Perlu Tamparan Keras?

Oleh: Zahrotuz Zakiyah

Karena dengan kata semangat saja baik dari siapapun itu, jika bukan diri kita sendiri yang memulai semua itu pasti kita akan tetap berada pada keterpurukan.

Tamparan keras bukan berarti kita butuh seseorang untuk menampar pipi kita dengan keras sehingga meninggalkan jejak jari jemari di pipi kita. Tamparan keras ini mungkin bisa dengan perkataan yang pedas atau semacamnya. Tujuannya yaitu untuk membuat kita sadar atau bangkit dari keterpurukan.

Pada saat diri merasa kacau, lupa diri atau sedang mabuk. Omongan atau nasehat apapun itu sudah tidak mempan lagi, maka saat itulah tamparan yang membuatnya sadar. Dan disaat seperti ini terjadi, saya yakin mayoritas dari kita tidak lagi membutuhkan semangat dari siapapun. Karena dengan kata semangat saja baik dari siapapun itu, jika bukan diri kita sendiri yang memulai semua itu pasti kita akan tetap berada pada keterpurukan.

Terkadang kekerasan atau kritikan tajam dan menusuk membuat orang lain menjadi salah paham, namun percayalah bahwa semua itu tidak selalu bernilai negatif. Adakalanya kita memang sangat membutuhkan kritikan itu, tanpa adanya kritikan kita tidak akan mengerti dimana letak kesalahan kita. Jika sebagian dari kita menganggap bahwa pujian lebih membuat kita menjadi bersemangat, namun sebagian dari kita ada yang mengganggap bahwa pujian ini menjadikan diri kita lebih santai sehingga tidak ada lagi kemajuan dari diri kita.

Baca Juga:  Memaafkan Atau Balas Dendam?

Saya sering menonton drama yang bergenre game, dari situlah saya mengerti bahwa tamparan keras itu memang perlu. Seperti dalam drama, disitu diceritakan adanya seorang pemain dengan performa yang sangat bagus tetapi dia memiliki kekurangan pada fisiknya. Dia cacat dalam kakinya karena kecelakan, dengan kecacatannya itu menjadikan dia tidak percaya diri untuk dapat menjadi pro player. Walaupun dari sebuah tim mengajaknya bergabung untuk menjadi bagian dari mereka dengan tujuan meraih kejuaraan dan menjadikannya pro player, namun semua itu tetap ia tolak karena kekurangan fisiknya tersebut. Hingga datanglah seorang dari salah satu tim yang ingin merekrutnya itu, dia menghampiri dengan emosi yang memuncak. Saat tepat dihadapaanya, seseorang itu mengatakan dengan sejujurnya bahwa memang orang cacat fisik tidak akan mampu menjadi seorang pemain yang profesional.

Perkataan tersebut pasti sangatlah menusuk, hingga seorang yang cacat tersebut pun terpancing emosinya dan memberontak dengan keras. Dia mengatakan dengan percaya diri bahwa ia mampu dan akhirnya dia pun menerima tawaran tersebut. Dari situ kita dapat mengambil kesimpulannya bahwa tamparan keras itu memang sangat diperlukan bagi mereka yang sedang terpuruk. Perkataan itu memang sebuah hinaan yang negatif, tetapi bukan berarti bernilai negatif.

Seperti halnya kita perlu merasakan gagal untuk menjadi sukses. Dan seperti yang kita tahu juga, Allah menurunkan bencana yang besar itu adakalanya memang benar-benar cobaan atau mungkin bisa jadi tanpa kita sadari itu adalah sebuah tamparan untuk kita.

Baca Juga:  Makna Kemerdekaan bagi Generasi Muda Indonesia

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Teks asli: https://creationzaki.wordpress.com/2021/09/05/perlu-tamparan-keras/

Related Posts

Latest Post