Derita Plestina adalah Duka Indonesia

anak Plestina yang sedang meminta pertolongan pada dunia pinterest

Almuhtada.org – Bangsa ini lahir dari luka panjang penjajahan. Tiga setengah abad kita hidup dalam cengkeraman kolonial, dihina, dirampas haknya, dipaksa tunduk di bawah kaki penjajah. Dan dari penderitaan itu, lahirlah komitmen yang tertulis di pembukaan UUD 1945: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Kalimat itu bukan sekadar teks hukum, melainkan ikrar sejarah. Amanah yang diwariskan kepada kita, anak bangsa, untuk berdiri tegak menolak segala bentuk penjajahan.

Hari ini, ketika kita menyebut Palestina, sesungguhnya kita sedang bercermin pada masa lalu kita sendiri. Mereka dijajah, kita pernah dijajah. Mereka dirampas tanahnya, kita pun dulu dirampas haknya. Bedanya, kita telah merdeka, sementara mereka masih berjuang dengan darah, dengan nyawa, dengan air mata.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Annisa ayat 75 yang berbunyi:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

Artinya: Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.

Baca Juga:  Sedekah di Bulan Ramadhan: Investasi Menuju Akhirat

Sahabat fillah yang dirahmati Allah.

Ayat tersebut mengingatkan, bahwa apakah kita pantas bungkam, jika lebih dari 250 nyawa dibunuh setiap harinya? Itu sama dengan mengkhianati sejarah bangsa sendiri. Apalah artinya jadi manusia jika kita diam saja terhadap genosida. Sejarah juga mengingatkan kita pada seorang panglima besar, Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau bukan hanya seorang pemimpin militer, tetapi simbol dari keimanan dan keberanian. Bersama generasi muda saat itu, ia membangkitkan semangat jihad, mempersatukan umat yang tercerai-berai, lalu membebaskan tanah suci Palestina. Kisah itu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pesan bagi kita hari ini, bahwa pembebasan Palestina bukanlah sesuatu yang mustahil, asalkan ada generasi yang mau berdiri tegak, berani, dan mudah digiring oleh propaganda.

Dan di sinilah masalah kita hari ini. Banyak di antara generasi muslim terjebak dalam penjajahan baru, yakni penjajahan pemikiran. Media internasional membungkus genosida dengan kata “konflik”, menyamakan penjajah dan yang dijajah seolah-olah seimbang. Kita dicekoki narasi bahwa Palestina hanya masalah politik regional, bukan masalah kemanusiaan. Akibatnya, sebagian dari kita menjadi apatis, seakan Palestina jauh, seakan itu bukan urusan kita. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa “Tidaklah sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Palestina adalah saudara kita, Palestina adalah negeri para nabi, negeri tempat Al-Aqsha berdiri, dan kiblat pertama umat Islam.

Baca Juga:  Siapa Itu Rabi’ah al-Adawiyah? Temukan Jawabannya!

Maka, langkah awal membebaskan Palestina bukanlah dengan senjata, tapi dengan kesadaran. Membebaskan pikiran kita dari propaganda. Menyadari bahwa Palestina adalah amanah, bahwa luka mereka adalah luka kita, dan perjuangan mereka adalah perjuangan kita. Dari kesadaran lahirlah kepedulian. Dari kepedulian lahirlah keberanian. Dan dari keberanian itulah lahir generasi yang tidak hanya berdoa, tapi juga bergerak, bersuara, menyuarakan kebenaran di tengah dunia yang dibungkam kepentingan politik.

Generasi muda Indonesia harus mewarisi api semangat bangsa ini yang sejak awal berdiri menolak penjajahan. Kita tidak boleh hanya berhenti pada empati, kita harus melanjutkan tradisi perjuangan itu. Karena jika Indonesia pernah merdeka berkat doa dan solidaritas dunia, maka Palestina pun akan merdeka dengan doa dan solidaritas kita. Inilah amanah sejarah untuk kita: menjaga janji UUD 1945, menjaga warisan Shalahuddin, menjaga sabda Rasulullah, dan menjaga agar api perlawanan Palestina tidak pernah padam. [Hanum Salsoabila]

 

 

Related Posts

Latest Post