Ketika Urusan Duniawi Membuat Kita Lalai Terhadap Urusan Akhirat

Ilustrasi seseorang yang lelah mengejar urusan dunia (freepik.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Pada zaman modern seperti sekarang ini, kita semua dituntut untuk senantiasa produktif demi memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Sebagian besar orang juga dipaksa untuk bekerja dari pagi hingga malam untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Dalam kondisi seperti itu, segala ibadah dan urusan akhirat lainnya sering kali terlupakan karena fokus kita hanya tertuju kepada urusan duniawi yang tidak ada habisnya.

Sebagai seorang muslim, kita seharusnya lebih mengutamakan urusan akhirat dibandingka dengan urusan duniawi. Kita tidak dapat menggunakan alasan seperti “sibuk bekerja” demi memenuhi kebutuhan pokok harian untuk membenarkan segala bentuk kelalaian yang telah kita lakukan terhadap urusan akhirat.

Sebagian besar dari kita terus terpaku pada harta dan materi hingga kita melalaikan urusan kita kepada Allah Swt. Islam sendiri telah memberikan dua contoh teladan bahwa kondisi ekonomi seseorang tidak dapat memengaruhi kualitas ibadah mereka kepada Allah Swt.

Kedua contoh teladan yang dimaksud adalah Nabi Sulaiman A.S., dan Nabi Isa A.S. Kedua tokoh tersebut sangat bertolak belakang. Nabi Sulaiman A.S. terkenal dengan kekayaannya yang berlimpah ruah hingga mendapat julukan sebagai “Orang terkaya di dunia”. Namun, perlu diketahui bahwasannya Nabi Sulaiman A.S. tidak terlena dalam kekayaan yang dimilikinya dan tetap beribadah dengan amksimal kepada Allah Swt.

Selain Nabi Sulaiman A.S., bukti bahwa keadaan ekonomi seseorang tidak data memengaruhi kualitas ibadah kepada Allah Swt. juga diperlihatkan melalui kisah Nabi Isa A.S. Berbeda dengan Nabi Sulaiman A.S. yang mendapat julukan sebagai manusia terkaya di sepanjang sejarah, Nabi Isa A.S. mendapat julukan sebagai manusia termiskin di dunia. Mengapa demikian? Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwasannya Nabi Isa A.S. tidak memiliki rumah dan pakaian yang Beliau kenakan hanya 2 helai jubah. Bahkan, Beliau juga tidak memiliki seorang ayah maupun istri. Dengan kata lain, Nabi Isa A.S. merupakan sosok yang lebih kekurangan daripada kita dalam hal “harta dan materi” namun Beliau memiliki lebih banyak amal ibadah dibandingkan kita yang tercukupi segala kebutuhan pokoknya.

Baca Juga:  Jangan Hanya Belajar Agama, Dunia Juga

Dari kedua tokoh tersebut, Islam mengajarkan kita bahwasannya hiruk pikuk dunia beserta segala urusannya tidak memengaruhi kualitas ibadah seseorang kepada Allah Swt. Perlu diingath bahwasannya dunia bersifat sementara (fana) sedangkan akhirat bersifat kekal (abadi) seperti yang telah dijelaskan dalam Q.S. Ghafir ayat 39 yang berbunyi:

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Artinya: “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Ghafir:39)

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita selaku seorang muslim untuk senantiasa mendahulukan urusan akhirat dibandingkan urusan duniawi yang bersifat fana. Selain itu, kita tidak boleh membenarkan segala kelalaian yang telah kita lakukan dengan alasan sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokok karena pada dasarnya Islam telah memberikan teladan yang membuktikan bahwa kondisi ekonomi tidak memengaruhi kualitas ibadah seseorang.

Cukup sekian artikel yang dapat saya tulis, saya mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada dalam artikel saya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. [Muhammad Khoirul Anwar]

Related Posts

Latest Post