Almuhtada.org – Dalam kehidupan sehari-hari, kepemimpinan (dalam hal apa pun) sering dipahami sebagai posisi atau jabatan yang bergengsi, atau simbol keberhasilan sosial. Namun Islam memandang kepemimpinan dari sudut yang jauh lebih dalam, dimana kepemimpinan bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Al-Qur’an menegaskan konsep amanah secara tegas dalam firman Allah Swt. yang berbunyi
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58).
Ayat di atas menegaskan bahwa amanah selalu berjalan beriringan dengan keadilan. Kepemimpinan tidak boleh dijalankan berdasarkan pikiran tentang kepentingan pribadi, kelompok, atau ambisi, melainkan harus berpijak pada prinsip keadilan dan tanggung jawab moral.
Rasulullah Saw. bahkan memberikan peringatan keras terkait jabatan kepemimpinan. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Jika engkau diberi jabatan karena permintaanmu, engkau akan dibiarkan menanggungnya sendiri. Namun jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, engkau akan ditolong (oleh Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan memang bukan sesuatu yang layak dikejar demi kehormatan saja.
Ketika jabatan dijadikan tujuan, maka amanah justru berubah menjadi beban berat yang dapat menjerumuskan.
Selain itu, dalam Islam, pemimpin adalah pelayan, bukan penguasa. Konsep ini tercermin dalam sabda Nabi Saw. yang artinya:
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu’aim).
Dari sini, makna kepemimpinan pun bergeser, yaitu kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi seseorang, melainkan seberapa besar kesediaannya berkorban, mendengar, dan melindungi orang-orang yang dipimpinnya. Bisa dibilang, kepemimpinan diukur dari kebermanfaatan, bukan popularitas.
Sejarah Islam memberikan banyak teladan tentang hal ini.
Umar bin Khattab r.a., misalnya, dikenal sebagai pemimpin yang sangat takut terhadap amanah kekuasaan. Ia pernah berkata bahwa seandainya ada seekor keledai terperosok di Irak, ia khawatir akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Ungkapan ini mencerminkan kesadaran yang mendalam bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab yang menyentuh aspek moral dan spiritual.
Jika kita lihat di era sekarang, krisis kepemimpinan sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan atau kemampuan manajerial, tetapi oleh hilangnya kesadaran akan amanah jabatannya.
Ketika kepemimpinan dipandang sebagai alat untuk memperkaya diri, mencari pengakuan, atau membangun citra, maka nilai keadilan dan kejujuran perlahan akan terkikis.
Lebih lanjut, Islam mengajarkan bahwa setiap orang pada hakikatnya adalah seorang pemimpin. Rasulullah Saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kepemimpinan ini tidak selalu dalam bentuk jabatan formal, tetapi bisa saja hadir dalam peran sebagai mahasiswa, pengurus organisasi, anggota keluarga, bahkan dalam mengelola diri sendiri.
Dari sini, penulis ingin menyampaikan bahwa semua bentuk kepemimpinan yang sedang kita jalani adalah ujian, bukan kehormatan.
Kepemimpinan ini menuntut kejujuran, keberanian untuk adil, serta kesadaran bahwa setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, ketika kepemimpinan dipahami dengan cara ini, harapannya jabatan “pemimpin” tidak lagi menjadi ajang perebutan, tetapi sebagai ladang pengabdian.[]Abian Hilmi










