almuhtada.org- Lahir dari keluarga bangsawan Quraisy, yaitu Bani Makzum, sebuah suku yang memang terkenal dengan kepiawaian dalam perang.
Khalid bin Walid tumbuh sebagai prajurit sejati, kuat, cekatan, dan menguasai strategi tempur sejak muda.
Keberaniannya sudah tampak bahkan sebelum ia masuk Islam.
Hal tersebut ia tunjukkan dalam berbagai peperangan yang ia pimpin.
Bahkan sebelum dirinya masuk Islam, ia adalah orang yang sangat menentang Islam.
Ketika terjadi perang uhud yang melibatkan kaum muslimin melawan kaum kafir Quraisy pada tahun 3 Hijriah, ia menjadi sosok kunci atas kekalahan kaum muslimin kala itu.
Manuver yang ia pimpin dengan pasukan kavelarinya setelah melihat celah yang disebabkan ketidaktaatan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW membuat pasukan muslimin terpecah.
Meskipun awalnya sangat menentang islam, namun setelah perjanjian Hudaibiyah, Khalid menyadari bahwa kebenaran ada pada Islam.
Bersama dengan Amr bin Ash dan Utsman bin Thalhah, ia pergi ke Madinah untuk menyatakan syahadat.
Masuknya Khalid menjadi muslim menjadi titik balik besar dalam sejarah Islam.
Tak perlu waktu lama bagi Khalid untuk menunjukkan kemampuannya dalam berperang bagi kaum muslimin.
Ia langsung terjun dalam berbagai perang dalam barisan kaum muslimin.
Pada suatu saat, ketika perang Mu’tah, Khalid memimpin seluruh kaum muslimin setelah wafatnya 3 panglima besar Islam yaitu, Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah.
Meskipun kalah jumlah, kecerdasannya dalam taktik perang mampu membalikkan keadaan dan membawa kemenangan bagi kaum muslimin.
Kejadian tersebut membuat Rasulullah SAW menjulukinya sebagai Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus).
Julukan tersebut bukan hanya sebagai pengangkatannya sebagai panglima besar Islam, tetapi juga sebagai simbol kekuatan Islam yang sangat besar.
Setelah itu Khalid selalu mimpin peperangan Islam tanpa terkalahkan.
Ia berhasil dalam peperangan besar dengan bendera Ar-Rayyah di tangannnya.
Bahkan ia berhasil memimpin kaum muslimin dan berhasil menaklukkan 2 Imperium besar, yaitu Romawi dan Persia.
Meskipun selalu berada di tengah pertempuran, Khalid tidak pernah mendapatkan kematian yang selama ini ia dambakan, yaitu syahid di medan perang.
Dalam riwayat disebutkan bahwa di saat-saat terakhir hidupnya, ia berkata:
Aku telah mengikuti begitu banyak pertempuran. Tidak ada satu pun bagian tubuhku yang tidak terkena luka oleh pedang, tombak, atau panah. Namun kini aku mati di atas ranjang seperti matinya seekor unta. Semoga mata para pengecut tidak pernah tidur nyenyak!
Ungkapan ini mencerminkan betapa besar hasrat Khalid untuk wafat sebagai syuhada di medan tempur.
Namun takdir Allah menetapkan jalan lain, Â ia wafat di tempat tidur, sakit, pada tahun 642 M.
Dapat disimpulkan bahwa Khalid adalah sosok panglima besar Islam yang tak terkalahkan.
Cintanya akan perang menumbuhkan keinginan besar dalam dirinya untuk syahid di medan pertempuran.
Namun Allah memilki ketentuan yang pasti selalu ada hikmah di baliknya.
Ulama pun berpendapat bahwa hikmah dari cerita Khalid tersebut adalah sebagai teladan bahwa nilai jihad tidak hanya bergantung pada kematian syahid, tetapi pada pengabdian total kepada Allah. [Khoirul Umam]











