Drama Ramadhan & Mualafnya Dunia Pertelevisian

Oleh;

Muhammad Miftahul Umam

Tak terasa, saat ini kita sudah kembali memasuki bulanRamadhan. Memang, bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat dinanti-nantikan, khususnya oleh umat muslim. Bukan hanya sekedar menjadi momentum dimana manusia berlomba-lomba untuk beribadah atau memperbanyak kebaikan, namun bulan Ramadhan juga memiliki daya tarik tersendiri, salah satunya dari sisi hiburan. Jagat hiburan memang seakan-akan menemukan momentum di kala Ramadhan datang. Artis-artis berjejalan menggunakan simbol-simbol keislaman yang seakan-akan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka tak kalah islaminya dengan yang lain.

Bulan Ramadhan memang menjadi surganya hiburan. Dunia pertelevisian ramai berbondong-bondong menjadi muallaf. Sedari menjelang sahur hingga berbuka, dan dari berbuka hingga menjelang sahur kembali, ramai siaran televisi hadi rmenemani kita dengan segala program yang dibungkus atribut Islam. Bukan hanya acara kultum atau tausiyah semata, namun acara lain sepertia cara komedi, lawak, talk show dan lain sebagainya juga mendadak menjadi islami, lengkap dengan menghadirkan berbagai model ustadz dengan berbagai macam yel-yelnya. Berjejalnya program televisi merupakan bukti konkrit bahwa gairah Ramadhan disambut gegap gempita oleh jagat hiburan.

Namun, jika kita amati, acara-acara yang seolah-olah dibingkai dalam frame agama tersebut, sebetulnya berujung pada kapitalisasi agama semata. Menjadikan Ramadhan sebagai lumbung hiburan merupakan fenomena yang tidak pernah kita kaji secara serius. Kita hampir tidak pernah mempersoalkan gaya lawakan yang cenderung menjelek-jelekkan lawan main, menyinggung ras atau semisalnya. Komedi hari ini faktanya lebih berarti sebagai acara lawakan yang hampir seluruh isinya merupakan ejekan serta celaan antara satu dengan lawan mainnya. Apa saja yang tayang ujung-ujungnya adalah komedi yang miskin sekali dari nilai-nilai edukasi.

Baca Juga:  Hakikat Tawadlu

Yang lebih anehnya lagi, fenomena Ramadhan ini juga menginjeksi kalangan ustadz, yang dalam tatanan religius masyarakat dijadikan sebagai rujukan. Mereka dipuja, diminta fatwa untuk dijadikan solusi akan peliknya kehidupan. Anehnya, mereka selalu bisa menjawab segala jenis persoalan yang ditanyakan kepadanya, lengkap dengan berbagai dalil. Mereka seakan-akan menjadi pakar segala bidang. Dan ketika audiensnya belum bertanya, mungkin ia sudah bisa menjawabnya.

Watak industri memang mengerikan. Semua yang masuk pada pusaran industri harus tunduk dan patuh pada bahasa yang dimiliki. Dunia pertelevisian merupakan semacam warung kelontong. Untu ksekedar bertahan ia memerlukan sebuah modal, dan modal itu dari sponsor. Sponsor inilah yang menjadi energinya, sehingga semakin acara itu mampu menarik minat penonton, maka semakin berlomba-lomba pula para sponsor yang ingin mengajaknya bekerjasama. Akhirnya mereka berlomba-lomba sekreatif mungkin untuk menciptakan sebuah acara.

Para ustadz yang mungkin awalnya memiliki niat baik, lambat laun akhirnya masuk dalam pusaran tersebut. Mereka dituntut untuk bisa ini dan itu, di dandani seperti boneka dan harus bisa mengikuti setiap arahan dari kreatifnya. Dan yang paling penting adalah mampu memuaskan pendengar dengan mampu menjawab setiap persoalan yang diajukan kepadanya, tanpa berfikir disiplin ilmu yang dikuasasinya. Mirisnya mereka paham bahwa mereka sedang dijadikan objek eksploitasi kapitalisme media berbau religi.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

Baca Juga:  Sejanggal Apapun Perilaku Gurumu Jangan Pernah Berprasangka Buruk Dengannya

Related Posts

Latest Post