Moderasi Beragama : Toleransi Dalam Bingkai Syari’at Islam

Moderasi antar umat beragama
Gambar ilustrasi moderasi antar umat beragama (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Moderat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem, berkecenderungan ke arah dimensi atau jalan tengah.

Moderat juga seringkali disebut dengan gerakan moderasi beragama yang berkembang secara global dan merupakan perkembangan dari globasisasi yang didukung oleh banyak negara.

Kata moderat sering dikaitkan dalam posisi tengah. Dan dalam istilah politik yaitu “tidak ke kanan dan tidak kekiri”, hal ini tentunya bertujuan untuk menghindari perilaku ekstrim dalam beragama. Dalam bahasa arab, sikap ini dikenal dengan istilah Washitiyah yang berasal dari akar kata “wasatha”. Menurut Muhammad bin Mukrim bin Mandhur al-Afriqy al-Mashry, pengertian wasathiyah secara etimologi berarti:

وَسَطُ الشَّيْءِ مَا بَيْنَ طَرْفَيْهِ

Artinya: “sesuatu yang berada (di tengah) di antara dua sisi.

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Moderat dan Washitiyah memiliki arti yang sama, yakni berada di tengah.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya istilah Moderat, hal ini tak lepas dari perkembangan zaman dan berbagai peristiwa yang melibatkan umat Islam dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai umat Islam, kita tentu tidak akan lupa dengan peristiwa teror pada tahun 2001 tepatnya di Amerika Serikat yang bisa dikatakan mengubah prespektif dunia terhadap Islam, berbagai media nasional maupun internasional begitu intens menyoroti hal tersebut.

Tentu, hal ini meninggalkan trauma tersendiri bagi sebagian umat Islam yang hidup sebagai minoritas, lain halnya di Indonesia yang mana sebagian besar masyarakatnya memeluk Islam tentu pantangan dan tantangan dalam beragama tidak sesulit saudara kita yang ada di sana.

Baca Juga:  Peran Politik Perempuan dalam Sejarah Peradaban Islam

Sikap ekstrimisme dalam beragama bukanlah hal yang bijak, mengingat Islam adalah agama yang penuh kedamaian dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Tentunya, sikap dan perbuatan kita juga harus bisa merepresentasikan hal tersebut.

Berbicara mengenai moderasi beragama, tentunya salah satu prinsip yang harus dijunjung tinggi adalah Toleransi, saling menghargai antar umat beragama adalah kunci untuk tetap menjaga persatuan dan meminimalisir munculnya konflik.

Tapi, sayangnya, ada beberapa oknum yang memaknai toleransi secara ugal-ugalan bahkan sampai melenceng dari aqidah yang lurus.

Mungkin teman-teman ada yang pernah mendengar berita di suatu tempat ibadah yang sedang merayakan hari raya namun terdapat pemeluk agama lain yang turut menyertai dalam rangkaian acara tersebut, perbuatan ini termasuk dalam mencampur adukkan syariat agama yang mengatasnamakan toleransi.

Padahal, Allah telah memberikan rambu-rambu toleransi dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat 1-5 yang berbunyi:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Artinya: Katakanlah: “Hai orang-orang kafir (1), Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2), Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah (3), Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (4),  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah (5), Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (6) (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Baca Juga:  Masih Sering Menjadi Pertanyaan, Apakah Seorang Muslim Boleh Mengucapkan Selamat Natal? Temukan Penjelasannya Disini!

Toleransi hanya sebatas dalam hubungan sebagai sesama manusia, namun jika ranahnya adalah aqidah dan ibadah, maka umat Islam harus tegas alias tidak boleh mencela-mencle.

Yang sering ditemui dan dianggap umum adalah pengucapan hari raya agama lain, padahal hal tersebut sudah jelas berkaitan dengan aqidah, memberi ucapan selamat sama saja dengan menyetujui perayaan tersebut, padahal sikap yang seharusnya kita ambil adalah cukup membiarkan mereka melaksanakan apa yang diyakini tanpa mengganggunya.

Sikap toleransi harus dilakukan sesuai rambu-rambu, sehingga esensi moderasi beragama dapat terealisasi tanpa harus keluar dari syari’at Islam. [] Hamun Salsabila

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post