Sekarang Sadar

Oleh: Khasiatun Amaliyah

(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah.

Q.S. AN-NISA’ (123)

Seandainya kita diberikan kesempatan memperbaiki kesalahan di masa lalu cukupkah waktu yang diberikan tersebut untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah kita lakukan? Akan tetapi, Maha Suci Allah dengan segala apa yang ditakdirkan kepada hambanya, apa yang telah, dan pernah menyapa di hidup kita. Semuanya tidak lepas dari kehendak dan pengawasan-Nya. Segala peristiwa yang terjadi pun tidak terjadi tanpa alasan, melainkan selalu terselip hikmah, dan pesan cinta serta kasih dari-Nya.

24 jam. Dimulai dari kita balig hingga sekarang. Ada yang sudah kuliah, bekerja, atau malah sudah membangun rumah tangga, mungkin. Berapa tahun waktu yang sudah dilewati? Apakah waktu yang terasa singkat tapi tetap tidak bisa kita menyebutnya sebentar itu, sudahkah waktu selama itu membuat kita belajar? Penyesalan memang selalu datang di babak akhir. Akan tetapi, hal itu lebih baik ketimbang kita tidak pernah menyesal sama sekali dengan perbuatan atau apa pun itu yang sebenarnya salah dan keliru. Terkadang penyesalan lah yang bisa membuat kita mau belajar dan berubah. Semua itu tidak lain adalah salah satu dari banyaknya tanda cinta kasih-Nya kepada kita sebagai makhlu ciptaan-Nya.

Baca Juga:  Peran Santri Dalam Dunia Modern Dengan Identitas Mereka Sebagai Pelajar Lokal Agamis

Memang benar, hidup adalah tempat kita belajar dan berjalan untuk sampai pada tujuan akhir yang sebenarnya. Apabila kita tahu dan paham bahwa hidup adalah tentang belajar, lantas kenapa takut untuk mencoba? Takut mengalami kegagalan? Atau takut memulai usaha-usaha yang merupakan bentuk ikhtiar kita dalam beramal sebagai seorang manusia yang mengumpulkan bekal menghadap-Nya? Lantas, kenapa kita merasa mudah cepat putus asa, menyerah, dan berhenti untuk berbuat kebaikan hanya karena ternyata kita tidak mendapatkan hal setimpal ketika melakukannya di dunia? Padahal tidak selalu Dia akan membalas kebaikan hambanya secara langsung (di dunia) mungkin saja setelah kehidupan ini, yang justru lebih baik bagi kita, andai kita mengetahuinya.

Manusia adalah makhluk yang sering lupa untuk bersyukur. Melalui apa yang telah dimiliki saat ini. Pikirannya selalu cepat berlari ke sana dan ke mari, memikirkan apa lagi yang harus dimiliki setelah ini, pun begitu seterusnya seterusnya. Salahkah? Memiliki target, perencanaan, dan semangat optimisme itu penting. Akan tetapi, sangat disayangkan apabila semua hal baik tersebut justru menjadikan kita menjadi seorang pribadi yang tanpa sadar telah mendewakan diri sendiri. Merasa segala pencapaian, keberhasilan, ketenaran, kesuksesan semuanya adalah hasil jerih payah dan kerja kerasnya. Memang benar, manusia bahkan sering begadang untuk menyelesaikan suatu tugas, proyek, dan lain sebagainya. Bekerja dan berpikir begitu keras dan penuh semangat agar semua rencana bisa berjalan dan sesuai harapan. Akan tetapi, manusia tidak akan mampu melakukan semua itu tanpa pertolongan dari-Nya. Sungguh tidak akan mampu.

Baca Juga:  SKRIPSI, DERITA MAHASISWA SEMESTER TUA

Melelahkan jika setiap perbuatan baik yang kita lakukan dibarengi dengan adanya harapan bahwa orang lain (manusia lain) pun akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Tidak bisa seperti itu. Di sinilah seringkali kita dibuat lalai dan lengah. Merasa kita sudah berbuat baik dan diri kita sudah menjadi pribadi baik. Sebuah renungan untuk kita bersama, pernahkah kita merasa sudah berbuat baik atau sudah merasa diri kita baik yang tanpa sadar dibarengi dengan perasaan menyombongkan diri? Mungkin kita tidak pernah menyadarinya, tapi Dia sungguh Maha Teliti terhadap apa yang kita kerjakan.

Setiap kebaikan sekecil apa pun itu ada pahalanya, ada hadiah dari-Nya. Ketika kita melakukan suatu kebaikan, kebaikan itu tidak lain untuk kita sendiri. Sebaliknya, setiap kejahatan meskipun kecil tetap akan menjadi sebuah perhitungan. Tidak ada salahnya kita untuk terus berbuat baik dan memang kita harus berbuat baik, ada atau pun tidak yang mengapresiasi. Sejatinya semua akan mendapatkan jawaban di akhir keputusan suatu hari nanti.

Kita tidak perlu berdebat memberikan pembuktian. Berbuatlah kebaikan sesuai dengan kadar kemampuan dan kedudukan masing-masing, percayalah semua akan tetap ada perhitungannya. Sebagai seorang manusia, kita tidak pernah tahu dari kebaikan mana yang sejatinya nanti akan menjadi amal terbaik kita dan Dia ridha terhadap amal yang kita kerjakan tersebut. Jadi, mari kita sama-sama berlomba dalam kebaikan dengan hanya mengharap ridha dari-Nya.

Baca Juga:  Resolusi 2024 : “Stop Insecure, Mari Bersyukur!”

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Teks asli: https://worentjourneyme.wordpress.com/2021/08/29/sekarang-sadar/

Related Posts

Latest Post