Antara Kekuasaan dan Pertanggungjawaban: Inilah Beratnya Amanah Kepemimpinan dalam Islam!

Ilustrasi seorang pemimpin yang sedang memimpin rapat atau diskusi (Freepik-almuhtada.org)

almuhtada.org – Setiap hamba, sadar atau tidak pasti pernah menjadi seorang pemimpin. Baik dalam memimpin diri sendiri, maupun memimpin orang lain di suatu kelompok atau organisasi.

Namun sejauh dan sepengalaman dalam menjadi seorang pemimpin, pernahkah kita berpikir bahwa kepemimpinan yang buruk mungkin terjadi karena salah pundak? Yuk simak penjelasannya!

Dalam Islam, kepemimpinan bukan hanya tentang suatu jabatan apa lagi kehormatan.

Kepemimpinan adalah suatu amanah yang berat dan kelak tentu akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas merupakan penegasan bahwa kepemimpinan tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab.

Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari prestasi atau keberhasilannya saja, namun juga bagaimana ia membimbing, menjaga, dan mengarahkan orang-orang yang  mungkin memiliki pendapat atau sudut pandang berbeda di bawah kepemimpinannya.

Sering kali kita hanya melihat kesalahan yang dilakukan oleh seorang anggota, bawahan, atau seorang yang dipimpin.

Dalam sudut pandang Islam, kesalahan tersebut tidak sepenuhnya mutlak disebabkan oleh pelaku.

Pemimpin pun ikut menanggung akibatnya jika lalai dalam membina, mengawasi, atau memberi teladan kepada anggota atau rakyatnya.

Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah memimpin rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan baginya surga.” (H.R. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan betapa seriusnya amanah dalam menjadi seorang pemimpin.

Baca Juga:  Gaya Kepemimpinan Rabbani: Seperti Apa itu?

Pepatah mengatakan amanah tidak akan pernah salah pundak, karena ia selalu tepat sasaran.

Jika dalam sebuah kepemimpinan berjalan buruk, atau rusak, atau bahkan menyeleweng dari tugas dan tanggung jawabnya, maka hal itu akan menjadi cermin kesiapan dan kualitas orang yang memikulnya.

Allah subhanahu wataala juga menegaskan dalam Al-Quran bahwa amanah adalah sebuah tanggung jawab yang besar.

Dalam Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 72 Allah subhanahu wataala menegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu di pikullah amanah itu oleh manusia.” (Q.S. Al-Ahzab: 72)

Dari ayat tersebut Allah subhanahu wataala mengingatkan kita bahwa amanah dalam bentuk kepemimpinan bukanlah perkara yang ringan.

Jika gunung saja enggan untuk memikulnya, bagaimana mungkin manusia menjalankannya tanpa kesadaran, ilmu, dan ketakwaan?

Menjadi pemimpin sejatinya bukan lah tentang kekuasaan.

Tapi tentang siapa yang mampu atau sanggup dalam memikul sebuah konsekuensi.

Bukan lagi tentang di sanjung, tapi tentang siapa yang siap di salahkan.

Pada akhirnya, kepemimpinan dalam Islam adalah ujian.

Meskipun amanah tidak akan pernah salah pundak, sebagai manusia yang tak pernah luput dari kesalahan kita bisa menerima dengan lapang dada dan terbuka untuk sebuah pembelajaran.

Wallahu alam bissawab. Demikian artikel yang saya buat, jika kamu seorang hamba-Nya semoga kita semua termasuk para hamba yang dapat senantiasa ketika futur masih tetap berada dalam jalan-Nya.

Baca Juga:  Saat Uluran Tangan Menjadi Titik Balik

Semoga kita juga dapat termasuk orang-orang yang mendapat ridha-Nya sehingga berada dalam satu barisan dengan orang-orang yang dirindukan surga, aamiin aamiin yarobbal alamin. Semoga bermanfaat [] Rosi Daruniah

Related Posts

Latest Post