1 = 100 = 1.000.000 = 100.000.000

Oleh: Rayyan Alkhair

                Jika kita melihat sekilas persamaan diatas, maka yang akan terlintas pada pikiran kita adalah bahwa angka-angka diatas adalah soal logika aritmatika yang ada pada tes psikotes. Hal tersebut tidak salah, namun yang akan penulis bahas pada kesempatan kali ini bukanlah tips & trik pengerjaan soal-soal aritmatika. Penulis akan membahas sebuah proverb yang diucapkan oleh Jalaluddin Rumi, seorang filsuf Islam pada abad ke-9.

            Dalam beberapa kesempatan, Rumi yang merupakan seorang terpelajar, memberikan ceramah/kuliah umum kepada khalayak. Ceramah/kuliah umum tersebut kemudian dikodifikasi oleh para muridnya menjadi sebuah buku yang terkenal di barat dengan nama “the discourse of rumi” atau dengan nama asli “Fiihi ma fiihi”. Dalam suatu kesempatan, Rumi mengatakan bahwa “…. satu sama dengan seratus dan sama dengan sejuta..” , apa makna perkataan tersebut ?

            Menurut penulis, setidaknya ada dua makna dibalik perkataan rumi yang mirip dengan soal logika aritmatika dalam tes psikotes. Makna pertama adalah, sesuatu yang dimaksud sangat tidak penting/berguna/bermanfaat, dimana ketika “sesuatu” itu berjumlah satu atau berjumlah sejuta, keberadaannya sangat tidak penting bahkan jumlah pun tidak bisa menambah kegunaan/arti daripada “sesuatu” itu.

            Hal ini dapat kita ketahui ketika kita melihat sesuatu seperti “buih” di lautan atau di genanan air. Buih adalah sesuatu yang tidak penting, hal paralel dengan perkataan diatas bahwa baik ketika buih berjumlah satu maupun ketika buih berjumlah satu juta, ia tetap tidak membawa kebergunaan daripada eksistensi buih di seluruh dunia. Buih tidak dicari ketika nelayan melaut, nahkoda mengemudi atau ketika pelancong menyelami laut.

Baca Juga:  Menatap!

            Contoh kedua adalah sesuatu yang bernuansa sosial. masyarakat memiliki sebuah sistem yang membuat keteraturan, keharmonisan dan keamanan tetap terjaga. Masyarakat terdiri dari lingkaran yang semakin kecil, yakni keluarga dan individu didalamnya. Setiap “komponen” dalam masyarakat bekerja dan bersinergi satu sama lain, ketika ada satu komponen yang “anomali” , maka keseluruhan sistem akan terganggu dan ketidak bekerjaan/kehancuran menunggu didepan mata.

            Namun, apa yang kita kategorikan sebagai “komponen” yakni lingkaran kecil dan semakin kecil di masyarakat, tidak semuanya dapat dikatakan sebagai “komponen”. Ada yang seperti “komponen” namun bukan “komponen” itu sendiri, ia bagai lengkuas yang menyamar di kolam penuh semur.

Ada seseorang yang dengan keberadaannya tidak membawa manfaat atau bahkan eksistensinya tidak disadari sehingga ketika orang semacam ini berjumlah satu dalam masyarakat yang kecil atau berjumlah jutaan dalam masyarakat besar seperti negara, keberadaannya tidak membawa manfaat satu dengan yang lainnya, nilai ia dan mereka seperti buih di lautan, terombang ambing mengikuti arus dan tidak dicari oleh siapapun.

            Makna kedua daripada perkataan Rumi diawal adalah bahwa sebenarnya “sesuatu” baik itu konstruksi realita seperti istilah  atau konsep adalah satu, namun orang-orang di dunia yang membuatnya menjadi seakan-akan bervariasi dan memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya sehingga perdebatan kecil terjadi karena ketidak mampuan melihat hakikat daripada “sesuatu” itu.

Baca Juga:  Book Review 'Ketika Barat Memfitnah Islam'

            Sebagai contoh, kata “malas” , kata “santai” kata “istirahat” dan kalimat “masa tenang sebelum badai datang” terkadang sering membuat kesalah pahaman dan perdebatan kecil di masyarakat. Ketika seseorang sedang tidak melakukan apapun atau tidak melakukan pekerjaan utamanya, kata-kata diatas sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi yang sedang mereka lalui.

            Orang yang tidak melakukan apapun atau tidak melakukan pekerjaan utamanya akan mengatakan bahwa ia sedang “santai” atau mengatakan ia sedang “tenang sebelum badai datang”. Namun, orang lain yang melihatnya akan mengatakan bahwa ia sedang “malas-malasan” karena tidak melakukan apapun dan hal ini yang akan memulai perdebatan mengenai 1 = 100 = 1000.000.

            Sejatinya, bila kita menggunakan logika induksi, maka kita akan bisa melihat sisi ekletik daripada istilah-istilah diatas maupun jutaan istilah yang lahir dari manusia dan seakan-akan berbeda satu sama lain. Unsur “tidak melakukan apapun” atau “tidak sedang mengerjakan pekerjaan utama” adalah hal-hal yang ekletik daripada istilah-istilah diatas

Sehingga, pada hakikatnya keragaman dari istilah-istilah diatas adalah sesuatu yang artifisial, semu dan tidak penting. Keberagaman yang ada baik itu sepuluh, seratus maupun sejuta tidak penting sebab pada hakikatnya “sesuatu” itu adalah satu namun ketidak mampuan dalam melihat hakikat dari “sesuatu” yang membuat dualitas terjadi.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

Teks asli: https://rayyanalkhair15.wordpress.com/2021/08/28/1-100-1-000-000-100-000-000/

Baca Juga:  Nasib Petani Dikala Pandemi

Related Posts

Latest Post