almuhtada.org – Seringkali kita membayangkan sosok pemimpin itu identik dengan kemewahan, fasilitas mewah, atau sikap galak supaya ditakuti bawahan.
Jika kita menengok kembali sejarah, teladan terbaik umat manusia, Nabi Muhammad saw., justru mematahkan semua stereotip itu.
Beliau bukan tipe “Bos” yang main tunjuk, melainkan “Pemimpin” yang turun tangan dan punya kepribadian yang bikin betah.
Yuk, kita bedah dua sifat keren Rasulullah yang bisa jadi inspirasi kita hari ini.
Pemimpin yang Mau Berkorban
Banyak orang berebut jadi pemimpin karena ingin fasilitas enak.
Coba lihat peristiwa Perang Badar di tahun kedua Hijriah.
Situasinya serba sulit; secara ekonomi dan politik, umat Islam sedang terhimpit.
Jarak tempuh menuju medan perang sekitar 150 km, bayangkan seperti jalan kaki dari Yogyakarta ke Purwokerto yang membutuhkan waktu sekitar 4-5 hari perjalanan.
Dengan jumlah pasukan 300-an orang, unta yang tersedia sangat terbatas.
Di sinilah kualitas kepemimpinan Rasulullah diuji.
Beliau tidak minta ditandu atau naik kuda khusus.
Beliau berbagi satu unta untuk tiga orang: dirinya sendiri, Ali bin Abi Thalib (menantu), dan Abu Lubabah.
Karena satu unta tidak mungkin dinaiki bertiga sekaligus, mereka membuat sistem shift.
Ada kalanya naik, ada kalanya jalan kaki.
Saat giliran Rasulullah jalan kaki, kedua sahabatnya merasa sungkan dan berkata, “Ya Rasulullah, biar kami saja yang jalan, Engkau tetaplah di atas unta.”
Jawaban Nabi sangat menohok dan menyentuh hati:
“Kalian berdua tidak lebih kuat dari saya, dan saya sendiri juga butuh pahala sebagaimana kalian membutuhkannya.”
Dari kisah keteladanan di atas, kita bisa menarik pelajaran vital bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal strategi, tapi juga soal ketahanan dan niat.
Secara fisik, Rasulullah mencontohkan bahwa memimpin berarti siap berkeringat dan merasakan lelah yang sama dengan anggotanya.
Rasulullah mengajarkan kita untuk mengubah setiap tetes keringat dan rasa lelah dalam mengurus umat menjadi lillah.
Artinya, kerja keras seorang pemimpin bukan diniatkan untuk mengejar validasi manusia, melainkan dijadikan investasi pahala.
Pendengar yang Baik dan Murah Senyum
Pernah punya teman yang kalau bicara maunya didengar terus, tapi giliran kita bicara dia tidak memperhatikan kita? Nah, Rasulullah adalah kebalikannya.
Rasulullah itu tipe pemimpin yang approachable (mudah didekati).
Beliau bukan sosok menakutkan yang bikin orang gemetar kalau ada di dekatnya. Sebaliknya, para sahabat justru kangen dan nyaman curhat sama beliau.
Seorang sahabat bernama Jabir bin Sumroh bercerita, dia sudah lebih dari 100 kali duduk nongkrong bareng (bermajelis) dengan Nabi.
Apa yang terjadi di sana? Para sahabat saling bertukar cerita, bahkan mengenang masa-masa Jahiliyah dulu sambil tertawa atau baca syair.
Apakah Nabi marah? Tidak.
Nabi mendengarkan dengan seksama.
Beliau tidak mendominasi pembicaraan.
Respon beliau sangat menyejukkan, diam menyimak dan tersenyum (bassam).
Meskipun kita tahu Nabi sering menangis saat salat malam karena takut pada Allah, tapi saat bersosialisasi, beliau adalah orang yang paling banyak senyumnya.
Menjadi pemimpin ala Nabi Muhammad itu ternyata sangat manusiawi dan relevan sampai sekarang.
Beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang meninggikan posisi diri sendiri di atas orang lain, tapi tentang kerelaan berkorban (berbagi beban) dan kelapangan hati untuk mendengar. [] Raffi Wizdaan Albari











