Aku Sudah “Normal”

Oleh: Natasya Pustika Siregar

Semburat mentari diufuk timur menyinari kulit sawo matangku, suara burung-burung
berkicau terdengar di telingaku. Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Pemda Daerah, aku diajak dengan Bu Endah untuk menghadiri acara senam disana bersama beliau.

“Udah siap stev?” Bu Endah muncul dari balik pintu dan mendekat untuk membetulkan tatanan poni ku yang sedari tadi membuat ku gelisah karena tidak benar-benar rapi.

“Hmm, aku sudah siap bu. Tapi, apakah baik baik saja aku kesana? maksudku, apa tidak akan menimbulkan masalah?”

“Memangnya kenapa? Toh, kita disana akan bersenang-senang dan berjoget ria. Tidak ada yang akan terjadi manis.” Aku menatap Bu Endah dengan sedikit tersenyum agar beliau tidak merasa kesusahan oleh ku.

Bu Endah, wanita berusia 40 tahun ini adalah psikiater ku selama 6 bulan di rumah sakit jiwa dan hari ini adalah hari terakhir ku disini. Beliau sangat perhatian kepada ku bahkan selalu mengajak ku berjalan-jalan untuk menghirup udara segar.

“Stev, kok malah bengong si. Ayok” Bu Endah ternyata sudah Berdiri di dekat pintu hendak keluar dan aku pun mengikuti nya untuk segera pergi ke Pemda Daerah.
***
Bu Endah bergerak dengan energik mengikuti irama senam. Banyak orang disini bahkan bapak bupati pun mengikuti acara senam ini. Aku senang sekali bisa merasakan keramaian ini setelah dipasung selama 8 bulan oleh kelurga ku sendiri karena gangguan bipolar.

Baca Juga:  Realita Sosok Bu Tedjo Dalam Masyarakat Indonesia

Bu Endah lah yang menyelamatkan ku dan aku tidak sendiri bahkan ternyata ada sekitar 80 pasein yang mengalami gangguan kejiwaan yang dipasung oleh kerabat dekatnya. Jujur, itu sangat traumatis sekali untuk ku. Tapi, bisa bangkit dari hal itu adalah hal yang luar biasa untukku
dan tentunya Bu Endah lah yang membantuku.

“Stev kok malah bengong si, kita akan bersenang-senang disini. mari berjoget bersama ku. Setelah itu kita akan berkunjung ke rumah mu yang baru. Oke?” Bu Endah mengatakan itu cukup keras karena aku sedari tadi hanya diam dan tidak percaya diri untuk ikut senam.

Karena tak enak dengan beliau akhirnya aku pun bergerak mengikuti irama senam.

Aku bahagia dan tidak ada yang dapat memasung kebahagiaan aku lagi.

***
Aku dan Bu Endah kini sudah di depan rumah baruku, Bu Endah meraih bahuku dan mengajak ku untuk masuk ke dalan rumah.

“Bu apa lampu nya memang terang seperti ini?” Kata ku pada Bu Endah saat sudah berada di dalam rumah bergaya minimalis ini. Rumah ini adalah pemberian dari Bu Endah karena aku dibuang oleh keluarga ku sendiri.

“Iya memang, aku rasa ini baik untuk mu yang suka membaca buku malam-malam stev.” Bu endah sedikit mentertawakan kebiasaan ku. Aku suka tawa renyah dan hangatnya.

Baca Juga:  Kunci Kebahagiaan Atas Ketetapan Allah

“Terima kasih banyak, bu.”

“Aku harap kamu bisa menjalani hidup mu lebih baik, stev.” Suasana pun berubah menjadi sendu saat Bu Endah mengatakan itu dengan sangat tulus.

“Aku janji bu. Tidak akan ada lagi yang memasung kebahagiaan dan hidup ku.” Aku
memeluk Bu Endah erat, aku rindu ibu tapi aku rasa Bu Endah adalah sosok ibu sekaligus psikater yang sangat baik untuk ku.

Hari ini, hari ini aku keluar dari Rumah Sakit Jiwa.

Aku tidak gila, aku hanya pernah sakit dan sekarang aku “sembuh”.

END

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post