Badiuzzaman Said Nursi: Pemikiran dan Karyanya Yang Tak Lekang Oleh Zaman

Badiuzzaman Said Nursi Ulama Besar dari Turki
Badiuzzaman Said Nursi Ulama Besar dari Turki (Pinterest - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Badiuzzaman Said Nursi merupakan seorang ulama dan mujahid yang hidup pada masa Kekuasaan Pemerintah Utsmani hingga Pemerintahan Kemal Attarturk di Turki. Beliau lahir pada tahun 1877 di Desa Nurs, Provinsi Bitlis, Anatolia Timur.

Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye, kedua orang tua Syekh Said Nursi dikenal sebagai pribadi yang saleh sehingga tidak heran jika beliau tumbuh menjadi ulama yang lantang membela agama Allah.

Dimulai dari usia yang masih muda Badiuzzaman Said Nursi sudah mampu menguasai berbagai kitab dan ilmu pengetahuan, bahkan ketika usianya masih 15 tahun beliau mampu menamatkan banyak kitab dalam waktu yang cukup singkat. Keistimewaan ini membawa dampak baik bagi perkembangan Said Nursi muda.

Namun, disisi lain banyak pihak yang iri terhadap kemampuan Said muda dalam menguasai ilmu tak terkecuali beberapa ulama di Turki.

Perjalanan beliau menimba ilmu dari satu guru ke guru yang lain tidaklah mudah, banyak sekali rintangan yang dihadapi Syekh Said Nursi. Ditambah lagi kala itu beliau hidup diantara zaman runtuhnya Utsmani (Masa Sultan Abdul Hamid II) dan berdirinya pemerintahan sekuler di Turki.

Hal ini menjadi tantangan yang harus dilalui Syekh Said Nursi dalam berdakwah mempertahankan fitrah islam ditengah pemikiran sekuler masyarakat Turki saat itu. Bertahan dari berbagai permusuhan, baik itu dari pemerintah hingga para ulama yang tidak senang dengan Syekh Said Nursi.

Baca Juga:  The Love Story of the Prophet's Friend Handzalah and Jamilah

Dipenjara dan diasingkan dari satu tempat ke tempat lain tidak menjadikan padamnya semangat tauhid di hati beliau. Justru dari perjalanan yang sulit inilah cinta beliau terhadap agama Allah semakin dalam. Hingga atas perjuangan dan prestasinya itulah beliau dijuluki ”Badiuzzaman” yang berarti keajaiban zaman.

Berikut ini beberapa pemikiran beliau yang bisa menjadi motivasi bagi kita agar senantiasa menjadi muslim yang kuat dan taat serta memiliki wawasan yang luas.

  1. Memiliki sikap rendah hati

Badiuzzaman Said Nursi merupakan pribadi yang dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Sebagai seorang murid dan guru beliau tidak pernah menyombongkan kelebihannya dalam berilmu.

Hal ini tercermin dalam perkataan beliau “Khasiat anggur lezat tidak dicari pada tangkainya yang kering, maknanya akulah tangkai kering itu sedangkan anggur segar adalah Al-Qur’anul Karim”.

  1. Berani dan Tegas

Ulama yang berani menentang pemahaman liberal dan sekuler yang berkembang di Turki adalah Badiuzzaman Said Nursi. Beliau banyak menyuarakan tentang bahayanya kedua aliran tersebut jika sampai masuk ke dalam masyarakat Turki.

Ini terbukti dengan runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah di tahun 1924 hingga berdirinya Pemerintahan Sekuler. Dari kondisi ini menjadi titik balik bagi islam dalam mempertahankan fitrahnya.

Sebagai ulama beliau menjadi garda terdepan dalam membela dan mempertahankan nilai-nilai islam, tak kenal takut hingga dipenjara dan diasingkan. Badiuzzaman pernah berkata ”Keberanian tidak membuat orang cepat mati dan ketakutan tidak membuat orang dekat dengan ajal”.

  1. Rela Berkorban Demi Agama dan Tanah Airnya
Baca Juga:  Kisah Tauladan: Imam Malik dan Kumpulan Santri Malas

Badiuzzaman Said Nursi berkata “Andai saya punya seribu nyawa, akan saya korbankan satu persatu untuk agamanya Allah”.

Mengindikasikan bahwa beliau adalah orang yang rela mengorbankan apa saja demi mempertahankan agama Islam ditengah kedzaliman rezim liberal dan sekuler di Turki.

Bahkan beliau senantiasa mengingatkan murid dan pengikutnya yang bejihad untuk jauh dari perilaku maksiat karena hal ini bisa berakibat buruk bagi masyarakat Turki dan seluruh muslim yang ada di dunia “wahai para tentara yang bertauhid 1 kali kalian bermaksiat 30 juta warga turki dan 300 juta umat islam akan merasakan akibatnya”

  1. Al-Qur’an dan Sains Tak Dapat Dipisahkan

Badiuzzaman Said Nursi dikenal sebagai ulama yang sangat mencintai Al-Qur’an. Bahkan beliau memiliki pemikiran bahwa Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Berbeda halnya dengan pemikiran sekuler yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Padahal keduanya seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan jika disatukan akan membentuk peradaban yang berkualitas.

Dan kondisi ini yang menjadikan beliau lebih semangat untuk membuat suatu kurikulum Pendidikan yang menggabungkan ilmu Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.

  1. Riyadoh (Tirakat)

Sederhana dalam berpakaian, tidak berlebihan dalam makan dan senantiasa puasa sunnah merupakan usaha beliau untuk mencapai sikap riyadoh. Sikap ini adalah kunci utama dalam sukses menuntut ilmu.

  1. Berdakwah dan Berjihad
Baca Juga:  Inilah Tiga Cobaan Ketika Seseorang Menjauhi Ulama

Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim bahkan kalau bisa dakwah harus diimbangi dengan jihad. Perjalanan dakwah yang dilalui Badiuzzaman Said Nursi tidaklah mudah apalagi beliau menghadapi orang-orang sekuler dan liberal yang tentunya menjadi boomerang bagi masyarakat muslim Turki saat itu.

Dan mengharuskan beliau berjihad secara fisik dalam menghadapi tentara barat yang mencoba merusak akidah umat.

  1. Ceramah dan Menulis

Sebagai pribadi yang haus ilmu pengetahuan, ada dua cara yang selalu beliau terapkan agar ilmu yang di dapat tidak menjadi sia-sia yakni dengan ceramah (mengajarkan) dan menulis.

Karena dari dua kebiasaan tersebut ilmu akan semakin terasah dan bermanfaat. Ini dibuktikan langsung oleh beliau, ketika beliau wafat raganya memang sudah tidak ada. Namun, ilmu dan pemikirannya akan selalu abadi dalam karyanya yang berjudul ”Risalah Nur”.

Itulah beberapa pemikiran luar biasa Badiuzzaman Said Nursi yang penulis rangkum dari berbagai sumber. Dari sini kita bisa melihat bahwa orang luar biasa memiliki pemikiran yang luar biasa.

Apalagi jika pemikiran tersebut dihiasi dengan hikmah-hikmah Al-Qur’an sehingga mendatangkan banyak kebaikan dunia dan akhirat. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari beliau dan meneladaninya. [] Andhika Putri Maulani

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post