Meme dan Seni Bercanda ala Gen-Z

Ilustrasi sebuah meme orang berbadan terang dengan teks penjelasan “terus terang” (pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Gen-Z tumbuh bersama internet cepat dan media sosial yang tidak pernah tidur. Humor mereka pun ikut berubah seiring berjalannya waktu.

Meme biasanya hadir dengan bentuk yang singkat dan sederhana. Kadang meme terlihat tidak jelas maksudnya. Namun, justru di situ letak lucunya.

Bercanda ala Gen-Z tidak selalu ingin membuat semua orang tertawa. Tujuannya bukan untuk humor massal. Cukup membuat orang yang paham merasa terhubung.

Saat melihat meme tertentu, muncul perasaan, “oh, aku ngerti.” Perasaan sefrekuensi itu yang dicari.

Tidak semua orang harus paham. Yang penting, ada rasa nyambung itu sudah cukup.

Menurut saya, meme muncul sebagai reaksi dari dunia yang terasa makin berat. Tugas dan tuntutan hidup sering menumpuk. Masalah ekonomi dan tekanan sosial juga ikut hadir.

Semua itu lalu diubah menjadi bahan bercanda. Meme menjadi tempat meluapkan rasa capek dan kesal. Meme bukan dibuat untuk kabur dari masalah. Ia justru menjadi cara untuk bertahan.

Dengan meme, tekanan hidup bisa ditertawakan sejenak. Tertawanya mungkin kecil. Rasanya juga kadang pahit. Tapi itu cukup membantu. Setidaknya memberi ruang bernapas. Meski sebentar.

Laporan digital 2023 dari We Are Social menyebutkan bahwa Gen-Z menghabiskan banyak waktu di media sosial setiap hari.

Aktivitas ini dilakukan hampir tanpa jeda. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa konten hiburan paling sering dibagikan, dan meme termasuk di dalamnya.

Baca Juga:  Suci Pada Siang Hari Bulan Ramadhan, Wajib Berpuasakah?

Humor menjadi bagian penting dari aktivitas digital Gen-Z. Jika disederhanakan, humor di internet membantu orang merasa lebih terhubung.

Dunia digital bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa henti. Di tengah kondisi itu, meme menjadi pengikat sosial. Orang merasa ditemani Meski hanya lewat layar, rasa kebersamaan tetap terbentuk.

Hal menarik dari meme Gen-Z adalah caranya melawan pola humor lama. Tidak selalu ada lelucon yang jelas. Kadang hanya gambar buram yang sulit dimengerti, ada juga tulisan aneh yang terasa acak.

Referensinya sering kali sangat spesifik. Kekacauan itu justru menjadi ciri khas. Meme tidak berusaha terlihat rapi. Bercanda ala Gen-Z juga tidak selalu sopan.

Namun, semuanya terasa jujur apa adanya sesuai dengan perasaan pembuatnya. Itulah yang membuatnya terasa dekat.

Beberapa penelitian di Journal of Youth Studies juga menunjukkan bahwa humor digital membantu anak muda membangun rasa kebersamaan.

Meme menjadi alat berbagi perasaan. Banyak orang merasa mengalami hal yang sama. Jika disimpulkan secara sederhana, meme membuat Gen-Z merasa tidak sendirian.

Perasaan itu cukup menenangkan. Tertawa bersama tidak harus bertatap muka. Lewat layar pun tetap terasa. Ada rasa lega saat melihat meme yang relevan. Ada rasa dimengerti meski hanya sebentar. Tapi efeknya nyata, dan itu penting.

Meski begitu, meme juga butuh kepekaan. Tanpa konteks yang tepat, sebuah meme bisa disalah artikan. Candaan yang terasa lucu di satu kelompok bisa melukai kelompok lain. Di sinilah seni bercanda diuji.

Baca Juga:  Meme Sebagai Bahasa Baru, Bagaimana Perkembangannya?

Bukan soal membatasi humor, tapi memahami dampaknya. Bagi saya, meme adalah gambaran zaman. Ia menyimpan rasa lelah dan keresahan. Harapan Gen-Z juga ikut terekam di dalamnya.

Semua disajikan dalam bentuk sederhana. Namun, maknanya tidak sesederhana tampilannya. Seni bercanda ini mungkin tampak sepele. Banyak orang menganggapnya tidak penting.

Padahal justru di situlah kekuatannya. Di tengah dunia yang ribut dan penuh tekanan, Gen-Z memilih tertawa. Bukan karena hidup selalu baik-baik saja, sebab tertawa adalah cara paling manusiawi untuk bertahan.[]Ikmal Setiawan

Related Posts

Latest Post