almuhtada.org – Pada zaman dahulu, Kota Pandanaran (Kota Semarang) masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro di bawah pemerintahan Ki Ageng Pandanaran II yang merupakan putra dari Ki Ageng Pandanaran I, pendiri Kota Pandanaran.
Ki Ageng Pandanaran II merupakan seorang bupati yang juga merupakan seorang saudagar yang kaya raya, bahkan kekayaannya tiada yang dapat menandingi di seluruh Kota Pandanaran. Namun, kekayaan tersebut membuatnya gelap mata. Ia menjadi seorang yang sangat tamak dan tak pernah meminjamkan harta-hartanya yang telah menumpuk. Ia hanya mau meminjami bila pinjaman tersebut berbunga. Sebaliknya, bila yang dipinjami tidak memberikan bunga atau keuntungan apapun baginya, anak buah Ki Ageng tak akan segan berbuat sewenang-wenangnya.
Kabar ketamakan sang bupati memicu rasa prihatin dari Sunan Kalijaga sehingga beliau ingin memberikan nasehat sekaligus pelajaran kepadanya.
Pada mulanya, ajakan Sang Sunan agar tidak tamak dan mengagung-agungkan harta tidak diindahkan oleh Ki Ageng. Kemudian, atas izin Allah, Sang Sunan dapat mengeluarkan emas dari dalam tanah. Ki Ageng merasa takjub sekaligus takut ketika menyaksikan karomah Sang Sunan tersebut dan akhirnya Ki Ageng bertobat dan ingin berguru kepada Sang Sunan.
Sang Sunan mengabulkan permintaan Ki Ageng namun dengan empat syarat, yakni membuktikan kesungguhan dan kesetiaan Ki Ageng terhadap Sang Sunan, beribadah dengan tekun dan menghilangkan sifat tamak, berderma kepada yang membutuhkan, serta mengasihi kepada sesama. Sang Sunan juga berpesan agar segera menyusulnya ke Gunung Jabalkat di daerah Tembayat, tempat dimana Sang Sunan mengaku berasal ketika Sang Sunan sedang menyamar untuk menguji Ki Ageng.
Setelah kejadian tersebut, Ki Ageng berubah sifatnya. Ia tak lagi tamak, tak lagi angkuh dan kasar. Penduduk pun bahkan nyaris tak mempercayai perubahan pada Ki Ageng yang sedemikian drastis.
Hingga tibalah waktunya Ki Ageng merasa sudah saatnya untuk menyusul Sang Sunan ke Tembayat. Maka beliau berniat berhijrah meninggalkan Pandanaran serta keluarganya. Namun, istrinya meminta untuk ikut serta, Ki Ageng pun meluluskannya asal dengan syarat agar tidak membawa harta apapun selama perjalanan atau perjalanan mereka akan terganggu.
Dengan memakai baju putih, mereka pergi meninggalkan Pandanaran menuju ke Tenggara. Selama dalam perjalanan, Istri Ki Ageng Pandananaran selalu berjalan di belakang suaminya karena takut jika sang suami mengetahui di dalam tongkatnya yang dinamai Wuluh Gading, ia menyembunyikan harta benda sebagai cadangan hidup.
Ki Ageng segera mengetahui kelakuan istrinya tersebut, namun memilih untuk diam. Dan benar saja, langkah sang istri terasa lambat sehingga sering tertinggal oleh suaminya.
Hingga suatu saat, Ki Ageng dicegat oleh tiga orang perampok. Mereka ingin merampok Ki Ageng, namun karena Ki Ageng tidak membawa harta apapun, Ki Ageng tidak dapat menyerahkan sesuatu. Namun, Ki Ageng memberi tahu bahwa nanti akan lewat seorang wanita dengan baju putih seperti dirinya dengan membawa tongkat. Wanita tersebut membawa harta yang sangat banyak sehingga mereka tak perlu lagi merampok seumur hidup mereka.
Wanita yang dimaksud Ki Ageng tak lain ialah istrinya sendiri. Ia melakukan hal tersebut sebagai pembelajaran untuk sang istri agar jangan berbohong kepadanya.
Kemudian tak lama, datanglah istri Ki Ageng dan tak butuh waktu lama, mereka segera merebut tongkat yang ia bawa. Istri Ki Ageng tak dapat melakukan apapun kecuali pasrah dan menjerit serta terus mengutuk dan menyalahkan ketiga perampok tersebut.
Konon, kejadian tersebut kemudian melahirkan nama daerah “Salatiga” yang berasal dari kata “Salah tiga” karena menurut Istri Ki Ageng, ketiga perampok tersebut hati dan perbuatannya salah.
Istri Ki Ageng kemudian memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan, menyusul sang suami. Perjalanan Istri Ki Ageng kali ini terasa sangat ringan sehingga tak butuh waktu lama untuk menyusul suaminya.
Ki Ageng kemudian memberikan nasehat kepada istrinya agar tidak tamak dan memintanya untuk berjalan di depan Ki Ageng saja. Namun, istri Ki Ageng masih tidak bisa mengikhlaskan dan melupakan pengalaman pahitnya tadi. Sejak saat itu, lahirlah nama “Boyolali” yang berasal dari kata “Mbok ya lali” yang artinya biar dapat melupakan kejadian di dalam hutan tadi.
Lama perjalanan mereka, hingga akhirnya mereka sampai di Gunung Jabalkat. Sang istri pun akhirnya tersadar kesalahan yang ia perbuat. [] Moh. Zadidun Nurrohman











