Alasannya bukan karena orang yang berdosa itu layak dimaafkan, melainkan karena kita sendiri membutuhkan ampunan Allah Swt. “Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?” demikian makna yang terkandung dalam ayat tersebut.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa memaafkan bukan soal siapa yang paling benar atau paling salah. Memaafkan adalah tentang kesadaran bahwa kita semua penuh dosa dan sangat bergantung pada rahmat Allah Swt. Abu Bakar ra pun akhirnya melanjutkan bantuannya, bukan karena fitnah itu hilang, tetapi karena ia lebih menginginkan ampunan Allah Swt. Daripada mempertahankan kemarahannya.
Jika selama ini kita sering mendengar nasihat, “Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan”. Lakukan orang lain dengan baik, karena itulah yang akan Allah Swt. gunakan untuk memperlakukan kita. Allah SWT. “men-treat” hamba-Nya sejalan dengan bagaimana hamba tersebut berdoa kepada sesama.
Seakan Allah Swt. sedang mengingatkan, “Kamu ingin dosamu diamuni? Mulailah dengan memaafkan orang lain. Kamu ingin urusanmu dimudahkan? Mudahkanlah urusan saudaramu. Kamu ingin aibmu menutupi? Jagalah lisan dan sikapmu dari membuka aib sesama.” Dari pengampunan ampunan dan rahmat Allah Swt. mengalir. Wallahu A’lam Bishawab. [] Aisyatul Latifah










