almuhtada.org – Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca saat Ramadan atau ketika ada waktu luang. Ia adalah petunjuk hidup, sumber ketenangan, sekaligus kurikulum pendidikan rohani bagi setiap Muslim.
Namun pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar merasa butuh dan cinta kepada Al-Qur’an?
Tiga Level Bergandengan dengan Al-Qur’an
Cinta kepada Al-Qur’an tidak lahir secara instan. Ia tumbuh melalui kedekatan. Dan kedekatan itu memiliki tahapan. Terdapat tiga tingkatan hubungan manusia dengan Al-Qur’an, yakni (1) membaca, (2) memahami dan mentadabburi, (3) mengamalkan. Ketiganya saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan.
Dalam tingkatan ini, ada kaitannya dengan qira’ah dan tilawah. Secara bahasa, qira’ah berarti membaca.
Dalam praktiknya, qira’ah merujuk pada aktivitas melafalkan Al-Qur’an, meskipun belum sepenuhnya memahami maknanya.
Adapun tilawah memiliki makna yang lebih dalam. Tilawah bukan sekadar membaca, tetapi membaca dengan mengikuti, memperhatikan, dan berusaha memahami kandungannya. Jadi, tilawah lebih luas dan lebih mendalam daripada sekadar qiraah.
Allah wt. berfirman:
وَٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَـٰهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ يَتْلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُو۟لَـٰٓئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِۦ
Artinya: “Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya (haqqa tilawatih), mereka itulah yang beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah: 121)
Membaca dengan bacaan yang sebenarnya mencakup bacaan yang benar, pemahaman, serta upaya mengamalkan.
Ketika kita terbesit keinginan untuk membaca Al-Qur’an, segera ambil mushaf. Jangan ditunda. Niat baik itu mahal. Jika ditunda, bisa saja ia menguap begitu saja. Rasa ‘ingin membaca Al-Qur’an’ adalah panggilan. Bisa jadi Allah sedang menginginkan kita berlama-lama bersama firman-Nya.
Ihsan dalam Interaksi dengan Al-Qur’an
Hubungan dengan Al-Qur’an bisa ditingkatkan pada level ihsan, yakni melakukan sesuatu dengan kualitas terbaik.
- Iksan al-Tilawah (Membaca dengan Baik)
Membaca dengan tartil, memperhatikan tajwid, tidak tergesa-gesa, dan menghadirkan hati.
- Ikhsan al-Tadabbur (Mendalami Makna)
Tadabbur berarti merenungkan makna ayat, mengaitkannya dengan kehidupan. Misalnya, menghafal satu ayat lalu menyelami artinya ketika dalam kehidupan kita menjumpai situasi yang mirip dengan kandungan ayat tersebut, kita langsung teringat kepada firman Allah.
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ
Artinya: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24)
Jika hari ini kita belum menemukan jawaban atas masalah hidup dari bacaan Al-Qur’an, setidaknya kita mendapatkan ketenangan. Dan ketenangan itu sendiri adalah nikmat besar.
- Ihsan al-Jihah (Mengamalkan Arah dan Nilainya)
Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dijalankan. Ketika membaca ayat tentang keadilan, kita berusaha adil.
Ketika membaca tentang kepedulian terhadap saudara Muslim, kita tergerak membantu, termasuk peduli pada saudara kita di Palestina dan wilayah lainnya
Al-Qur’an adalah kurikulum kehidupan. Ia membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak.
Tanda Kita Sudah Dekat dengan Al-Qur’an
Bagaimana tanda seseorang mulai dekat dengan Al-Qur’an?
Salah satunya adalah hatinya menjadi lembut dan mudah berbuat baik. Al-Qur’an memiliki mukjizat luar biasa dalam mengubah hati manusia.
Lihatlah kisah Bilal bin Rabah. Dalam siksaan berat, ketika ditindih batu besar dan dipaksa kembali kepada kekafiran, ia hanya mengucapkan, “Ahad… Ahad…” (Maha Esa). Sebuah kalimat tauhid yang tertanam kuat di hatinya.
Umar bin Khattab pun luluh hatinya ketika mendengar ayat-ayat awal Surah Thaha dibacakan oleh adiknya. Dari keras menjadi lembut. Dari penentang menjadi pembela Islam.
Itulah mukjizat Al-Qur’an. Ia mengubah arah hidup seseorang.
Jika kita ingin merasakan perbedaannya, sediakan satu waktu khusus setiap hari untuk Al-Qur’an. Tidak perlu lama, tetapi konsisten.
Sedikit demi sedikit, kita akan merasakan hati lebih tenang, emosi lebih terkendali, pikiran lebih jernih, kepedulian terhadap sesama meningkat, dan yang paling penting, kita mulai merasa bahwa hidup tanpa Al-Qur’an terasa ada yang kurang.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dilantunkan dengan suara indah. Ia adalah petunjuk hidup.
Ketika kita terus mengaitkan setiap kebaikan dengan Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjadi pusat orientasi hidup kita.
Kita tidak lagi membaca karena kewajiban semata, tetapi karena kebutuhan.
Kita tidak lagi membuka mushaf karena terpaksa, tetapi karena rindu.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai Al-Qur’an, yang merasa butuh kepadanya, yang membacanya dengan baik, mentadabburinya dengan sungguh-sungguh, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Barakallahu fiikum. [] Rezza Salsabella Putri










