Harmoni Umat: Menjauhi Saling Ejek dan Hina dalam Pemahaman Islam

Ilustrasi Gambar Orang Yang saling Ejek dan Hina (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Berkembangnya teknologi yang semakin pesat saat ini membuat manusia dimudahkan dalam mendapatkan beragam informasi hangat dengan cepat.

Tidak jarang, informasi yang dihadirkan tersebut menimbulkan berbagai perbedaan prinsip atau cara pandang antar satu dengan yang lainnya. Misalnya yang sedang hangat saat ini terkait proses Pemilihan Presiden (Pilpres).

Beberapa kali setelah diadakannya debat Capres maupun Cawapres, para pendukung masing-masing calon saling adu argumen di kanal media sosial.

Tidak sedikit juga diantara mereka terlibat saling ejek bahkan merendahkan pasangan lain. Semestinya ajang demokrasi ini dijadikan sebagai strategi untuk meningkatkan kerukunan umat secara komprehensif.

Perbedaan dalam konteks dukungan kepada para Capres dan Cawapres adalah hal yang wajar dalam proses demokrasi. Namun, ketika perbedaan itu menimbulkan sikap saling ejek dan hina adalah tidak dibenarkan.

Meskipun mungkin tidak disadari secara langsung, praktek saling ejek dan umpatan sebenarnya telah memberikan dampak negatif yang signifikan.

Sebagai contoh, perbedaan dalam pilihan politik dapat menghambat interaksi sosial dan komunikasi yang sehat. Perbedaan dalam ras dan golongan bisa merangsang rasa curiga di antara kita.

Ketidaksepahaman dalam hal agama dapat memicu saling menyalahkan, bahkan mencapai tingkat pemutusan hubungan dan penuduhan tak sesuai keyakinan.

Jika perilaku ini terus berlanjut, dapat membawa dampak yang merugikan bagi masa depan bersama sebagai bangsa Indonesia.

Baca Juga:  Anjuran Merapatkan Shaf Saat Sholat Berjamaah

Islam secara prinsip melarang bagi umatnya untuk saling mengejek dan merendahkan, baik dalam interaksi antar sesama Muslim maupun dengan penganut agama lain.

Dalam relasi antara sesama Muslim, melakukan caci maki atau merendahkan adalah perbuatan yang dikecam. Meskipun terdapat perbedaan, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mengejek.

Melainkan sebaliknya, perbedaan harus disikap dengan musyawarah, pemahaman, dan nasihat yang saling berbagi.

Mengenai hal ini, Rasulullah saw pernah menyampaikan bahwa karakter seseorang dapat tercermin dari kebiasaannya.

Kesan rendah diri muncul saat seseorang dengan mudah merendahkan martabat orang lain. Sebaliknya, tingginya derajat seseorang dapat diukur dari sikap menghormati sesama, termasuk dalam menghargai pendapat dan keberadaan orang lain.

Hal ini termaktub dalam Kitab Sunan Ibni Majah karya Imam Ibnu Majah (207-275), dengan sumber dari sahabat Abi Hurairah, yang artinya:

“Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah keburukan seseorang jika ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Hal tersebut memberi pemaknaan bahwa apabila seseorang merendahkan saudaranya terlebih itu adalah sesama muslim maka terdapat keburukan di dalamnya. Dengan demikian, penting untuk bersikap saling menghormati dan tidak diperkenankan bersikap saling merendahkan.

Manusia adalah tempatnya salah. Jika terdapat kesalahan dan kekhilafan sesama muslim, seyogianya kita memiliki peran untuk mengingatkan dan menasehati.

Tindakan ini pun harus dilakukan dengan cara yang baik dan memanusiakan manusia. Upaya untuk saling menasehati tidak boleh dilakukan secara keras apalagi tidak beradab.

Baca Juga:  7 Reminder yang Bisa Bikin Kamu Kecanduan Shalat!

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S. al-Nahl: 125).

Konsep saling menasehati dan mengingatkan begitu penting diimplementasikan sebagai upaya menepiskan sikap saling ejek atau merendahkan.

Ketika kita melihat sesama saudara muslim maupun nonmuslim sedang bersikap saling ejek maupun merendahkan orang lain, kita patut untuk menasehatinya dengan cara yang baik-baik.

Hal ini juga sebagai salah satu bentuk sikap saling mencintai antar umat dengan mengarahkan kepada jalan kebaikan.

Terakhir, dapat ditegaskan bahwa perbedaan merupakan keniscayaan. Keberagaman di Indonesia seharusnya menjadi landasan bagi kolaborasi yang erat dan saling mendukung.

Pertukaran ide dan gagasan harus menjadi sarana untuk memajukan bangsa. Jika ada perbedaan pendapat, penyelesaiannya sebaiknya dilakukan dengan cara yang berkelas, misalnya dengan dialog atau bermusyawah.

Kritik memiliki peran penting, tetapi kritik yang bersifat konstruktif, bukan sekadar kritik yang bernada merendahkan. [] Maulana Junaedi

Editor : Moh. Aminudin

Related Posts

Latest Post