Yang Terdalam

Oleh:

Indra Dwi Jayanti

Sudah larut malam, tapi aku masih sibuk dengan layar laptop di hadapanku. Tak aku hiraukan jam berdentang dengan melodi yang mengiringinya, sekarang sudah tepat pukul 00.00, hari sudah berganti. Aku biarkan suara musik dari telepon disebelahku, setidaknya ia menjadi temanku di malam yang sunyi ini. Sudah tak terdengar lagi suara bising di luar rumah, kini hanyaterdengar beberapa jangkrik yang menyumbangkan suaranya, dan tokek yang sesekali menyapa. Sepertinya, mereka juga sudah lelah dan ingin menghabiskan malam untuk beristirahat. Aku mencoba untuk menengok ibuku yang sudah terlelap di sebelah kamarku, dia tidur begitu pulas. Ah sudahlah!

Aku masih sibuk menelusuri berbagai alamat web yang ada. Dengan kepala yang sebenarnya sudah cukup berat, aku sibuk mengotak-atik laptopku. Dalam hati, aku merasa begitu tak tenang. Gelisah, takut, bimbang, penasaran, ragu, melebur menjadi satu. Aku relamenunggu pergantian hari di larut malam ini demi terjawabnya beban dalam batinku selama ini.  “Aku telah menggantung mimpi ini sejak lebih dari tiga tahun yang lalu. Akankah malam ini aku benar-benar bisa menemukan jalan terbaikku?” gumamku dalam hati.

Menjadi seorang mahasiswi, ya itu alasannya kenapa tiga tahun silam aku memilih untuk mengenyam bangku SMA. Aku yakin, akan ada saatnya mimpiku ini menjadi nyata.“Bukankah Allah sudah menuliskan skenario terbaik untuk setiap hamba-Nya?” Meskipun begitu, pikiranku tetap saja kesana-kemari tidak jelas. Ternyata meyakinkan hati pada satu pilihan, itu bukan perkaramudah. Entah mengapa, semakin sering kupikirkan, semakin banyak pula perubahan pilihan jurusan yang kutulis di lembaran targetku.Berkali-kali merubahpilihanjurusan kuliah, bagiku sudahtidak lucu lagi. Aku sudah memasuki masa tenggang, seharusnya aku sudah punya tujuan yang pasti. Hmm.. rasanya, ini tantangan cukup besar dalam hidupku. Bagaimana pun, aku harus tegas pada diriku sendiri. Sebelum semuanya terlambat, aku harus bisa memantapkansatu keputusan yang benar-benar sesuai dengan kondisi kehidupanku dan dalam aspek apapun.

Baca Juga:  Hipnotis Desain

Sebenarnya, sudah jauh-jauh hari aku mencoba membicarakan ini pada kedua pahlawan tanpa sayapku, ayah dan ibuku. Namun, jawaban beliau selalu sama, “Terserah kamu saja. Kan yang menjalani kamu. Tapi, kalau bisa yang tidak jauh-jauh, karena biaya kuliah itu tidak sedikit.” Selalu seperti itu. Meski begitu, tapi akuyakin, sebenarnya ada pilihan untukku yang mereka sembunyikan.Mungkin karena mereka tidak mau menekanku, atau karena mereka mengira aku sudah berhasil menemukan tujuanku. Ya, memang sebenarnya sudah adadi angan-anganku,universitas dan jurusan yang aku incar sejak lama. Tidak terlalu tinggi memang.Bahkanbukansalahsatuuniversitasfavorit di Indonesia.Apapun pilihanku, aku tak mau menuntut kedua orang tuaku. Aku yakin pada Yang Membolak-balikkan hati, takdirku pasti yang terbaik untukku, juga orang-orang di sekitarku. Yang pasti, patuh pada orang tua itu tidak pernah salah di mata Allah, selama dalam hal kebaikan.

Menjelang UN ini, aku tentu menghadapi jatuh bangun terhadap usahaku. Tapi tak apa. Kata orang semua itu biasa, segalanya butuh proses. Dan aku, di sini tidak hanya merasa tertantang untuk menghadapi UN, tapi juga harus menentukan arah jalanku. Inilah kelemahanku. Aku paling tidak bisa bertindak tegas mengambil keputusan, dan meyakinkan semua baik-baik saja. Sekecil apapun, penting atau tidak, pasti selalu kupikirkan. So, tak jarang akutiba-tibajatuh sakit gara-gara terlalu memikirkan sesuatu yang tak seharusnya kupikirkan berlebih.Untuk saat ini, rasanya konyol kalau aku masih saja takut mengambil keputusan. Sangat mungkin, jika aku stres gara-gara terlalu dalam memikirkannya. Tapi, bagaimanapun jugaaku harus bangkit.Ini kenyatan hidup. Aku harus selalu yakin bahwa semua itu butuh proses. Tidak ada yang instan. Apalagi, aku sudah semakin dekat dengan kehidupan nyata, dimana aku akan menikmati karierku kelak, dan menjalani hidup yang tak bergantung lagi dengan dua pahlawanku.

Baca Juga:  Mengapa Rencana Allah Seringkali Tidak Sama dengan Rencana Kita?

Sudah hampir satu jam aku duduk di depan laptop ini. Memilah alamat-alamat web yang kuanggap sesuai dengan apa yang kucari. Bahkan, tak sadar aku membacanya ulang alamat web yang hari-hari sebelumnya pernah kubaca. Sesekali aku menyalinhal-hal penting yang kudapat, lalu mengutipnya dalam word.Semakinlarut, semakinberatmatakumelawan rasa kantuk, tapitetapkupaksamataku agar tetap menyala dengan sejuta harapan untuk mendapatkankeputusan terbaik.

Alhamdulillah! Akhirnya! Aku sedikit lega. Setidaknya, begadangku malam ini tak sia-sia. Setelah berkali-kali kupertimbangkan, akhirnya  akupunya dua pilihan jurusan lengkapdengan universitasnya. Sontak, aku langsung menuju ke kamar ibukku. Aku pun memeluknya dan memberitahunya dalam hati, bahwa aku sudah punya pilihaan. Ibukku membalas pelukanku dengan memberiku pelukan yang lebih hangat, seakan ikut meyakinkanku, bahwa ini adalah keputusan terbaik. Ingin sekali, kuceritakan pada ibukku saat itu juga. Aku ingin kita berdoa bersama di malam yang sunyi ini.Tapi, aku juga tak tega memutus keseruanmimpinya malam itu.Wajahnya terlihat sangat lelah. Kubiarkan ibukku melepas penat seharian dengan tidurnya.

Jam dinding di kamar ibukku menunjukkan pukul 01.00. Kuputuskan begadangku cukup sampai di sini. Aku tak mau terlalu terlarut dalam hal ini. Tantanganku masih cukup banyak. Batinku, “Aku harus istirahat, badan dan pikiranku sudah lelah.Esok, pasti akan kutemui hal-hal baru yang tak terduga. Aku tak ingin semuanya kacau gara-gara masalah satu ini.”Aku kembali ke kamar tidurku. Menutup layar laptopku, membereskan lembaran-lembaran kertas dan beberapa buku yang berserakan di kamarku. Lalu, kubersihkan badanku sambil kuambil air wudu. Aku berharap, mimpiku malam ini adalah mimpi yang indah, seindah impianku untuk membahagiakan dua malaikat tak bersayapku.

Baca Juga:  Nasionalisme sebagai Ekspresi Keimanan

Mulai detik itu, aku mencatat dua pilihanku dalam secarik kertas, dan kutempelkan harapan besarku ini di dinding kamarku. Tak lupa, aku bersyukur kepada Allah SWT atas segala kasih sayangnya. Dan benar sekali, “Segalanya memang butuh proses,” sekarang aku mencicipi manisnya perjuangan itu. Akan kupastikan esok hari segalanya lebih baik dari hari ini, begitu seterusnya. Aku sudah punya pilihan, dan aku harus memperjuangkannya. Tak akan kubiarkan sisa waktuku ini terbuang sia-sia.

Aku yakin, di antara aku dan mereka di luar sana, pasti bukan hanya aku yang mengalami ini. Menentukan pilihan hidup memang bukan masalah sepele. Bagaimana tidak? pilihan yang kita ambil saat ini, pasti imbasnyatidak sekadar apa yang kita rasakan saat ini, tapi juga akan kita hadapi di perjalanan hidup kita selanjutnya. Bahkan bisa jadi untuk  selamanya.

Buat kalian, jangan capek buat komunikasikan apapun masalah kalian dengan orang tua kalian, terutama masalah jurusan kuliah. Aku udah membuktikan sendiri, bahwa orang tua adalah satu-satunya penenang hati yang paling ampuh. Jangan lupa juga, untuk meminta saran ke guru BK atau teman-temanmu. Dan yang terakhir, harus yakin bahwa semua sudah ada yang mengatur. Perjalanan hidup kita sampai ajal nanti, udah ada skenarionya, dan seperti apa skenario-Nya, pasti yang terbaik. Tugas kita hanyalah berusaha sesempurna mungkin. Ingat, hasil itu tidak akan menghianati usaha.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post