almuhtada.org – Siapa di antara kita yang tidak pernah stres? Rasanya hampir semua orang pernah mengalaminya.
Stres sudah menjadi bagian yang tidak asing dalam kehidupan manusia yang penyebabnya sendiri beragam, entah karena tekanan urusan dunia, konflik dengan sesama, atau kegelisahan akibat kesalahan diri sendiri.
Ada kalanya ketika stres menghampiri hati kita terasa sempit, pikiran penuh, dan langkah terasa berat.
Islam tidak memungkiri rasa itu. Justru, Islam menghadirkan jalan keluar yang sederhana namun mendalam untuk menenangkan jiwa karena stres yakni dengan berdzikir.
Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Irfan Rizki Haas menjelaskan bahwa jenis stres yang berbeda ada cara menghadapinya dengan dzikir yang berbeda pula.
Dzikir yang bukan sekadar ucapan lisan, melainkan kesadaran makna yang menguatkan hati dan meluruskan kembali orientasi hidup seorang hamba.
Stres Karena Dunia: Kembalikan Tauhid
Ketika stres muncul karena urusan dunia, seperti halnya karir, harta, masa depan, atau rasa takut kehilangan dan berbagai hal duniawi lainnya, maka ucapkanlah :
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Tiada Tuhan selain Allah”, kalimat tauhid ini menegaskan bahwa tidak ada yang pantas disembah, ditakuti, atau diagungkan selain Allah. Dunia bukan tujuan akhir, dan masalah dunia tidak pernah lebih besar dari kekuasaan-Nya.
Mengucapkan kalimat ini di saat stres adalah latihan tauhid yang menyadari bahwa sumber ketenangan bukan pada dunia, tetapi pada Allah SWT yang mengatur dunia.
Stres Karena Orang Lain: Sadari Keterbatasan
Ketika stres datang dari sikap orang lain, baik itu perkataan yang menyakitkan, perlakuan tidak adil, bahkan konflik sosial maka dzikir yang dianjurkan adalah:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tiada daya dan kekuatan selain dari (pertolongan) Allah SWT”, Kalimat ini mengajarkan bahwa tidak ada daya dan kekuatan pada diri manusia, kecuali atas izin Allah. Kita tidak mampu mengendalikan orang lain, tetapi Allah mampu mengendalikan segalanya.
Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Musa Al-Asy’ari:
يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu harta simpanan surga? Ucapkanlah: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dzikir ini menenangkan hati karena mengajarkan berserah bukan menyerah, meyakini bahwa Allah-lah sebaik-baik pengatur keadaan dan kepada-Nya lah kita dapat menyandarkan harapan.
Stres Karena Diri Sendiri: Lunakkan Hati
Ada kalanya stres tidak datang dari luar, tetapi bisa dari dalam diri kita sendiri.
Hal yang membuat stres dapat berupa penyesalan, rasa bersalah, insecure, overthinking, atau hal lain yang saat ini penuh banget di kepala kita.
Dalam kondisi ini, dzikir yang dianjurkan adalah istighfar:
أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya”, istighfar bukan sekadar permohonan ampun, tetapi juga pengakuan bahwa manusia lemah dan membutuhkan rahmat Allah.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا
“Barang siapa membiasakan istighfar, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesedihan dan kesempitan.” (HR. Abu Dawud)
Stres bukanlah hal yang menyenangkan, maka mari kita hadapi dengan melibatkan Allah dalam penyelesaiannya.
Tauhid menenangkan saat dunia menekan, tawakal menguatkan saat manusia mengecewakan, dan istighfar melapangkan saat diri sendiri terasa berat.
Dzikir-dzikir ini sederhana di lisan, tetapi besar dampaknya bagi jiwa asal diucapkan dengan kesadaran dan keyakinan.
Wallahu a’lam bishawab. [] Rezza Salsabella Putri











