almuhtada.org – Sebagai seorang manusia, kita punya fitrah merasa lelah di berbagai dinamika kehidupan ini. Di era modern sekarang kita mengenal istilah bournout, yang mana merupakan istilah dari kondisi seseorang yang mengalami kelelahan fisik, emosional disertai hilangnya rasa motivasi dalam diri. Hal ini bukan sesuatu yang baru. Kita punya banyak tuntutan seperti: belajar, ibadah, tugas, hingga organisasi yang sering kita tunda. Lalu kita memaksakan diri, tanpa sadar lupa bahwa tubuh, jiwa, dan pikiran juga berhak beristirahat. Maka dari itu, work life balance perlu diterapkan. Lantas, bagaimana islam dan Rasullullah mengajarkan kita mengelola burnout sehingga dapat menerapkan work life balance ini?
1. Menghargai Tubuh
Salah satu hak bagi tubuh kita adalah beristirahat. Kita bukan sebuah robot yang mampu aktif 24 jam, bahkan robot pun akan berhenti ketika baterainya habis. Begitupun kita, jadikan sebuah istirahat itu suatu ibadah. Karena, ketika tubuh kita bugar kita pun akan lebih segar dalam beribadah maupun tugas lainnya.
2. Mengisi jeda dengan shalat dan zikir
Shalat bagi Rasulullah bukan hanya kewajiban semata, tapi juga tempat untuk beristirahat serta mencari ketenangan. Beliau bersabda:
“Dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.” {HR. An-Nasa’i}
Jadi, kita bisa menjadikan shalat ini sebuah jeda untuk mengembalikan fokus serta merestart energi. Karena disitu kita meletakan dan berserah diri pada Allah atas segala kelemahan dan kepenatan urusan kita. Rasulullah juga mengajarkan untuk memohon perlindungan dari rasa sedih, lemah, malas, dan takut dengan berzikir kepada Allah. Saat pikiran bermacam-macam, lelah, dan kalut hendaknya kita mengucapkan zikir, karena dengan mengingat Allah dapat membantu mengalihkan pikiran dan mendapat ketenangan.
3. Memberi reward seperti meluangkan waktu
Islam tidak melarang kita untuk reward asalkan itu baik dan tidak berlebihan. Rasulullah sendiri juga memiliki waktu guna menyegarkan hati dengan bercanda, tertawa, berinteraksi dengan keluarga, serta memberikan perhatian kepada para sahabatnya. Kita pun dapat melakukan dengan cara yang sama seperti family time. Karena suatu kehadiran emosional itu merupakan recharge yang ampuh. Serta melakukan hobi yang dapat memberi manfaat.
4. Menentukan prioritas dan konsisten
Penyebab dari burnout salah satunya ialah mencoba melakukan segala aktivitas sekaligus tanpa memberikannya jeda. Rasulullah juga mengajarkan kita untuk dapat fokus pada kualitas, jadi bukan hanya tentang kuantitas semata saja. Beliau bersabda:
“Lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian yang merasa bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun sedikit” {HR. Bukhari dan Muslim}
Disini kita dapat mengetahui bahwa prioritas dalam mendahulukan melakukan suatu itu penting agar kita bisa menyeimbangkan semua. Selain itu, sebuah konsistensi itu penting agar dapat mencapai sebuah target dengan efektif, seperti kata pepatah “sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit”.
Kesimpulan yang dapat kita ambil, burnout merupakan fitrah kita. Tetapi, mengelola burnout ini merupakan hal yang perlu kita perhatikan. Dengan mengatur kembali jeda, istirahat, fokus serta mengatur prioritas dan konsisten semoga kita dapat mengelola dan melewati fase yang ada agar kembali menjadi hamba yang selalu bersemangat dan produktif. Dan bisa berprinsip “mengisi dunia tanpa melupakan akhirat, dan mengurus akhira tanpa merusak dunia” [] Nisrina zalfa sadidah











