almuhtada.org – Kalimat sederhana sudah tak asing di telinga kita, “energi berdampak besar bagi lingkaran kita”. Kehidupan manusia selalu berada pada pola yang berulang. Setiap orang datang dengan konflik yang berbeda, tetapi rasanya selalu ditarik ke fase yang sama. Manusia sering menyebutnya dengan “Energi” Memang terdengar abstrak. Namun, energi selalu berkaitan dengan cara manusia hadir, merespons dan membaca situasi sekitarnya.
Ketika seseorang bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa aku selalu dikelilingi orang seperti ini?” maka ada kualitas batin yang terpancar dan memengaruhi siapa yang betah berada di sekitarnya.
Dalam konsep Martin Heidegger, manusia tidak pernah berdiri sebagai pengamat netral. Kita selalu sudah berada di dalam dunia, membawa suasana tertentu sebelum menilai apa pun.
Dunia bukanlah kertas putih polos; ia lebih seperti kertas berwarna yang tampak berbeda tergantung cahaya yang menyinarinya. Artinya, atmosfer kecil di sekitar kita terbentuk oleh cara kita memandang dan merasakannya.
Sebelum kita berbicara, bersikap, atau memilih teman, kita sudah lebih dulu “berada dalam suasana”. Mood bukan sekadar perasaan lewat. Ia adalah cara dunia tampak bagi kita. Saat kita dipenuhi kecemasan, dunia terlihat mengancam. Saat kita dipenuhi kepercayaan diri, dunia terasa penuh kemungkinan.
Di sinilah pola relasi sering terbentuk tanpa kita sadari. Seseorang yang merasa tidak cukup berharga bisa tanpa sadar tertarik pada relasi yang membuatnya terus membuktikan diri.
Seseorang yang takut ditinggalkan mungkin terlalu mentoleransi perilaku yang melukai. Energi batin bekerja seperti magnet halus: ia tidak memaksa, tetapi mengarahkan.
Sebaliknya, ketika seseorang berani menghadapi kecemasannya sendiri dan menyadari keterbatasan hidupnya, termasuk fakta bahwa hidup itu fana.
Dia menjadi lebih autentik dan tidak lagi mencari relasi untuk menambal kekosongan, tetapi untuk berbagi makna. Energi seperti ini tidak ramai, tetapi dalam. Tidak heboh, tetapi stabil.
Lebih dari itu, tulisan ini bukan hanya berhenti pada pengakuan suasana batin mempegaruhi sekitar. Namun, ada hal penting lain berupa keberanian untuk menghadapi kecemasan diri sendiri.
Ketika seseorang berani mengakui keterbatasannya terhadap sesuatu. Maka, ia sedang memberikan makna kepada sekitar bukan sebaliknya (meredakan kecemasan).
Tentu akan berbeda seseorang yang sadar tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada respons orang lain. Dia mampu mengobati lukanya tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Tentu saja, dunia tetap kompleks dan tak sepenuhnya bisa dikendalikan.
Jadi, siapa yang ada di sekitarmu sering kali bukan kebetulan. Itu cerminan dari cara seseorang berada di dunia.
Jika relasi yang datang selalu melelahkan, mungkin bukan semata karena mereka buruk, tetapi karena ada pola batin yang belum selesai dalam diri mereka. Dan sebelum menuntut dunia menghadirkan lingkaran yang berbeda, kita perlu menata ulang cara kita sendiri hadir di dalamnya. [] Lailia Lutfi Fathin











