Mengenal Nihilisme: Aliran Filsafat Yang Mengenalkan Tentang Makna Yang Dipertanyakan

di dalamnya terdapat tulisan yang menggambarkan bagaimana nihilisme dikenal oleh orang awam. (pinteres.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Dari bermacam macam aliran filsafat, ada salah satu yang paling sering disalah pahami, yaitu nihilisme, banyak sekali orang menganggap bahwa nihilisme adalah pandanngan yang kosong mengenai kepesimisan, bahkan sering diidentikan dengan keputusasaan. Padahal, nihilisme sendiri lebih dari sekadar sikap tentang “tidak percaya pada apa pun.” Ia adalah sebuah cara berpikir yang secara radikal mempertanyakan makna, nilai, dan kebenaran yang selama ini dianggap pasti.

Dapat disederhanakan bahwa nihilisme adalah pandangan filosofis yang menyatakan bahwa hidup itu tidak memiliki makna inheren, nilai objektif, atau tujuan universal. Kata nihil sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “tidak ada.” Dalam konteks filsafat, airan ini menantang keyakinan bahwa ada kebenaran mutlak atau standar moral yang berlaku secara universal.

Bagi seorang penganut nihilis, hal hal yang biasa dianggap penting oleh masyarakat seperti moralitas, tradisi, atau tujuan hidup sebenarnya adalah konstruksi manusia. Jadi, nilai-nilai tersebut tidak hadir secara alami di alam semesta, melainkan direkayasa dan diciptakan sendiri oleh manusia untuk memberi arah pada kehidupannya.

Dulu istilah nihilisme mulai dikenal luas pada abad ke-19, terutama dalam konteks intelektual Rusia. Dan tokoh yang paling sering dikaitkan dengan nihilisme adalah Friedrich Nietzsch, dia adalah seorang filsuf Jerman abad ke-19. Meski sering disebut sebagai filsuf nihilisme, Nietzsche sendiri  sebenarnya tidak sekadar mendukung nihilisme. Ia juga justru menganalisisnya sebagai gejala zaman modern.

Baca Juga:  Ambruknya Tata Kelola dan Budaya Korupsi yang Mengakar Kuat Pada Perusahaan Sektor Publik di Indonesia

Menurutnya, masyarakat Barat saat ini sedang mengalami “krisis makna” akibat melemahnya otoritas agama dan nilai-nilai tradisional. Pernyataannya yang terkenal, “Tuhan telah mati,” bukanlah perayaan ateisme semata, melainkan pengamatan bahwa fondasi moral lama mulai kehilangan kekuatannya.

Walaupun aliran ini atau konsep ini tidak terlalu terkenal nihilisme seringkali dipandang negatif karena dianggap dapat menjerumuskan seseorang pada sikap apatis atau putus asa. Kebanyakan dari mereka yang memahami kulit luarnya saja jika hidup tidak memiliki makna, mengapa harus berusaha? Jika tidak ada nilai objektif, mengapa harus berbuat baik?

Tetapi di sisi lain juga, nihilisme bisa menjadi sebuah titik balik atau awal sebuah kebebasan intelektual. Dengan kita mempertanyakan nilai nilai yang diwariskan, orang akan dapat membangun makna hidupnya sendiri, sehingga lebih cocok disebut penciptaan makna ketimbang pencariaan makna.

Di era modern, gagasan nihilisme semakin relevan. Sekonyong konyong banyak orang menghadapi krisis identitas, kehilangan arah, atau mempertanyakan tujuan hidup di tengah perubahan sosial yang cepat. Yang menjadi jawaban dari institusi tradisional seperti agama, keluarga, atau budaya tidak lagi menjadi satu-satunya sumber makna, pertanyaan pertanyaan nihilistik pun muncul secara alami.

Fenomena ini dapat terlihat dalam sastra, film, hingga budaya populer. Banyak karya kontemporer mengangkat tema kekosongan, absurditas, dan pencarian makna semuanya memiliki akar dalam pemikiran nihilistik.

Nihilisme bukanlah ajakan untuk menyerah pada kehampaan. Malahan sebaliknya, ia mengajak kita untuk berani menghadapi kenyataan bahwa makna tidak selalu diberikan begitu saja. Dalam dunia yang mungkin tidak menawarkan jawaban pasti, manusia justru memiliki kesempatan untuk menciptakan maknanya sendiri.

Baca Juga:  Budaya Main Hakim Sendiri oleh Masyarakat Kita dan Perspektif Islam dalam Memandangnya

Pada akhirnya, nihilisme mengingatkan kita bahwa ketika semua kepastian runtuh, kebebasan untuk menentukan arti hidup justru dimulai. []nafis naufal albana

Related Posts

Latest Post