Lebih Baik Tidak Bersedekah, Daripada Akhirnya Mengucapkan Hal Semacam Ini

Ilustrasi gambar bersedekah (Pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Sedekah selalu dipahami sebagai perbuatan baik yang mendatangkan pahala dan kebaikan bagi orang lain. Namun, ada satu hal penting yang sering kali terlupakan, yakni bagaimana menjaga hati saat memberi. Banyak orang merasa telah melakukan kebaikan besar ketika membantu orang lain, apalagi jika bantuan itu berhasil menyelamatkan seseorang dari kesulitan. Tetapi, tanpa disadari, kebaikan tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan ketika diiringi dengan ungkapan yang merendahkan penerimanya.

Bayangkan ketika ada seseorang datang kepada kita, meminta bantuan untuk biaya rumah sakit anaknya yang tengah kritis. Hati siapa yang tidak tergugah? Karena mampu, kita akhirnya memberikan bantuan. Beberapa waktu kemudian, anak tersebut sehat kembali. Saat bertemu lagi, tiba-tiba kita mengucapkan, “Oh ini anak yang sakit waktu itu? Untung dulu aku bantu. Coba kalau tidak, entah bagaimana nasibmu sekarang.” Sekilas terdengar biasa saja, tetapi sesungguhnya kalimat semacam itu bagaikan luka baru bagi orang yang pernah merasakan kesedihan terdalam.

Kalimat itulah yang menghapus esensi sedekah. Karena sebenarnya saat kita menolong, kita bukanlah penentu takdir. Kita hanya menjadi perantara kebaikan yang Allah Swt. titipkan. Kita tidak pernah benar-benar punya kemampuan apa pun jika bukan karena izin-Nya. Sedekah seharusnya melatih hati agar rendah, bukan semakin tinggi kepala. Yang diterima bukan sekadar uang atau bantuan, tetapi juga rasa aman dan ketulusan.

Baca Juga:  Warisan Seni Kaligrafi yang Menginspirasi Dunia

Islam mengajarkan bahwa memberi itu ibarat menanam. Bila sebuah tanaman tumbuh indah, itu bukan hanya karena benihnya, tetapi karena Allah Swt. yang menumbuhkan. Maka ungkapan yang menyakitkan bisa menjadi racun yang merusak pohon kebaikan yang telah kita tanam. Bahkan Rasulullah SAW. telah mengingatkan bahwa mengungkit-ungkit pemberian termasuk perbuatan yang menghapus pahala sedekah. Artinya, sedekah bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang bagaimana cara hati menjaganya.

Jadi, ketika kita berniat menolong, tanyakan pada diri sendiri “Apakah pertolongan ini benar-benar karena Allah Swt. atau karena ingin terlihat baik? Apakah kita memberi untuk membantu, atau untuk memiliki alasan menyombongkan diri di kemudian hari?” Jika jawabannya masih bercampur dengan keinginan dipuji, mungkin lebih baik menahan diri sambil memperbaiki niat. Sebab, lebih baik tidak bersedekah daripada bersedekah lalu mengungkit hingga menyakiti hati.

Pada akhirnya, sedekah adalah latihan berperikemanusiaan. Kita menolong bukan karena kita lebih hebat, tetapi karena suatu hari kita pun mungkin akan membutuhkan pertolongan orang lain. Dan saat hari itu tiba, kita akan mengerti bahwa yang paling menyelamatkan bukan semata bantuan materi, tetapi ketulusan yang melekat di baliknya. Semoga setiap sedekah menjadi jalan memperhalus hati, bukan sebaliknya. [] Aisyatul Latifah

 

 

Related Posts

Latest Post