The Guardian of Al-Quds: Pertolongan Allah Sungguh Dekat!

Sejarah Perkembangan Al-Quds di Masjidil Aqsa
Sejarah Perkembangan Al-Quds di Masjidil Aqsa (Pinterest - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Al-Quds merupakan bagian dari kompleks masjid Al-Aqsha di Yerussalem, sejak dahulu tempat ini menjadi hal yang sangat krusial bagi tiga kelompok umat beragama yakni Islam, Kristen dan Yahudi.

Dalam Islam sendiri Al-Quds menempati posisi penting dan merupakan bagian tak terpisahkan dari Masjid Al-Aqsha. Dimana di Masjid suci inilah Rasulullah SAW memulai Isra Mi’rajnya dan juga menjadi imam sholat bagi para Nabi dan Rasul terdahulu.

Maka tidak heran banyak sekali pemimpin-pemimpin besar Islam yang berusaha untuk melindungi Masjid suci ini, selain karena sejarahnya tetapi juga karena keberkahan yang terdapat di dalamnya. Ada dua tokoh pemimpin yang disebut sebagai guardian of Al-Quds yakni:

Umar bin Khattab

Guardian pertama hadir pada masa Khulafaur Rasyidin, Khalifah Umar bin Khattab. Pada waktu itu beliau berusaha membebaskan Al-Quds (Yerussalem) dari genggaman Kerajaan Romawi Timur.  Saat pembebasan Al-Quds kala itu Umar bin Khattab tidak berperang.

Karena sebagian wilayah syam termasuk Palestina (Al-Quds) mudah ditaklukan sebab Perang Yarmuk ke 13 memberikan dampak yang cukup siginifikan terhadap kekuatan tentara Romawi Timur di Timut Tengah.

Kemudian setelah pembebas ini, Khalifah Umar datang ke Yerusallem, Palestina untuk bertemu dengan pembesar Romawi Sophronius. Dikisahkan bahwa  setelah menandatangani perjanjian dengan pembesar Romawi untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan orang-orang  kristen di Palestina.

Baca Juga:  Keikutsertaan Indonesia dalam Membantu Palestina

Khalifah Umar dipersilahkan untuk sholat di Gereja Makam Qudus (masih satu kompleks dengan Al-Aqsha). Akan tetapi, khalifah Umar menolak sebab dikhawatirkan tempat yang ia sholati akan dijadikan Masjid oleh orang-orang Muslim

Shalahuddin Al-Ayyubi

Kemudian guardian yang kedua adalah Salahuddin Al-Ayyubi seorang panglima tangguh dari Mesir yang berasal dari suku Kurdi,Irak. Perjuangan beliau dari awal hingga menjadi seorang panglima untuk pembebasan Al-Quds tidak lah mudah. Terutama menghadapi tentara Salib Kristen yang saat itu masih menguasai Yerusallem.

Diketahui jumlah pasukan salib lebih banyak dari pasukan muslimin yang dipimpin oleh Salahuddin. Namun, kondisi ini tidak membuat takut Salahuddin apalagi para tentaranya.

Dengan semangat dan penuh pengorbanan pasukan muslimin akhirnya bisa mengambil alih Al-Quds tepatnya pada hari Jumat, 27 rajab 583 H/2 Oktober 1187 bertepatan dengan perayaan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.  Salahuddin akhirnya bisa mengambil alih Al-Quds dan menjaga kembali kehormatan dari tempat yang sakral ini.

Lalu bagaimana dengan Guardian of Al-Quds sekarang?

Tentu yang menjaga kehormatan dari Al-Quds sekarang adalah kita para generasi muslim yang seharusnya menjaga Masjid ini dari segala kehinaan. Sebab mendapatkannya adalah perjuangan yang tak mudah dan itu sudah dialami oleh para pemimpin kita terdahulu.

Akan tetapi kondisi Yerussalem yang berada dibawah jajahan Israel saat ini membuat kaum muslimin sulit untuk mengakses lokasi Masjid Al-Aqsha maupun Al-Quds.

Baca Juga:  Segera Persiapkan! Inilah Rute Perjalanan Kehidupan Manusia

Hingga akhirnya Al-Quds sekarang hanya bisa dijangkau oleh muslim Palestina dan itupun masih saja terjadi kekerasan ketika orang muslim ingin beribadah di Masjid tersebut. Banyak perlawanan yang sudah dilakukan Masyarakat Palestina agar bisa mempertahankan masjid ini.

Ketika mereka mencoba melindungi kehormatan dan kesucian pada Masjid tersebut, maka Zionis Israel semakin gencar untuk menakuti dan menyiksa para guardian.

Tujuannya apa? Agar Al-Aqsha dan Al-Quds ini ditinggalkan sehingga mereka bisa membangun kuil Solomon yang dijanjikan. Padahal muslimin sekalipun tidak akan pernah meninggalkan salah satu wasiat berharga dari Rasulullah SAW.

Dan Guardian of Al-Quds selalu percaya akan datangnnya pertolongan Allah. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang terdapat dalam kitab Arbain An-Nawawiyah ke 19 yang artinya:

“Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata: Suatu saat saya berada dibelakang nabi shallallahu`alaihi wa sallam,maka beliau bersabda: Wahai anakku, saya akan mengajarkan kepadamu empat perkara: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika suatu umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat danlembaran telah kering”. (Riwayat Turmuzi: Haditsnya hasan shahih).

Baca Juga:  Sejarah Peradaban Islam: Daulah Umayyah di Andalusia

Pondasi kuat para guardian of Al-Quds adalah keimanan mereka yang selalu menuntun pada keberanian dan sifat bijaksana serta tak mengharapkan duniawi yang berlebihan.

Dan terakhir mereka selalu percaya dengan datangnya masa kemenangan serta keyakinan bahwa pertolongan Allah itu sangatlah dekat. Kita bisa menjadi bagian dari Guardian of Al-Quds, caranya dengan meneladani karakter-karakter baik yang ada dlam diri Guardian of Al-Quds. [] Andhika Putri Maulani

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post