Nikmat yang Sering Terabaikan, Padahal Dapat Membahagiakan

Ilustrasi seorang pria yang sedang berolahraga sembari mengecek waktu (freepik.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Rasulullah Saw. bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini mengungkap sebuah ironi dalam kehidupan manusia. Ada nikmat yang begitu dekat, begitu sering hadir, namun justru paling sering diabaikan.

Dua nikmat berupa kesehatan dan waktu luang bukan hanya karunia, tetapi juga menjadi kesempatan.

Ketika keduanya digunakan dengan baik, ia mampu menghadirkan ketenangan, kepuasan, bahkan kebahagiaan. Namun ketika dilalaikan, ia berubah menjadi sumber penyesalan.

Kesehatan: Nikmat yang Membuka Produktivitas

Kesehatan adalah nikmat yang memungkinkan manusia menikmati hidup secara utuh.

Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan produktif, belajar dengan fokus, dan menjalin hubungan sosial dengan baik.

Kesehatan memberi ruang bagi manusia untuk bergerak, berusaha, dan bermakna.

Sayangnya, ketika sehat manusia sering merasa semuanya akan selalu baik-baik saja.

Kebaikan ditunda, kepedulian terhadap diri diabaikan, dan ibadah dilakukan sesukanya.

Padahal, kesehatan yang disyukuri dan dijaga bukan hanya mendatangkan manfaat fisik, tetapi juga ketenangan batin dan rasa cukup yang merupakan dua unsur penting dalam kebahagiaan.

Waktu Luang: Ruang Emas untuk Bertumbuh

Waktu luang sering disalahartikan sebagai waktu kosong tanpa nilai.

Padahal, ia adalah ruang di mana manusia memiliki kebebasan untuk memilih: mendekat kepada Allah, mengembangkan diri, atau memberi manfaat kepada orang lain.

Baca Juga:  GUS BAHA’: INTELEKTUAL MUDA MUSLIM PEMBAWA OPTIMISME DALAM BERAGAMA

Waktu luang yang digunakan dengan sadar dapat melahirkan rasa pencapaian, kedamaian, dan juga kebahagiaan.

Sebaliknya, ketika waktu luang dihabiskan tanpa arah, manusia merasa lelah tanpa sebab dan hampa tanpa tahu alasannya.

Bukan karena kekurangan aktivitas, tetapi karena kehilangan makna dari waktu yang disia-siakan.

Mengapa Banyak yang Lalai?

Kelalaian sering muncul bukan karena tidak tahu, melainkan karena merasa nikmat itu akan selalu ada.

Manusia merasa masih muda, masih sehat, masih punya banyak waktu. Padahal, kesehatan bisa berubah dalam sekejap, dan waktu terus berjalan tanpa bisa ditunda.

Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kemampuan mengelola nikmat kecil yang terus hadir setiap hari.

Kebahagiaan yang Lahir dari Kesadaran

Orang yang menggunakan kesehatannya untuk kebaikan dan waktu luangnya untuk hal yang bermakna akan merasakan kebahagiaan yang berbeda.

Bukan kebahagiaan yang hingar-bingar, tetapi kebahagiaan yang tenang; karena hidup dijalani dengan sadar, terarah, dan bernilai.

Islam tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mengajarkan kesadaran: sadar akan nikmat, sadar akan waktu, dan sadar akan tujuan hidup.

Nikmat yang sering terabaikan, padahal dapat membahagiakan, itulah kesehatan dan waktu luang.

Kebahagiaan bukan semata-mata tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita menggunakan apa yang telah Allah berikan.

Karena pada akhirnya, nikmat yang disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik akan mendekatkan manusia bukan hanya pada kebahagiaan, tetapi juga pada keberkahan hidup yang Allah berikan. []Muhammad Fadli Noor

Baca Juga:  Inilah Tiga Kunci Kebahagiaan Hidup: Pondasi Utama untuk Hidup Bermakna

Related Posts

Latest Post