Persaudaraan dalam Islam: Mengurai Kisah Inspiratif dalam Penyatuan Muhajirin dan Ansor

Sejarah Penyatuan Muhajirin dan Ansor
Gambar Ilustrasi Sejarah Penyatuan Muhajirin dan Ansor (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Selain mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat persatuan, Rasulullah SAW juga melakukan langkah bersejarah dengan menyatukan orang-orang Muhajirin dan Ansor.

Ibnul Qayyim mencatat, “Rasulullah saw menyatukan mereka di rumah Anas bin Malik, menjadi saudara sebanyak sembilan puluh orang setengahnya dari Muhajirin dan setengahnya lagi dari Ansor.

Tujuan dari pengikatan persaudaraan ini adalah untuk saling mendukung dan mewariskan harta bila ada yang meninggal, selayaknya keluarga.

Namun, hal ini berubah setelah turunnya Q.S Al-Anfal ayat 75 yang berbunyi “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesama (daripada kerabat yang bukan kerabat)”, sehingga aspek warisan menjadi gugur, namun ikatan persaudaraan tetap berlangsung.

Makna Persaudaraan yang dijelaskan oleh Muhammad Al-Ghazali bertujuan untuk melunakkan fanatisme masa Jahiliyah sehingga yang dijunjung tinggi hanya Islam. Hal ini dimaksudkan pula agar perbedaan seperti keturunan, warna kulit, dan asal daerah tidak menjadi hal yang dominan, sehingga seseorang tidak merasa superior atau inferior, melainkan hanya atas dasar ketaqwaannya.

Rasulullah menegaskan bahwa persaudaraan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata kosong. Ini harus menjadi hubungan yang nyata, mengikat darah dan harta, bukan sekadar ucapan yang cepat hilang.

Hal ini telah terbukti, dengan dorongan untuk mengutamakan kepentingan bersama, kasih sayang, dan bantuan yang nyata yang menjadi bagian dari persaudaraan ini, memperindah masyarakat yang baru dibangun dengan gambaran yang mengesankan.

Baca Juga:  Mengharukan! Kisah Abu Dujanah yang Membuat Rasulullah Meneteskan Air Mata

Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah mengatur persaudaraan antara Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d menawarkan setengah dari harta dan pilihannya di antara kedua istrinya untuk Abdurrahman.

Jika Abdurrahman memilih salah satu, Sa’d akan menceraikan istrinya tersebut dan jika masa iddahnya berakhir, Abdurrahman bisa menikahinya.

Ini menunjukkan kedermawanan kaum Ansor terhadap sesama saudara Muhajirin, kesediaan mereka untuk berkorban, mengutamakan kebutuhan saudara mereka, dan menunjukkan rasa kasih dan kepedulian yang besar.

Hubungan persaudaraan ini merupakan langkah yang sangat cerdas dan tepat, karena mampu mengatasi sejumlah besar masalah yang dihadapi oleh umat Muslim di kala itu. [] Sholihul Abidin

Editor: Mohammad Rizal Ardisnasyah

Related Posts

Latest Post