almuhtada.org – Hari hisab adalah salah satu fase paling menentukan bagi manusia menurut ajaran Islam. Pada hari itu, seluruh amal kita akan diperlihatkan tanpa ada sedikitpun yang tersembunyi. Dan tentunya jabatan, kekayaan, popularitas, ataupun pengakuan manusia tidak lagi memiliki nilai jika tidak disertai iman dan amal saleh.
Sekarang pertanyaannya, apa sebenarnya yang dapat menyelamatkan manusia di hari yang begitu berat itu?
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَۙ ٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ ٨٩
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89).
Ayat ini memberikan gambaran pada kita bahwa keselamatan di akhirat tidak hanya bergantung pada apa yang dimiliki di dunia, tapi pada kondisi hati dan amal yang dibawa saat menghadap Allah Swt.
Dalam hal ini, hal pertama yang menjadi penyelamat tentu adalah iman. Iman bukan sekadar pengakuan dari lisan, tapi tentang keyakinan kita yang akan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Keimanan ini bisa membuat seseorang tetap berusaha berada di jalan yang benar meskipun tidak selalu mudah.
Selain iman, amal ibadah yang dilakukan dengan ikhlas juga menjadi penolong di hari hisab. Rasulullah Saw. bersabda
bahwa amalan pertama yang dihisab adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula amal lainnya (HR. Tirmidzi).
Ini menunjukkan bahwa hubungan hamba dengan Allah menjadi fondasi utama keselamatan kita.
Namun, keselamatan di akhirat tidak hanya ditentukan oleh ibadah pribadi, karena Islam juga sangat menekankan akhlak. Rasulullah Saw. juga bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201).
Maka, kita bisa saja rajin beribadah, tapi jika lisan kita menyakiti, hati kita penuh kesombongan, atau mungkin perilaku kita merugikan orang lain, maka amalnya terancam kehilangan nilai.
Bahkan, Rasulullah Saw. juga pernah menjelaskan tentang orang yang bangkrut di akhirat dalam sebuah hadis.
Dia datang membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tapi karena dia pernah mencaci, menzalimi, dan menyakiti orang lain, pahala-pahalanya habis diberikan kepada mereka yang dizalimi (HR. Muslim No.2581).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa hubungan antarmanusia juga sangat menentukan keselamatan di hari hisab.
Hal lain yang dapat menyelamatkan manusia pada hari hisab adalah rahmat Allah. Seberapa pun banyak amal kita, kita tetap tidak bisa mengandalkan amal itu semata. Rasulullah Saw. bersabda
bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga hanya karena amalnya, termasuk beliau sendiri, kecuali karena rahmat Allah (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh sombong terhadap amalnya, di sisi lain juga tidak boleh putus asa dari rahmat-Nya.
Kemudian, taubat juga memiliki peran penting. Tentunya manusia tidak luput dari kesalahan, tapi pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan, dosa yang disesali dan dibarengi dengan perbaikan diri bisa menjadi jalan mendekat kepada Allah.
Dalam hal ini, yang dinilai bukan kesempurnaan manusia, tapi kesungguhannya untuk kembali pada jalan Allah Swt.
Pada intinya, yang menyelamatkan manusia di hari hisab bukan hanya dari satu amalan besar, tapi sebuah gabungan dari iman, ibadah, akhlak, taubat, dan juga rahmat Allah. Keselamatan di akhirat ini dibangun dari hal-hal yang sering kali tampak sederhana di dunia, seperti menjaga shalat, berkata baik, membantu sesama, menahan amarah, dan menjaga hati dari kesombongan.
Maka, melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan agar kita bisa mempersiapkan diri dengan melakukan amal kebaikan meski kecil, karena Allah tidak akan mengabaikan kebaikan sekecil apapun. [] Abian Hilmi











