Sultan Muhammad Al-Fatih : Pemuda 21 Tahun yang Menaklukkan Konstantinopel

Sultan Muhammad Al-Fatih yang Mampu Menaklukkan Konstantinopel di Usia 21 Tahun
Gambar Ilustrasi Sultan Muhammad Al-Fatih yang Mampu Menaklukkan Konstantinopel di Usia 21 Tahun (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Salah satu kekaisaran terbesar yang pernah ada di dunia yakni Romawi. Wilayahnya amat luas yang mencakup seluruh Eropa, Afrika Utara, hingga Timur Tengah.

Namun kekuasaan Romawi ini terbagi menjadi Kekaisaran Barat dan Kekaisaran Timur. Kekaisaran Timur memiliki ibu kota yang terletak  di jalur darat dari Eropa ke Asia, dan jalur laut dari Laut Hitam ke Laut Mediterania, serta memiliki sebuah pelabuhan yang besar dan masyhur di Tanduk Emas.

Kota yang awalnya bernama Bizantium ini diubah namanya menjadi Konstantinopel. Letak wilayah konstantinopel amatlah strategis karena merupakan perbatasan antara Eropa dan Asia.

Ada kisah yang menarik dari sejarah runtuhnya konstantinopel. Dimana diceritakan bahwa kota ini ditaklukkan oleh pemuda berusia 21 tahun yang bernama Muhammad Al-Fatih atau Sultan Muhammad II.

Ia bersama 150.000 pasukan yang dilengkapi berbagai senjata seperti meriam Basilika yang dibuat dengan teknologi terbaru pada masa itu mampu menaklukkan Konstantinopel.

Walau proses penaklukan konstantinopel memakan waktu yang cukup lama dari segi persiapan hingga pertempuran bahkan juga mengalami titik di mana nyaris menyerah.

Namun karena tekad dan keyakinan akan pertolongan Allah, sultan Muhammad Al-Fatih mampu mengembalikan semangat para prajurit untuk tetap melanjutkan misi menaklukkan konstantinopel.

Saat menyusun ulang strategi ketika kapal-kapalnya dihalangi oleh rantai besi yang terpasang di sekeliling perairan sekitar Konstitusional, Ia memerintah pada pasukannya untuk membawa kapal melawati dua bukit.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Imam Ghazali Saat Memberi Minum Seekor Lalat

Ide ini awalnya ditentang oleh bawahannya yang mengatakan hal tersebut sungguh mustahil. Namun dengan kekehnya Muhammad Al-Fatih berkata “Jangan bilang pada saya tidak mungkin sebelum kamu mati dalam mencoba”.

Konstantinopel ditaklukkan bukan semata-mata untuk kekuasaan, namun ini adalah bagian dari perluasan agama Islam dan jihad fisabilillah.

Tentunya dalam berperang juga menerapkan ketentuan yang ada dalam aturan Islam yakni seperti tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, orang tua, orang yang tidak berdaya, dan lain sebagainya.

Namun perlu di highlight dalam kisah ini adalah fakta bahwa panglima perang penaklukan Konstantinopel adalah seorang pemuda berusia 21 tahun. Tentu hal tersebut merupakan prestasi yang luar biasa, mampu memimpin 150.000 pasukan dan berhasil menaklukkan kota penting dalam Imperium Romawi Timur.

Sultan Muhammad Al Fatih dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, di mana beliau menguasai ilmu ekonomi, fisika,  bahasa, sejarah dan tentunya strategi perang.

Beliau juga sosok yang memiliki tekad dan kemauan yang kuat sehingga membawanya sampai pada keberhasilan dalam menaklukkan Konstantinopel atau yang sekarang ini disebut dengan Hagia Sophia.

Karakteristik sifat Sultan Muhammad Al-Fatih inilah yang perlu kita teladani sebagai generasi muslim pada era di mana agama Islam mengalami kemunduran dalam berbagai aspek.

Seorang pemuda muslim harus menjadi agent of change dalam mengembalikan citra Islam yang kian meredup. Figur Muhammad Al-Fatih menjadi teladan bagi generasi muslim bahwa perjuangan dengan diiringi ilmu pengetahuan dan dilandasi demi agama Islam akan mendatangkan pertolongan dan Rahmat Allah SWT. [] Hanum Salsabila

Baca Juga:  Tongkat Estafet Perubahan Masyarakat Ada Dipundak Pemuda

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post