HUJAN EMAS ATAU HUJAN BATU?

Oleh:

Sudarto

Pernahkah Anda mendengar peribahasa “dari pada hujan emas di negeri orang, lebih baikhujan batu di negeri sendiri”. Peribahasa ini bermakna bagaimanapun senangnya di negeri orang, masih lebih baik di negeri sendiri. Namun apakah peribahasa ini masih relevan dengan kenyataan yang ada, hal ini yang perlu kita cari tahu kebenarannya.

Peribahasa ini menyuruh kita sebagai masyarakat Indonesia untuk selalu bangga dan cinta kepada tanah air. Banyak seribu alasan untuk seseorang mencintai tanah airnya mulai dari bahasa, makanan, suasana, kebiasaan, dan lainnya. Banyak hal yang membuat kita sebagai warga negara Indonesia merasa nyaman dengan lingkungan sekitar dan tentunya berbeda dengan negara singgah.

Kita sebagai orang Indonesia pastilah terbiasa dengan menggunakan bahasa kita sendiri dari pada menggunakan bahasa asing misalnya bahasa Inggris. Kenapa demikian, hal ini dikarenakan banyak kata yang biasa Kita ucapkan dalam bahasa Indonesia yang tidak ada dalam bahasa Inggris. Perbedaan bahasa inilah yang membuat kita lebih nyaman menggunakan bahasa keseharian kita daripada bahasa asing.

Yang kedua, makanan. Lidah orang Indonesia terbiasa dengan masakan yang beraneka ragam. Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khasnya tersendiri mengenai makanan. Misalnya saja, daerah pesisir pantai biasanya cita rasa masakannya adalah dingin, asin, gurih. Sementara untuk daerah pegunungan masakannya biasanya hangat, manis. Kecocokan lidah seseorang dapat menjadikan seberapa nyaman seseorang itu tinggal atau singgah di tempat tersebut. Sama halnya dengan ketika kita berada di negeri orang pastinya kita sering merasa kangen dengan masakan Indonesia.

Baca Juga:  Optimalisasi Penanganan Banjir dan Kemarau dengan Tobat (Tampon Bawah Tanah)

Ketiga adalah kebiasaan. Banyak kebiasaan-kebiasaan yang sering kita jumpai di Indonesia tidak kita jumpai di negeri orang. Misal saja, kita terbiasa berkenalan diri dengan menanyakan nama lawan bicara sementara bagi orang dari negara lain akan merasa kurang nyaman karena mereka merasa diganggu privasinya. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang ramah kepada siapa saja. Dan kebiasaan lainnya yang pastinya membuat merasa ingin kembali ke Indonesia.

Dari beberapa hal yang sudah dijelaskan di atas, namun sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi banyak orang yang telah merasa nyaman berada di negara orang enggan untuk kembali ke Indonesia. Sebenarnya banyak faktor yang membuat hal semacam itu. Mulai dari individu, sampai pemerintah juga menjadi penyebabnya.

Rasa tidak bersyukur merupakan alasan utama mengapa seseorang tidak atau enggan pulang ke rumah. Seseorang yang tidak merasa nyaman dengan kondisi rumah akan berusaha mencari tempat yang lebih baik dan tujuannya adalah negara lain. Di negara sendiri orang ini misal saja bekerja dengan gaji lima juta per bulan, sementara jika ia bekerja di luar negeri ia akan dibayar sepuluh juta kebanyakan pasti akan memilih yang kedua karena jumlahnya yang lebih besar. Namun semuanya tidak sepenuhnya salah individu  pemerintah di sini juga menjadi faktor kunci.

Pemerintah dengan kebijakan yang tepat mengenai lapangan kerja yang baik pasti akan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan bersaing dengan negara lain. Hal itu dapat mengurangi angka pengangguran serta meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga mencegah terjadinya transmigrasi antar negara.  Ada juga hasil kerja keras anak bangsa yang seharusnya dapat membayangkan negara malah dibuang ke luar negeri dan malah diakui oleh negara lain. Hal ini harus diperbaiki guna meningkatkan rasa cinta tanah air anak bangsa dan untuk Indonesia yang lebih baik.

Baca Juga:  Bukan Lika-Liku, Namun Maksiatku yang Semakin Kukuh

Jadi intinya baik hujan batu di negeri sendiri ataupun hujan emas di negara Lian. Kita harus menyikapi dengan baik. Bisa saja kita memanen emas di negeri orang untuk pembangunan negeri sendiri ataupun mengubah hujan batu di negeri kita menjadi fondasi kebangkitan dan kesejahteraan bangsa dan negara.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post