Almuhtada.org – Diceritakan oleh Sahabat Al-Bara Ibnu Azib RA, ketika mereka berada di kota Madinah ada salah seorang sahabat nabi Qais bin Shirmah yang ikut berpuasa bersama Nabi Muhammad Saw. di awal-awal kewajiban bulan suci Ramadan.
Ketika sahabat nabi ini pulang, menjumpai istrinya dan bertanya kepada istrinya “Apakah engkau punya makanan untuk dimakan pada saat berbuka puasa?”. Kata istrinya menjawab, “Tidak ada makanan, akan tetapi akan ku carikan makanan untukmu”. Ketika istrinya pulang dari perginya mencari makanan, istrinya mendapati ia tengah tertidur. Istrinya berkata “Celakalah engkau, dikarenakan pada waktu itu siapa yang tertidur pada masuk waktu berbuka, maka mereka tidak diperbolehkan lagi untuk makan”.
Singkatnya, keesokan harinya, ketika ia sedang berpuasa di esok hari, ia pingsan. Yang kemudian cerita ini sampai ke telinga Nabi Muhammad. Kemudian Allah Swt. menurunkan ayat dalam surah Al-Baqarah ayat 187 yang artinya, “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.”
Inti dari kisah Qais bin Shirmah yang tidak mendapati makanan ketika pulang. Lain dengan kita yang hampir sepanjang umur kita, selalu kita jumpai makanan di waktu berbuka. Akankah kita mengkufuri nikmat Allah Swt, mungkin kita adalah orang yang pantas untuk mensyukuri nikmat Allah Swt.
Yang diceritakan oleh Utbah Ibnu Ghazawan, ia menceritakan “Aku menyaksikan diriku sendiri bersama 7 orang sahabat termasuk Nabi Muhammad Saw. Kami tidak ada yang bisa dimakan melainkan daun pepohonan, sampai-sampai gusi kami berdarah dikarenakan daun tersebut. Bisa dibayangkan orang yang paling mulia, dan umat yang paling afdol (para sahabat), mereka mengalami kehidupan yang seperti tadi di masa-masa yang rasul pernah menceritakan, Allah Swt. pernah menawarkanku, agar Allah menjadikan pasar atau tempat yang bernama batha di kota Makkah untuk diubah menjadi emas, kata Rasul “Tidak wahai rabbku, tetapi aku ingin merasakan lapar sehari dan kenyang sehari”, “agar ketika lapar, aku akan berdoa kepada engkau, dan apabila aku kenyang aku akan memuji engkau dan bersyukur kepada engkau”.
Bukan berarti kita dianjurkan untuk hidup susah atau miskin, tetapi banyak anjuran di dalam Al-Quran dan Hadis yang menganjurkan kita untuk bersyukur.
Kalau kita lihat perbandingan di zaman kita sekarang dengan zaman rasul itu sangat berbeda, maka apa yang berbeda? Rasa syukur kita. Maka banyak-banyaklah kita bersyukur atas nikmat-nikmat, atas makanan-makanan yang kita dapatkan dari Allah Swt.
Jika kita bayangkan diri kita sendiri, jumlah makanan kita, jumlah makanan yang kita makan jika dibandingkan dengan pada zaman Nabi dahulu, maka tidak bisa dibandingkan, jangankan pada zaman nabi, di beberapa wilayah belahan bumi tadi, masih jauh dibandingkan dengan apa yang kita jumpai di rumah-rumah kita.
Dari sini termasuk amalan yang juga disyariatkan adalah untuk bersyukur kepada Allah Swt. sehingga Ramadan mengajarkan untuk bersabar dan bersyukur.
Kisah ketabahan sahabat mengajarkan kita makna sejati dari sebuah nikmat. Kekayaan hati tidak diukur dari seberapa melimpahnya hidangan di meja makan, melainkan dari seberapa peka kita menyadari bahwa setiap suap makanan adalah karunia langsung dari Allah Swt.
Ramadan hadir bukan sekadar rutinitas menahan lapar, tetapi sebagai ruang spiritual untuk melembutkan jiwa dan mengikis kelalaian kita.
Pada akhirnya, rasa sabar dan syukur yang diajarkan oleh bulan suci ini harus bertransformasi menjadi ketaatan yang nyata.
Dengan mengingat mereka yang hidup dalam keterbatasan, empati kita akan semakin terasah.
Mari jadikan setiap momen berbuka bukan sekadar waktu menuntaskan dahaga, melainkan titik temu yang indah antara hamba yang pandai berterima kasih dengan Sang Maha Pemberi Rezeki.
Penulis: [] Raffi Wizdaan Albari











