Ada Hikmah Dibalik Masalah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Seseorang pasti memulai perjalanan hidup dari nol. Tidak semua demikian, ada juga mereka yang sudah ditakdirkan langsung sukses, ada juga mereka yang masih terseok-seok dalam kehidupannya.

Kita pribadi pasti sering sekali tertimpa masalah. Tak jarang dari masalah itu, kita justru menyalahkan atau berprasangka buruk terhadap Allah. Sejatinya masalah-masalah yang kita hadapi memang datangnya dari Allah SWT. yang jadi pertanyaan, mengapa Allah memberikan kita masalah dalam kehidupan? Kita diciptakan di dunia ini pada dasarnya itu untuk beribadah kepada Allah, rumusnya dalam Al-Qur’an “Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun” yang artinya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat:56). Maksudnya dari masalah yang kita dapat, kita jangan dulu berprasangka buruk kepada-Nya, justru dari masalah tersebut kita harus bisa bersyukur dan dari rasa syukur itulah kita beribadah kepada Allah. Jadikan segala sesuatu itu sebagai ibadah.

Saya pribadi pernah berada dalam posisi-posisi di mana Allah sedang menguji hambanya. Pada awal saya masuk sekolah dasar, untuk pertama kali juga saya tidak naik kelas. Pada saat itu saya memang menjadi “anak bawang” di kelas karena sebenarnya umur saya belum cukup untuk sekolah, tetapi pada saat itu saya mempunyai keinginan. Akan tetapi belum membuahkan hasil. Lanjut ke kelas dua di sekolah yang berbeda. Lagi-lagi, saya belum mampu untuk langsung naik kelas, bahasa halusnya “guru masih sayang sama aku”.

Penantian untuk langsung naik kelas itu tiba saat aku menginjak kelas tiga, bahkan di luar ekspektasi saya bisa peringkat kelas saat itu, peringkat ke-3 dari 25 murid. Seterusnya sampai lulus kelas enam saya tidak mengalami kendala apa pun di masa itu.

Baca Juga:  Apa Kabar Kuliah Daring?

Di SMP saya bahkan masuk kelas A tiga tahun berturut-turut. Padalah saat SMP itu kelasnya bisa sampai E. Saya dapat dikatakan sebagai siswa yang tidak pintar-pintar amat. Mungkin karena sikap yang membuat saya bertahan di kelas A. Saat SMP saya bahkan terpilih menjadi anggota osis, serta banyak mengikuti kegiatan olahraga dan seni lainnya.

Jika kita selalu berprasangka baik kepada Allah dan menjadikan setiap kegiatan kita itu sebagai ibadah, serta berucap yang baik-baik, maka Allah akan memberikan hal-hal yang baik pula. Terlepas jika ada masalah-masalah lain yang harus kita hadapi, tetapi kita harus tetap berprasangka baik kepada-Nya.

Beranjak ke SMA, saya memilih jurusan bahasa yang sebenarnya bukan tujuan utama. Tujuan utama saat itu adalah sekolah ke SMK dan mengambil jurusan Multimedia, tetapi karena jarak yang terlalu jauh dari rumah, hal tersebut membuat saya tidak diizinkan oleh orang tua saya. Alhasil, saya sekolah di SMA dengan jurusan bahasa. Banyak teman-teman yang bertanya juga saat itu, kenapa tidak mengambil jurusan ipa atau ips sih? Jawabannya karena saya sendiri sudah menyukai bahasa sejak kelas 9 SMP. Oleh karena itu, saya tidak punya pilihan lain selain masuk ke jurusan bahasa. Seperti biasa, pada tahun pertama saya mencalonkan diri sebagai anggota osis dan terpilih sebagai anggota. Di tengah perjalanan sekolah, saya sering sekali berandai-andai. Andai dulu naik kelas terus, pasti sekarang sudah mau lulus SMA.

Baca Juga:  Jika Bukan Kita yang Peduli, Siapa Lagi?

Pada tahun kedua, saya justru dicalonkan sebagai ketua osis. Awalnya saya takut mengemban amanah ini, saking yakinnya bahwa saya dan rekan saya akan menang, kami pada waktu itu ingin mengundurkan diri, tetapi kata pembina tidak boleh dan kami tetap menjadi kandidat bersama 4 pasangan lainnya. Tibalah di hari penghitungan suara. Benar saja, nama yang keluar adalah nama saya dan rekan saya, Ziana Arsety.

Saya kembali berandai-andai, misalkan saya dulu naik kelas terus, pasti tidak bakal bertemu dengan teman-temanku saat ini, tetapi jika naik kelas terus, pasti sudah lulus SMA dan lanjut kuliah. Padahal pada waktu itu, jika saya lulus lebih cepat karena naik kelas terus, saya belum tentu bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Oleh karena itu, saya sekarang sangat bersyukur bisa kuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Negeri Semarang. Dan lebih menantang lagi, untuk pertama kalinya saya berada di Pondok Pesantren, yaitu Pesantren Riset Al-Muhtada. Saya luar biasa bangga bisa masuk 2 tempat belajar yang insyaallah bisa mengubah hidup saya ke depannya.

Sebelum memilih kuliah di Universitas Negeri Semarang, saya bukan tanpa masalah, justru saat itu saya hampir menyerah oleh keadaan. Mulai dari orang tua yang masih kesulitan ekonomi, terus jurusan yang tidak mereka sukai, dan biaya kos-kosan yang lumayan karena pada saat itu memikirkan biaya kuliah juga. Tetapi saya tetap yakin akan takdir Allah. Aku pun melanjutkan semuanya dan orang tua saat itu harus mendukung. Setelah diterima di universitas dan ada ukt yang harus dibayar, orang tua kembali mematahkan semangatku untuk kuliah. Bukan tanpa alasan, sebab membayar ukt yang sekian juta, belum lagi membayar kosan dan juga uang makan. Di situ saya masih belum menyerah, keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang mau berusaha. Dan syukur, saya mendapat pesan yang isinya adalah semacam formulir pendaftaran di Pesantren Riset Al-Muhtada. Saya sendiri sebenarnya tidak yakin, tetapi apa salahnya mencoba. Hasilnya saya diterima dan tak perlu repot-repot membayar kos-kosan karena Pesantren bebas uang asrama dan pendidikan, Alhamdulillah.

Baca Juga:  Utilitarian Dan Kelabilan Nilai Moral

Sesuatu yang seperti ini tidak akan saya dapatkan jika saya selalu mengeluh akan keadaan, berprasangka buruk terhadap Allah dan meninggalkan kewajiban-Nya. Di masa-masa sulit seperti ini yang justru membuat saya bangkit, saya dapat banyak masukan dari kakak kelas, bahwasannya harus berusaha, serta berdoa menjadi jalan menuju itu semua.

“Allah punya jalan masing-masing bagi setiap hamba-Nya. Jangan pernah mengeluh dan jangan berprasangka buruk. Jadikan setiap masalah sebagai ibadah kita kepada-Nya. Bersyukur atas apa yang diberikan oleh-Nya, baik itu kesenangan atau kesedihan”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post