Semhas Penelitian: Berkarya di Tengah Pandemi, Pengasuh Beri Apresiasi

Dokumentasi Seminar Hasil Penelitian Mahasantri Tahun 2021 Melalui Aplikasi Zoom Meeting

28/03/2021 – Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi covid-19 memang sedikit banyak mengalami hambatan. Meskipun demikian, kegiatan tersebut harus tetap dilanjutkan demi keberlangsungan pendidikan.

Demikian juga kegiatan belajar di Pesantren Riset Al-Muhtada. Pesantren yang terletak di wilayah Banaran Kampus Unnes Gunungpati tetap melangsungkan berbagai kegiatan secara virtual. Salah satu kegiatannya yakni Seminar Hasil Penelitian Mahasantri yang rutin digelar sebagai kegiatan tahunan sekaligus kegiatan yang mendorong Mahasantri untuk berlatih menjadi seorang peneliti.

Seminar Hasil Penelitian merupakan bagian akhir dari serangkaian kegiatan pembelajaran metodologi penelitian mahasantri. Seminar hasil merupakan acara untuk melaporkan hasil dari temuan penelitian yang telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai Maret.

Tema penelitian yang diangkat pada tahun ini yakni aspek budaya, pendidikan, dan keagamaan. Dimana Mahasantri melakukan penelitian di beberapa bidang yang terkait dengan tema penelitian, sebagai contoh ada yang melaksanakan penelitian mengenai BumDes sebagai pemersatu umat beragama, Model pendidikan di Panti Asuhan saat Pandemi Covid-19, Tradisi rabu wekasan dikalangan millenial, Tradisi perlon unggahan pada Masyarakat Bonokeling Cilacap, dan penelitian kelompok mahasantri lainnya yang mengangkat judul yang menarik.

Seminar Hasil Penelitian tahun 2021 Pesantren Riset Al-Muhatada dilaksanakanpada 28 Maret 2021 secara virtual mengingat keadaan pandemi covid-19 yang belum usai, bertepatan pada hari Minggu, 14 Sya’ban 1442 H.

Kegiatan berjalan dengan lancar yang dimulai pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan sekaligus membuka acara Seminar Hasil dari pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag. M.A., M.P.A kemudian dilanjutkan acara inti yaitu pemaparan hasil penelitian dari tiap mahasantri yang tergabung dalam 13 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok yang memaparkan hasil penelitian, menjawab pertanyaan yang diajukan baik dari pengasuh dan reviewer Bapak Ayon Diniyanto, S.H., M.H.

Saya sangat mengapresiasi semua santri yang sudah bekerja keras melakukan penelitian” ungkap pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada M.Ag., MA., Ph.D kala sesi terakhir sebelum penutupan acara.

Alhamdulillah, rasa lelah itu akan terganti dengan bahagia” begitu ungkap Azkia, salah satu mahasantri yang turut merasakan tegang dan gugup saat hendak memaparkan hasil penelitian.

Seminar Hasil Penelitian diikuti pula oleh peserta dari kalangan umum. Acara ini berakhir pukul 12.27 dan ditutup dengan sesi foto bersama. (FM/DWK).

Aku pada NU

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Apa kabar Aswaja ?

Dunia kini mulai layu membisu

Pada takdir yang mengharuskan semuanya terjadi

Kini semua kian menepi

 

Kau yang begitu kokoh

Walau seribu hinaan menyerang

Perjuangan ulama’ yang menyayat hati

Yang tak mengharapkan sebuah imbalan

 

Makna simbol pada lambangmu-lah

Yang menguatkan apa arti sesungguhnya NU

Mengharapkan orang di dunia ini memeluk agama islam

Hingga mencintai dan memahamimu sepenuhnya

 

Betapa banyaknya pesantrean yang kita temui sekarang

Ladang menuntut ilmu dan mengharap barokah Sang Kyai

Tak menjadikan kita lupa

Dan menjadi bukti bahwa kebangkitanmu tak terlepas dari pesantren

 

Walau kini ulama’ berguguran

Namun kami tak membiarkan harapanmu pupus

Hingga kami melakukan apapun itu untukmu

Tanpa harus menjadi orang tua ataupun kakek kami

 

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Tentang Rasa

Oleh : Alda Gemellina M

Semua orang di dunia terlahir dengan sejuta rasa yang dibawanya. Mungkin hanya sepersekian dari yang sejuta itu yang mampu manusia definisikan. Sisanya, tak dimengerti, namun nyata terasa. Believe or not, manusia adalah makhluk paling absurd yang diciptakan oleh Tuhan. Mengapa, karena manusia adalah satu–satunya yang bisa menunjukkan satu rasa dalam beragam ekspresi. Bayangkan jika ada jutaan rasa yang sedari lahir ada dalam diri, maka berapa bentuk ekspresi yang dapat ditunjukkan oleh setiap individu? Memikirkannya saja tak akan sanggup. Karena begitulah manusia dengan segala keunikannya. Menyoal perihal rasa, nampaknya memang tidak sesimpel itu. Rasa muncul dari proses kimiawi sebagai akibat dari salah satu kinerja otak. Mungkin karena itu seseorang sadar akan perasaannya akan tetapi tidak dapat mengontrol kapan dan bagaimana rasa itu akan muncul dalam ruang bernama ekspresi.

Rasa senang, sedih, benci, marah, rindu dan bahkan cinta merupakan segelintir rasa yang mampu didefinisikan oleh manusia. Itupun belum tentu juga. Sebab manusia tidak benar – benar tahu bagaimana bentuk rasa itu. Manusia hanya mendefinisikan berdasarkan apa yang diamatinya. Dan itu bergantung bagaimana cara seseorang men-delivery-kan perasaannya.  Ada beragam cara manusia dalam menyampaiakan atau menuangkan apa yang dirasa. Ada yang bercerita secara langsung kepada orang lain, dengan harap orang lain akan ikut mengerti apa yang dirasakan. Ada juga yang menggunakan media dalam mengutarakan perasaannya. Seperti remaja yang menyimpan buku diary di balik bantalnya, dan menguncinya dengan gembok berbentuk hati. Harap tidak ada orang lain yang membukanya. Atau para penyair yang menuangkan rasanya dalam sajak – sajak berirama yang sarat akan makna, juga para penyanyi yang men-delivery-kan rasa dalam setiap lirik lagu. Mereka berkomunikasi melalui melody yang mengalun merdu. Atau bahkan para film maker yang berusaha meneruskan rasa melalui skenario dan adegan para lakonnya di setiap scene film tersebut.

Terlepas dari bagaimana seseorang menunjukkan perasaannya, pada kenyataannya banyak juga yang memilih untuk memendam semua yang dirasakannya. Dan sebagian orang menganggap hal itu lebih baik daripada harus mengekspresikannya. Namun sekuat apapun seseorang menyimpan rasa seorang diri, akan ada masa dimana tubuh akhirnya memberi respon. Karena memang begitulah manusia diciptakan dengan banyak sensor – sensor impuls yang akan memberikan reaksi ketika sesuatu terjadi di dalam tubuh. Oleh karenanya, bagaimanapun seseorang menahan untuk tidak mengekpresikan perasaannya, tubuh dengan sendirinya akan menunjukkan hal tersbut. Mungkin dengan perilaku yang menjadi berbeda atau mungkin dengan air mata. meskipun air mata tidak hanya berkonotasi dengan situasi atau perasaan sedih. Karena seringkali seseorang menangis tanpa tahu pasti sebabnya.

Persoalan rasa tidak pernah bisa dianggap sepele. Tidak ada satu orang pun di dunia yang memiliki kadar rasa yang sama. Sama – sama bahagia misalnya. Maka bahagianya si A tidak akan pernah sama dengan bahagianya si B. Sekalipun dalam waktu yang bersamaan. Perihal rasa juga erat kaitannya dengan sensitivitas. Karena rasa bukanlah sesuatu yang dapat dimengerti oleh logika. Rasa merupakan unsur sensistivitas manusia. Tingkat sensitivitas antara satu orang dengan orang yang lain tidaklah sama. Mungkin bagi si A apa yang dirasakan si B adalah hal kecil, namun bisa jadi bagi si B itu merupakan sesuatu yang besar.  That’s why nobody can assuming whether someone is fine or not. Dan memang seharusnya tidak. Cause we never know what one is really feeling. Mungkin itulah mengapa Allah menciptakan manusia lengkap dengan rasa dan logika. Sebab dengannya manusia bisa memanusiakan manusia lainnya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Terima Kasih Guruku

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Pagi itu hujan cukup deras di Simpang Teritip. Sang mentari saja masih bersembunyi. Ayam yang biasanya sudah berkokok, tetapi ikut tak bersuara pagi itu. Aldi yang mendengar suara petir, lantas langsung membuatnya terbangun dari tidur. Hendak langsung mandi, tetapi dingin sekali rasanya. Karena hari ini adalah hari yang spesial, maka ia paksakan untuk mandi. Aldi adalah ketua OSIS di salah satu sekolah menengah atas di simpang teritip. Aldi bergegas berangkat sekolah, sekitar 15 menit dari rumah.

Dari kejauhan tampak seorang anak mengendarai motor dengan jas hujannya menuju ke sekolah. Gadis cantik dengan bodi sedikit gemuk, ia adalah Ziana. Ziana adalah wakil ketua OSIS dari rekannya Aldi. Ziana tampak bersemangat untuk hari ini karena ia tahu, bahwa ini adalah hari guru. Ia dan Aldi sudah menyiapkan hadiah untuk para guru tercinta. Padahal mereka sempat mengalami masalah karena kebingungan tak bisa membuat tumpeng yang akan menjadi hadiah di hari itu. Tetapi mereka berhasil menemukan cara lain agar tumpeng itu tetap jadi. Ada seorang bibi dari Aldi dibalik jadinya tumpeng itu.

Karena hari hujan, acara awal yang tadinya akan upacara pun harus ditunda terlebih dahulu. Tak lama kemudian, ada mobil masuk dari gerbang. Aldi tahu bahwa itu adalah bibinya.

“Aldi, ini ambil tumpengnya” ucap Bibi kepada Aldi.

“Iyaa” ucap Aldi.

“Wahhh, terima kasih sekali Bibi sudah repot membuat tumpeng ini” sambung Aldi.

“Tidak apa, Bibi dulu juga pernah SMA dan tahu gimana susahnya jadi ketua OSIS” jawab Bibi.

Dibantu Ziana, Aldi membawa tumpeng itu ke depan kantor. Memang tak menjadi kejutan lagi bagi guru-guru karena mereka langsung melihat tumpeng itu.

“Bibi pulang yaa” ucapnya kepada Aldi sambil menuju mobil.

“Iyaa, sekali lagi terima kasih Bibi sudah mau bantu bikin tumpeng” jawab Aldi.

“Bibi senang bisa bantu kamu” balas Bibi sambil tersenyum.

(Aldi pun ikut tersenyum)

Hujan terlihat hampir reda, masih gerimis. Masih ada yang harus dikerjakan bagi ketua OSIS dan wakilnya itu, yaitu bunga yang nanti dikalungkan pada setiap guru, bukan hanya guru, tetapi setiap pegawai sekolah pasti dapat. Bunga itu dibuat oleh anak-anak OSIS yang dikoordinasi oleh ketuanya. Bunga-bunga itu kemudian dibawa ke depan kantor juga, tetapi tidak diperlihatkan dulu kepada guru-guru.

Aldi dan Ziana mengumpulkan anggotanya untuk diberi informasi mengenai bunga-bunga itu.

“Baiklah teman-teman, ini kita ada 50 bunga dan pastikan setiap guru dikalungkan, dan juga para pegawai sekolah.” ucap Aldi.

“Mereka semua sangat berjasa bagi sekolah ini. Tumpeng dan bunga ini bukan apa-apa dari ilmu yang mereka berikan kepada kita.” sambung Aldi.

“Harapan kita tentu para guru berkesan dengan apa yang kita berikan, meskipun pemberian kita sederhana” sambung Aldi kembali.

“Baik, Pak ketua” jawab anggota OSIS itu.

Setelah mengadakan rapat singkat, mereka semua kembali ke pos masing-masing untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Hari sudah tidak hujan lagi, Aldi menginfokan dari mikrofon sekolah bahwa upacara akan segera dimulai. Setelah itu, ia mengajak teman-teman untuk berbaris seperti biasa.

Upacara kali ini terasa spesial karena yang menjadi petugas adalah guru-guru kami tercinta. Mereka kami ajak untuk bernostalgia dengan masa-masa SMA. Mereka juga sangat antusias dengan apa yang sudah dirancang oleh pengurus OSIS.

Upacara sudah berjalan 20 menit, tiba saatnya menyanyikan lagu wajib nasional.

“Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru,” para guru yang menjadi paduan suara bernyanyi.

“Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku,” ikut bernyanyi pelan salah satu siswa.

“Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku,” Ziana ikut bernyanyi pelan, sedikit mengeluarkan air matanya.

“Sebagai prasasti terima kasihku, tuk pengabdianmu,” Aldi pun ikut larut dalam nyanyian itu. Setelah selesai menyanyikan lagu wajib nasional, upacara kembali dilanjutkan sampai selesai. Setelah selesai, para guru dan pegawai berbaris di depan para siswa untuk dikalungkan bunga. Satu persatu guru dikalungkan bunga itu.

“Ini Pak, bunga buat Bapak, terima kasih sudah mengajarkan kami selama ini,” ucap Aldi sambil memeluk gurunya itu.

“Terima kasih juga sudah membuat acara ini, kamu dan anggotamu luar biasa.” Jawab Pak guru.

Setelah selesai pengalungan, giliran seluruh siswa yang bersalaman satu persatu kepada guru-guru hebat. Tak sedikit yang mengucurkan air mata mereka. Memang menjadi hari yang haru ketika itu. Disela-sela itu, anggota OSIS menyanyikan lagu “Guruku Tersayang”.

“Pagiku cerahku, matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak,” Febheolla memulai nyanyian.

“Selamat pagi semua, ku nantikan dirimu, di depan kelasmu, menantikan kami,” sambung anggota OSIS lainnya

“Guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu apa jadinya aku. Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal, guruku terima kasihku,” sambung Lola.

Suasana seketika berubah menjadi tawa dan masih dengan haru karena banyak sekali siswa yang menangis. Setelah acara salam-salaman dengan guru selesai, para guru langsung menyantap hidangan tumpeng yang sudah disiapkan para pengurus OSIS. Tumpeng buatan Bibi Aldi itu tak kalah enaknya dengan tumpeng-tumpeng di luar sana. Semua guru mengambil tumpeng. Karena masih ada sisa, para pengurus OSIS ikut merasakan tumpeng itu.

Aldi dan Ziana, serta anggota OSIS lainnya merasa bangga karena acara yang mereka rancang bisa berjalan dengan lancar. Kepala Sekolah sangat berterima kasih kepada seluruh pengurus OSIS karena sudah mengadakan acara ini untuk memperingati Hari Guru. Aldi mengatakan bahwa sudah seharusnya mereka sebagai siswa merayakan peringatan Hari Guru karena itu jarang terjadi.

“Gula itu yang membuat kopi menjadi manis, tetapi tak ada yang memujinya saat kopi itu manis, justru kopilah yang dipuji manis. Beda halnya saat kopi pahit, gula yang disalahkan karena kopi itu pahit.”

“Guru itu ibarat gula pada kopi. Orang tua akan bangga pada anaknya sendiri saat lulus, tetapi menyalahkan gurunya saat anak mereka terjatuh.”

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mereka akan tetap mengajar dan mendidik meskipun disalahkan dalam setiap situasi.”

“Para pakar berkata bahwa orang hebat bisa menghasilkan beberapa karya bermutu. Tetapi, guru yang bermutu dapat menghasilkan ribuan orang-orang hebat.”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Nurjaya dan Gema Aditya Mahendra, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Kembali Mengukir Berprestasi

Semarang (22/11/2020), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang  memenangkan kompetisi lomba karya tulis ilmiah bertajuk Chemical Engineering Paper (CEPTION) tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Profesi Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang. Perlombaan tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 19,21, dan 22 november 2020 dengan tema besar “Inovasi Gen Z Dalam Riset Dan Teknologi Kreatif Untuk Mencapai Suistanable Development Goals (SDGs) 2030”.

Mahasiswa dengan nama Gema Aditya Mahendra dan Nurjaya yang kemudian tergabung dalam tim Deadliner berhasil menyisihkan puluhan peserta dari berbagai daerah dengan mendapat predikat best poster dalam ajang tersebut. Adapun pesaing dari acara ini yaitu Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Pertamina, dan universitas lainnya yang ada di Indonesia.

Gema Aditya Mahendra mengungkapkan bahwa “Harapan kedepanya semoga bisa lebih aktif dan kreatif lagi, bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (N/GAM)

Catatan Harian : Membayangkan Hidup Tanpa Kuliah

Oleh Gema Aditya Mahendra

Selalu terbayang oleh saya mengenai bagaimana jika saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Gambaran bayangan ini muncul sebenarnya sebelum saya ingin masuk ke dunia perkuliahan, hipotesa saya saat itu dengan kuliah hanya akan menghambat saya untuk berkembang lebih cepat. Tepat ketika lulus tes tertulis ujian masuk perguruan tinggi negeri, dilema untuk tidak ingin kuliah pun hadir. Di satu sisi, saat itu saya sudah membayangkan kedepan bagaimana jika nanti saya
berkuliah, yaitu sama seperti mahasiswa pada umumnya, mencoba untuk lulus dengan predikat yang terbaik, mencoba memperluas koneksi antar sesama civitas akademika, mencoba mempertajam pola pikir dan kedewasaan dalam bertindak. Ketika lulus kuliah, ada dua opsi yang ada di gambaran saya pada saat itu, ambil S2 jika ada kesempatan, atau mencari pekerjaan dengan taraf multi nasional. Itu lah yang ada di gambaran saya ketika lulus kuliah, tentu realitanya bisa saja berkata lain. Gambaran saat di perkuliah dan ketika lulus itu muncul sebagai akibat dari keinginan saya untuk mencapai misi-misi tertentu dalam hidup. Seperti menjadi kaya raya, menjadi seorang akademisi, serta misi-misi lainnya yang berhubungan dengan tanggung jawab sosial. Ada banyak misi-misi saya dalam hidup yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang mana dapat dilakukan dengan pertimbangan mengikuti kuliah. Itu yang saya pikirkan saat itu.

Namun di sisi yang lain, kala itu saya mulai mempertimbangkan opsi untuk tidak kuliah dalam mewujudkan misi-misi saya dalam hidup. Opsi ini muncul berawal dari sebuah pertanyaan mendasar yang saya tanyakan kepada diri sendiri, yaitu “mengapa harus melalui kuliah?”. Untuk menjawab ini, saya harus mencari terlebih dahulu seperangkat hal yang pasti saya lakukan dalam mewujudkan misi-misi saya itu dan kaitannya dengan kuliah. Pertama, saya harus tetap hidup. Ini jelas karena jika saya mati tentu misi-misi tersebut tidak akan terlaksana. Kedua, saya telah menyadari bahwa dalam mewujudkan misi-misi saya tersebut, hal yang paling pasti yang harus saya lakukan adalah dengan belajar. Tidak mungkin saya mewujudkan misi-misi saya dalam hidup, kalau saya sendiri tidak belajar sama sekali. Dengan belajar, peluang misi-misi saya untuk terlaksana menjadi lebih besar. Maka keberadaan belajar tidak bisa dilepaskan dari hidup saya. Ketiga, efek globalisasi dan perkembangan teknologi yang membuat informasi semakin mudah terakses, sehingga kuliah bukan lagi menjadi satu-satunya tempat belajar untuk saya.

Dari kepastian ini lalu pertanyaan tersebut terjawab, bahwa dalam mewujudkan misi-misi saya tersebut tidak harus melalui kuliah. Lalu saya melakukan perbandingan analisa sendiri mengenai informasi kemampuan saya jika saya kuliah, dengan tidak kuliah sama sekali. Untuk menguji hal tersebut tentu paling tidak saya harus mengikuti kuliah, paling tidak satu tahun lamanya. Hasilnya, saya menganggap bahwa melalui kuliah sebenarnya tidak memperbesar peluang saya dalam mewujudkan misi-misi saya dalam hidup tersebut. Hasil ini diperkuat oleh fakta yang saya rasakan dan tidak bisa saya pungkiri bahwa hampir seluruh pengetahuan yang saya peroleh saat ini berasal dari kegiatan di luar perkuliahan (dari internet). Sementara proporsi saya memperoleh pengetahuan ketika perkuliahan itu terlalu sedikit (bukan berarti jumlah pengetahuan yang saya
terima di perkuliahan itu terlalu sedikit, melainkan proporsinya terhadap pengetahuan di luar perkuliahan/dari interent itu yang terlalu sedikit).

Program belajar yang diadakan perkuliahan hanya berfungsi sebagai starting point dalam mengembangkan pengetahuan saya, sementara sisanya adalah inisiatif saya sendiri dalam mengeksplor dengan cara saya sendiri yang mana bisa dilakukan tanpa saat kuliah. Padahal fungsi starting point itu juga bisa saya peroleh di luar kegiatan perkuliahan. Kemudian lagi, dalam program belajar yang diadakan di perkuliahan banyak manfaat yang tidak saya peroleh, padahal setiap tugas yang saya kerjakan di perkuliahan terlaksana dengan baik. Hal ini bukan karena program belajar dari perkuliahan itu yang tidak menyediakan manfaat, melainkan karena pikiran saya menolak untuk mengerjakan sesuatu yang tidak saya sukai, apalagi
dipaksa diselesaikan dalam tempo waktu tertentu, sehingga manfaat yang didapat pun tidak maksimal/ tidak seprogresif saya belajar dengan cara saya sendiri.

Tapi kan dengan kuliah kita tidak hanya memperoleh pengetahuan saja, namun juga memperoleh legitimasi berupa gelar yang tentunya memperbesar peluang saya untuk mewujudkan misi-misi saya dalam hidup, benar? Belum tentu. Meskipun punya banyak gelar belum tentu memperbesar peluang saya untuk mewujudkan misi-misi itu ketimbang saya benar-benar tidak kuliah sama sekali. Justru saya membayangkan bahwa dengan tidak kuliah, malah saya dapat lebih mengembangkan diri saya, saya bisa lebih berfokus kepada apa yang ingin saya wujudkan dengan cara-cara saya sendiri tanpa perlu adanya instruksi dari program belajar yang diadakan diperkuliahan. Jadwal perkuliahan yang menuntut harus terselesaikan suatu proyek tertentu justru menghambat daya kreativitas saya untuk berkembang lebih cepat (bukan berarti tidak berkembang). Sebaliknya, belajar sesuatu dari apa yang saya inginkan dengan cara-cara saya sendiri justru membuat saya lebih berkembang lebih cepat, lebih efektif, dan lebih signifikan. Meskipun banyak yang bilang track record saya sangat bagus dalam bidang akademik maupun prestasi. Tidak menunjukkan bahwa kuliah itu sangat bagus juga terhadap kecepatan perkembangan saya. Malah saya membayangkan dengan tidak berkuliah, saya bisa lebih dari apa yang saya lakukan ketika kuliah.

Jadi ada kesimpulan yang harus saya tulis agar jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pertama, belajar itu merupakan kepastian yang harus saya lakukan untuk mewujudkan misi-misi saya dalam hidup. Kedua, saya menolak untuk kuliah bukan berarti saya menolak untuk belajar, melainkan karena anggapan dengan tidak kuliah justru membuat saya lebih mudah, lebih cepat, lebih signifikan dalam belajar dan itu akan memperbesar peluang misi-misi saya terlaksana. Ketiga, bukan karena program belajar yang diberikan perkuliahan yang tidak bagus, melainkan hanya karena saya menolak suatu program belajar yang tidak saya sukai, karena itu akan berimplikasi kepada signifikan atau tidaknya manfaat yang diperoleh dari belajar per satuan waktunya. Dari tulisan ini, asumsi saya sebagian pembaca akan menilai saya terlalu angkuh, sombong, dan terlalu percaya diri. Tapi itu tidak masalah. Apa yang saya tulis memang apa yang saya rasakan dan pikirkan berdasarkan analisa-analisa dari peristiwa masa lalu, apa yang saya lakukan kedepan atau di kemudian hari adalah apa yang saya butuhkan, dan apa yang saya butuhkan itu sesungguhnya saya sendiri yang lebih tahu.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Utilitarian Dan Kelabilan Nilai Moral

Oleh : Rayyan Alkhair

Utilitarian adalah salah satu etika atau kebiasaan yang mana sebuah hal dipandang baik manakala ia mendatangkan kebermanfaatan atau kemaslahatan khalayak banyak. Utilitarian pada awal kemunculannya mengambil tempat di UK yang merupakan salah satu kekuatan imperium klasik. Utilitarianisme dibuat sebagai nilai atau konsepsi baru yang menentang kekuatan feodal atau absolutisme oleh penguasa.

Sebuah ciri khas yang ada pada kekuasaan yang absolut adalah kekuasaan menumpuk pada raja atau satu kekuatan. Absolutisme merupakan kewenangan tunggal yang sanagat luas dan cenderung otoriter atau bercorak tiran karena tidak ada lembaga lain yang berkekuatan sama dengan lembaga yang satu. Absolutisme dari perjalanan panjang eksistensinya, menuliskan tinta merah kelam dalam lembar sejarah manusia dengan praktek monopoli kekuasaan dan nilai keadilan.

Utilitarian menentang hal diatas, hal-hal yang berbau absolutis dan monopolistis. Utilitarian hadir sebagai sains yang membawa air ditengah gurun bagi orang yang kehausan, utilitarian hadir sebagai bank yang memberikan modal bagi pengusaha yang hampir pailit, sebagai angin segar yang membawa pergi bau bangkai sekaligus bangkainya. Kebijakan, hukum dan kekuasaan haruslah dapat membahagiakan rakyatnya kepada tingkat yang maksimal.

Utilitarian merupakan teori abstrak yang bertujuan untuk menghasilkan nilai konkret yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Sekilas tak ada yang bermasalah dengan utilitarianisme sebagai paham yang dapat menentukan baik dan buruk bagi masyarakat. Namun, dalam segi kepastian atau kewibawaan, etika ini tidak memenuhi kriteria kepastian dan kewibawaan. Kedua hal tersebut merupakan hal yang erat kaitannya dengan hukum dan kekuasaan.

Hukum merupakan kesepakatan masyarakat terkait perilaku yang seharusnya dilakukan oleh anggota masyarakat yang memiliki sanksi mengikat. Hukum dan kepastian dan kewibawaan merupakan entitas yang satu. Sebuah hukum haruslah menimbulkan keastian perilaku bagi aktivitas masyarakat agar hubungan mereka dapat terjalin dengan jelas sedangkan kewibawaan adalah sebuah kriteria yang membuat hukum dijunjung tinggi sebagai pedoman berperilaku.

Sebagai contoh kewibawaan, konstitusi adalah sumber hukum formil yang menjadi norma konkret dasar tempat pengambilan nilai-nilai hukum untuk kemudian dikonkretkan menjadi perangkat hukum baru yang derajatnya lebih rendah dan mengatur perkara yang partikular. Ciri-ciri dari konstitusi adalah isinya mengatur hal-hal yang general (ketentuan umum). Konstitusi adalah hal yang jarang sekali diubah ketimbang peraturan yang derajatnya lebih rendah. Jika konstitusi sering diubah, tentu aturan yang dibawahnya juga semakin sering berubah.

Utilitarian dalam prakteknya juga demikian, ia tidak memiliki sebuah kepastian dalam menentukan sebuah hal baik dan buruk apalagi jika ia dijadikan sebagai produk hukum yang memiliki kedua ciri diatas. Adakah kewibawaan ketika seseorang mengatakan “hewan ini adalah banteng” kemudian hari ia berubah mengatakan “hewan ini adalah burung elang”, dapatkah ia mengganti sebuah nilai yang telah dicap baik menjadi buruk semudah membalikan telapak tangan ?

Sebagai contoh, saya ajukan perbuatan “membunuh” yang akan diaplikasikan kedalam nilai utilitarian. Saya juga akan ajukan sedikitnya dua jenis masyarakat sebagai pembanding, jenis yang pertama adalah masyarakat agamis dan kedua adalah jenis masyarakat psikopat-sadis. Kelompok masyarakat pertama akan mengatakan “membunuh itu buruk, karena itu sangat mengganggu jiwa kami” sedangkan kelompok masyarakat kedua mengatakan “membunuh itu baik untuk kami, kami sangat senang ketika melakukannya”.

Adakah kepastian timbul dari kedua hal diatas ? makin banyak jenis masyarakatnya, akan semakin banyak polaritas yang terjadi yang menuntut sesuai kemanfaatan dan kebaikan komunal. Bagaimana hukum akan menentukan bahwa “membunuh manusia” merupakan hal yang buruk dan dapat dikenakan sanksi pidana  jika karakteristik masyarakatnya seperti kelompok psikopat-sadis yang memandang hal tersebut bukan sebagai sebuah kejahatan.

Contoh lain mengenai ketidak wibawaan yang ditimbulkan oleh utilitarianisme adalah perbuatan “membunuh bayi”. apakah utilitarian akan menjawab dengan pasti dan berwibawa mengenai soalan ini ? saya akan mengadakan sebuah eksperimen mengenai hal ini. Ada dua jenis bayi yang dalam hal ini diambil sebagai contoh yakni bayi fir’aun ramses II dan bayi Musa.as. Jika disandarkan dengan prinsip kebermanfaatan yang luas sudah barang tentu bahwa bayi fir’aun ramses akan dibunuh dan bayi Musa.as akan dibiarkan hidup.

Sebab fir’aun lah yang saat dewasa menyebabkan kesengsaraan dan kesedihan bagi masyarakatnya sedangkan Nabi Musa.as adalah orang yang menggeser fir’aun dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat banyak. Maka, menurut utilitarian, jika bayi itu fir’aun ramses dua ia bisa dibunuh dan jika tidak, maka ia tidak boleh dibunuh karena tidak membawa manfaat sama sekali.

Utilitarian membawa sedemikian maslah yang pelik, ia sangat tidak cocok ketika membahas soalan moral dalam artian baik-buruk. Ia sendiri menghadapi kebingungan dan ketidakpastian serta tidak memiliki wibawa yang kemudian berkesimpulan bahwa ia tidak cocok untuk dijadikan sebagai landasan metodologi untuk mengambil hukum.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

Hari Pertama Kuliah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Embun masih menyelimuti pagi. Kokok ayam mulai terdengar ditelingaku. Sang mentari sudah lebih dulu keluar dengan sedikit malu-malu. Angin hari ini terasa agak sedikit dingin dari biasanya. rasanya aku malas untuk mandi, tetapi ini adalah hari pertamaku untuk mengikuti perkuliahan. Aku segera mandi dan sarapan dengan keluarga. Aku kuliah di Universitas Negeri Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Yaa, kuliah perdana akan dilakukan secara daring, pandemi menghambat kami semua dalam hal ini. Mau tidak mau kami harus melakukan aktivitas dari rumah. Kuliah tatap muka memang menjadi harapan semua mahasiswa baru, terutama saya sendiri. Kuliah secara daring akan terasa berbeda bagi mahasiswa baru, akan ada tugas online, penjelasan online, dan masih banyak lagi yang berbau online lainnya. Tentu saja kami harus cepat beradaptasi dengan keadaan seperti sekarang. Kami harus siap dengan segala kemungkinan.

“Selamat pagi pak, bu.” Tegurku memulai obrolan.
“Iyaa” jawab Ibu dengan nada lembut.
“Sarapan dulu sini” ucap bapak kepadaku.
“Iya pak, ini juga mau sarapan” jawabku menghampiri mereka.
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya adik perempuan dan laki-laki. Bapak bekerja sebagai karyawan swasta di perkebunan sawit PT. SINAR MAS. Ibu tidak bekerja, tetapi kadang ikut bekerja juga. Ia di rumah mengurusi adikku dan juga pekerjaan rumah.

Setelah sarapan, aku langsung bersiap untuk kuliah. “Bu, lihat pulpen ku gak?” tanyaku.
“Coba cari di meja belajar” jawab Ibu. “Gak ada bu,” sambungku. “Coba cari di tasmu atau
kalo gak ada yaa beli lagi.” Ucap Ibu. “Yaudah kalo gitu aku lihat dulu” jawabku.

Aku mencari pulpen di tas, ternyata memang ada di dalam tas. Tak terasa hari sudah pukul 07.03 WIB. harusnya sudah masuk mata kuliah pertama hari ini. “Tok..” bunyi dari grup wa. Ternyata dosen sudah menunggu, kuliah kali ini akan menggunakan aplikasi zoom, untuk sekedar perkenalan dan pemaparan materi yang akan dipelajari. “Ini bakal langsung ada tugas gak yaaa?” tanyaku dalam hati “Semoga saja belum, hehehe” sambungku dengan sedikit bergurau dalam hati. Satu persatu mahasiswa baru memperkenalkan diri dan saatnya giliranku.

“Silahkan itu yang pakai baju merah, Agus yaa namanya?” pak dosen mulai berbicara.
“Iya pak” jawabku.
“Silahkan memperkenalkan diri yaa!” sambungnya
“Baik pak. Assalamualaikum. Wr. Wb. Perkenalkan nama saya Mohamad Agus Setiono. Berasal dari Bangka Belitung, sudah pak. Wassalamualaikum. Wr. Wb.”
“Baik gus, terima kasih. Jauh juga yaa dari Bangka kuliah ke semarang” pak dosen kembali menyambung obrolannya
“Hahaha, iyaa pak. Cari pengalaman baru juga.”

Tak terasa jam mata kuliah telah berakhir. Ternyata benar dugaanku, ada tugas. Setelah ini bakal ada kuliah lagi, masih lama sih pukul 15.00, aku masih bisa istirahat dulu. 30 menit lagi kuliah kedua hari ini bakal dimulai, aku masih makan, setelah itu langsung ke tempat biasa untuk kuliah, yaitu ruang tamu. Ini adalah kuliah kedua, aku masih semangat, meskipun tadi sudah diberikan tugas.
“Tok..” grup wa kembali berbunyi. Ku kira bakal ada pertemuan di zoom lagi, ternyata tidak. Pak dosen sudah memberi tugas terlebih dulu kepada kami.
“Tugas lagi?” tanyaku dalam hati. Ahhh, rasanya aku belum siap jika harus ada tugas disetiap pertemuan.
“Padahal tugas yang tadi aja belum dikerjaiin, ini udah mau ada lagi. Gimana dengan besok? Pasti sama juga.” Aku berbicara sendiri.

“Teman-teman, ini tugas dari dosen kapan ngumpulinnya yaa?” tanyaku di grup wa.
“Minggu depan gus” jawab salah satu teman.
“Ohh gitu, oke dehh. Makasih yaa” jawabku kembali.
“Kita baru pertemuan pertama saja sudah ada tugas” lanjut temanku yang lain.

“Semangat dong teman-teman” ucap salah satu teman.
“Ku menangisss….” sambung lagi dengan sedikit bergurau.
Syukurlah tugas tidak harus dikumpulkan hari ini, tetapi aku harus mengerjakan sekarang karena besok pasti ada tugas lagi dari dosen. Aku benar-benar terkejut dengan tugas hari ini, tidak biasanya aku mendapat tugas yang sebanyak ini, belum lagi tugas ospek dan masih banyak lagi tugas lain yang harus aku selesaikan. Ini tentu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kami kedepannya. Kami juga akan terbiasa dengan tugas-tugas seperti ini. Itu lah gunanya beradaptasi, kami harus bisa beradaptasi dengan baik. Kuliah di hari pertama sangat diluar ekspektasi, tetapi tak mengapa bukan masalah juga. Justru ini menjadi modal berarti bagi kami mahasiswa baru.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Mahasantri Pesantren Riset Al Muhtada Mendapat Juara 2 dalam Lomba Esai yang Diadakan Oleh BEM FAKULTAS SAINTEK UNUGIRI Bojonegoro

Mahasantri Pesantren Riset Al Muhtada kembali menorehkan prestasinya. Kali ini adalah Mohammad Rizal Ardiansyah, mahasiswa program studi Geografi Universitas Negeri Semarang. Mohammad Rizal Ardiansyah berhasil menjadi juara kedua  dalam Lomba Esai yang diadakan oleh BEM Fakultas Saintek UNUGIRI Bojonegoro.

Lomba esai ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Juara satu dari ajang ini adalah Tasya Safata Nur Amalia dari Universitas Trunojoyo Madura, Juara kedua adalah Mohammad Rizal Ardiansyah dari Universitas Negeri Semarng, dan juara ketiga adalah Candrika Ilham Wijaya dari Universitas Gadjah Mada.

Rizal menyadari bahwa dirinya masih belum terlalu mahir dalam bidag kepenulisan. Dengan kemenangan ini, semangat Rizal untuk terus belajar menulis semakin tinggi. Rizal juga semakin semangat dan percaya diri untuk mengikuti berbagai lomba menulis selanjutnya.