Hari Pertama Kuliah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Embun masih menyelimuti pagi. Kokok ayam mulai terdengar ditelingaku. Sang mentari sudah lebih dulu keluar dengan sedikit malu-malu. Angin hari ini terasa agak sedikit dingin dari biasanya. rasanya aku malas untuk mandi, tetapi ini adalah hari pertamaku untuk mengikuti perkuliahan. Aku segera mandi dan sarapan dengan keluarga. Aku kuliah di Universitas Negeri Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Yaa, kuliah perdana akan dilakukan secara daring, pandemi menghambat kami semua dalam hal ini. Mau tidak mau kami harus melakukan aktivitas dari rumah. Kuliah tatap muka memang menjadi harapan semua mahasiswa baru, terutama saya sendiri. Kuliah secara daring akan terasa berbeda bagi mahasiswa baru, akan ada tugas online, penjelasan online, dan masih banyak lagi yang berbau online lainnya. Tentu saja kami harus cepat beradaptasi dengan keadaan seperti sekarang. Kami harus siap dengan segala kemungkinan.

“Selamat pagi pak, bu.” Tegurku memulai obrolan.
“Iyaa” jawab Ibu dengan nada lembut.
“Sarapan dulu sini” ucap bapak kepadaku.
“Iya pak, ini juga mau sarapan” jawabku menghampiri mereka.
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya adik perempuan dan laki-laki. Bapak bekerja sebagai karyawan swasta di perkebunan sawit PT. SINAR MAS. Ibu tidak bekerja, tetapi kadang ikut bekerja juga. Ia di rumah mengurusi adikku dan juga pekerjaan rumah.

Setelah sarapan, aku langsung bersiap untuk kuliah. “Bu, lihat pulpen ku gak?” tanyaku.
“Coba cari di meja belajar” jawab Ibu. “Gak ada bu,” sambungku. “Coba cari di tasmu atau
kalo gak ada yaa beli lagi.” Ucap Ibu. “Yaudah kalo gitu aku lihat dulu” jawabku.

Aku mencari pulpen di tas, ternyata memang ada di dalam tas. Tak terasa hari sudah pukul 07.03 WIB. harusnya sudah masuk mata kuliah pertama hari ini. “Tok..” bunyi dari grup wa. Ternyata dosen sudah menunggu, kuliah kali ini akan menggunakan aplikasi zoom, untuk sekedar perkenalan dan pemaparan materi yang akan dipelajari. “Ini bakal langsung ada tugas gak yaaa?” tanyaku dalam hati “Semoga saja belum, hehehe” sambungku dengan sedikit bergurau dalam hati. Satu persatu mahasiswa baru memperkenalkan diri dan saatnya giliranku.

“Silahkan itu yang pakai baju merah, Agus yaa namanya?” pak dosen mulai berbicara.
“Iya pak” jawabku.
“Silahkan memperkenalkan diri yaa!” sambungnya
“Baik pak. Assalamualaikum. Wr. Wb. Perkenalkan nama saya Mohamad Agus Setiono. Berasal dari Bangka Belitung, sudah pak. Wassalamualaikum. Wr. Wb.”
“Baik gus, terima kasih. Jauh juga yaa dari Bangka kuliah ke semarang” pak dosen kembali menyambung obrolannya
“Hahaha, iyaa pak. Cari pengalaman baru juga.”

Tak terasa jam mata kuliah telah berakhir. Ternyata benar dugaanku, ada tugas. Setelah ini bakal ada kuliah lagi, masih lama sih pukul 15.00, aku masih bisa istirahat dulu. 30 menit lagi kuliah kedua hari ini bakal dimulai, aku masih makan, setelah itu langsung ke tempat biasa untuk kuliah, yaitu ruang tamu. Ini adalah kuliah kedua, aku masih semangat, meskipun tadi sudah diberikan tugas.
“Tok..” grup wa kembali berbunyi. Ku kira bakal ada pertemuan di zoom lagi, ternyata tidak. Pak dosen sudah memberi tugas terlebih dulu kepada kami.
“Tugas lagi?” tanyaku dalam hati. Ahhh, rasanya aku belum siap jika harus ada tugas disetiap pertemuan.
“Padahal tugas yang tadi aja belum dikerjaiin, ini udah mau ada lagi. Gimana dengan besok? Pasti sama juga.” Aku berbicara sendiri.

“Teman-teman, ini tugas dari dosen kapan ngumpulinnya yaa?” tanyaku di grup wa.
“Minggu depan gus” jawab salah satu teman.
“Ohh gitu, oke dehh. Makasih yaa” jawabku kembali.
“Kita baru pertemuan pertama saja sudah ada tugas” lanjut temanku yang lain.

“Semangat dong teman-teman” ucap salah satu teman.
“Ku menangisss….” sambung lagi dengan sedikit bergurau.
Syukurlah tugas tidak harus dikumpulkan hari ini, tetapi aku harus mengerjakan sekarang karena besok pasti ada tugas lagi dari dosen. Aku benar-benar terkejut dengan tugas hari ini, tidak biasanya aku mendapat tugas yang sebanyak ini, belum lagi tugas ospek dan masih banyak lagi tugas lain yang harus aku selesaikan. Ini tentu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kami kedepannya. Kami juga akan terbiasa dengan tugas-tugas seperti ini. Itu lah gunanya beradaptasi, kami harus bisa beradaptasi dengan baik. Kuliah di hari pertama sangat diluar ekspektasi, tetapi tak mengapa bukan masalah juga. Justru ini menjadi modal berarti bagi kami mahasiswa baru.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Mahasantri Pesantren Riset Al Muhtada Mendapat Juara 2 dalam Lomba Esai yang Diadakan Oleh BEM FAKULTAS SAINTEK UNUGIRI Bojonegoro

Mahasantri Pesantren Riset Al Muhtada kembali menorehkan prestasinya. Kali ini adalah Mohammad Rizal Ardiansyah, mahasiswa program studi Geografi Universitas Negeri Semarang. Mohammad Rizal Ardiansyah berhasil menjadi juara kedua  dalam Lomba Esai yang diadakan oleh BEM Fakultas Saintek UNUGIRI Bojonegoro.

Lomba esai ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Juara satu dari ajang ini adalah Tasya Safata Nur Amalia dari Universitas Trunojoyo Madura, Juara kedua adalah Mohammad Rizal Ardiansyah dari Universitas Negeri Semarng, dan juara ketiga adalah Candrika Ilham Wijaya dari Universitas Gadjah Mada.

Rizal menyadari bahwa dirinya masih belum terlalu mahir dalam bidag kepenulisan. Dengan kemenangan ini, semangat Rizal untuk terus belajar menulis semakin tinggi. Rizal juga semakin semangat dan percaya diri untuk mengikuti berbagai lomba menulis selanjutnya.

Menatap!

Oleh: Wihda Ikvina Anfaul Umat

Membiarkan langkah menyentuh bumi.

Berjalan berirama entah dengan tujuan apa.

Banyak yang menatap namun sekadarnya.

Tataplah aku, aku perempuan biasa.

 

Aku tidak pandai berdialektika.

Aku sering digiring tetua, berlaku ini itu tanpa tau jelasnya.

Diperalat dan diposisikan pada tataran kedua.

Seakan citaku dikubur, cintaku digusur.

Aku pun tersungkur.

 

Aku perempuan biasa.

Tidak tau bagaimana bergulat dengan zaman.

Harianku hanya menyajikan hidangan.

Hidup pada lingkaran kecil kebebasan, sedang yang besar hanyalah angan.

Aku sekalipun tidak pernah berpikir jauh.

Aku punya harga.

Akulah sang permata.

 

Kelak saat jiwaku membrontak.

Meyakinkan ego sendiri .

Tidak lagi ada penindasan atasku.

Akulah yang menatap surya pagi hari dan membiarkannya berlalu hingga hilang di sore hari.

Jika di lain hari tatapanmu atasku masih dengan kesan yang sama.

Aku ingin membungkammu kuat-kuat.

Lihat!!!

aku adalah per-empu-an yang mampu.

Yang tegar, kuat, pintar dan bertumpu pada dua sendi kakiku.

 

Sekarang, Nona.

Saat menatap nona.

Aku yakin, nona adalah satu dari sekian yang teristimewa.

Jangan lagi gusar berpikir tentang bisa apa?.

Perempuan, Bisa segalanya.

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan  mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Aplausitas Relatif

OLEH: Rayyan Alkhair
Berbicara mengenai harga dari sebuah atau suatu komoditas atau benda lain, kita akan berfikir dengan paradigma ekonomi dengan menggunakan hukum demand dan supply yang mana jika penawaran suatu barang naik maka harga dipasar akan turun dan jika permintaan akan suatu barang naik maka harganya juga ikut naik. Atau mungkin terlintas pada pikiran kita akan teori floor price dan ceiling price yang berorientasi kepada penetapan harga yang menguntungkan baik bagi penjual maupun bagi pembeli. Hukum beserta teori diatas maupun teori lain yang berkaitan, memiliki ikatan dengan bagaimana manusia mengatur harga suatu benda sehingga ia “bernilai” di mata manusia. Namun, pernahkah kita terpikir bahwa aplausitas tersebut adalah hal yang nisbi ? Hal yang kita kejar selama ini, yang kita sangka membawa bahagia adalah cahaya semu dalam gelap yang hilang jika kita melihat sumber segala cahaya ? Apa yang membuat ini semua mungkin dan dapat dipahami ?

Manusia dengan kegiatan mental seperti berpikir, berhasil menemukan pemaknaan atas realita di dunia yang hidup bersamanya. Dengan kata lain, akal menjadi tumpuan kita melihat realitas duniawi dan membuat sebuah pemahaman diatasnya. Namun, dengan sumber ontologis yang berbeda akan menyebabkan perbedaan pula terhadap bagaimana is melihat dunia dan seisinya, dunia dengan segala cahaya yang menyilaukan. Dengan akalnya, manusia berpikir untuk meraih dan merealisasikan kebahagiaan dengan berbagai macam sudut pandang yang secara luas terbagi menjadi materialis dan supernaturalis atau transendentalis. Tuas kemudi ada pada anda, silahkan nahkodai perjalanan hidup tuan dan puan menuju kebahagiaan yang terbagi atas kebahagiaan yang hilang ketika nyawa tak lagi dikandung badan dan kebahagiaan yang berjalan dikala jasad tak lagi berjalan.

Berkata seorang Nabi yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad.saw kepada Humairah “Hai ‘Aisyah, bukankah amal ibadat yang mereka kerkajakan itu adalah menurut kadar akalnya ? Seberapa tinggi akalnya sebegitulah ibadat yang mereka kerjakan serta segitulah pahala yang diberikan”. Lalu, sambung beliau “Allah telah membagi akal kepada tiga bagian ; siapa yang memiliki ketiganya sempurnalah akalnya ; jikalau kurang salah satu maka tidaklah ia dihitung sebagai orang yang berakal”. Bagian pertama ialah ma’rifatullah, kedua ialah baik taatnya kepada Allah dan ketiga ialah sabarnya atas ketentuan Allah.

Tingkatan ini menimbulkan perlainan pandangan ditengah-tengah manusia meski hakikat yang tersembunyi dibaliknya tetap sama. Ada tuan yang senang sekali berada di depan keramaian menjadi pusat hiruk-pikuk manusia, sedangkan tak ia hiraukan tenang dan gelapnya malam untuk berduaan dengan tuhan. Ada yang setiap hari memoles rambut tetapi lupa memoles akalnya dengan ilmu sehingga ia bangga tampil klimis dan necis sedang jiwanya menangis rindu memanggil kesederhanaan dan rasa syukur dalam hal kecil. Ada yang khawatir jika kehilangan tampuk kekuasaan, harta kekayaan dan kepercayaan sekitarnya namun ia tak merasa rugi ketika yang memberikan semua itu kepadanya sama sekali tak ia tunaikan hak-haknya. Andai diri ini tahu ketika jiwa lepas dari segala kungkungan dan menghadap sang maha diraja, lepaslah segala ancaman serta ketakutannya dahulu, hanya kepada tuhannya ia akan takut.

Sejatinya perbedaan tingkat akal inilah yang menimbulkan aplausitas relatif. Tanyakan kepada orang yang kelaparan ditengah gurun apakah yang akan ia ambil dari segelas air dan roti atau uang senilai 1 Miliar. Disaat yang sama tanyakan pertanyaan tersebut kepada orang yang tak lapar dan tak haus. Kita akan menemukan bahwa sesuatu di alam ini dihargai sebagaimana kita melihat dengan akal kita. Tidak mungkin orang berakal yang tengah kehausan di gurun akan memilih uang senilai 1 Miliar ketimbang air segar yang menghilangkan dahaga dan tidaklah mungkin insan yang berakal sempurna memilih sebagian kecil kenikmatan dunia untuk memuaskan raga ketimbang jiwa yang haus akan pertemuan dengan tuhannya. Tangan akan mencari apa yang tak ia genggam sedangkan akal akan mencari makna kebahagiaan yang paripurna.

Bertambah luas akal, bertambah luas pula hidup kita serta bertambah datang kebahagiaan kepada kita. Begitu juga sebaliknya semakin sempit akal semakin sempit kita melihat dunia dan yang akan datang menghampiri adalah celaka. Dengan akal kita mengenal sumber dari segala nikmat, dengan akal kita tahu cara terbaik menggunakan nikmat dengan akal kita menggali hakikat yang tersirat. Oleh karena itu jangan tertipu oleh sebab aplausitas relatif yang timbul akibat keinginan dan khayal semata. Pertimbangkanlah cahaya samar agar tuan tak lagi kembali dalam kegelapan.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

Mitos Buruk Bulan Muharram: Bagaimana Islam Memandangnya?

Oleh: Rikha Zulia
Muharram, bulan pertama dalam kalender hijriyah yang lebih dikenal masyarakat jawa dengan sebutan bulan Suro. Suro, nama yang diambil dari kata A’syuro yang berarti hari ke sepuluh dimana pada hari tersebut terdapat salah satu amalan yang sangat dianjurkan sebagai sunnah Nabi Agung Muhammad SAW yakni puasa a’syuro. Puasa yang apabila dilaksanakan akan digancar dengan diampuninya dosa selama setahun.

Betapa istimewanya bulan Muharram ini, namun dibalik keistimewaannya terdapat bermacam-macam mitos buruk yang diyakini beberapa kelompok masyarakat Indonesia seperti yang diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sakral dan mengganggapnya sebagai bulan “sial”. Tidak seluruh masyarakat Jawa meyakininya, namun mitos ini cukup familiar dan masih dipercaya oleh sebagian orang hingga zaman modern ini. Salah satu mitos yang paling banyak diyakini adalah mengenai larangan menikah di bulan Suro. Selain itu pada bulan ini juga sering dijadikan sebagai bulan untuk ritual tertentu yang tidak sesuai dengan ajaran islam.

Lantas bagaimana islam memandang fenomena beberapa mitos buruk di bulan Suro atau Muharram ini? Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 36 berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…”

Pada ayat diatas terdapat empat bulan yang disebut dengan bulan haram yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan bulan Rajab. Bulan haram berarti bulan yang mulia serta istimewa, maka tidak benar jika bulan Muharram disebut sebagai bulan “sial”. Bulan Muharram atau bulan Suro juga disebut sebagai bulannya Allah, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yanga artinya:
“ Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, yakni bulan Muharram” (HR. Muslim).
Telah dengan jelas Allah menjadikan bulan Muharram sebagai bulan yang mulia yakni dengan julukan syahrullah yang berarti bulannya Allah maka sudah sepatutnya umat muslim mempercayai dan mengamalkan dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam kehidupannya.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Realita Sosok Bu Tedjo Dalam Masyarakat Indonesia

Oleh: Muhammad Miftahul Umam

Beberapa waktu ini tengah viral sebuah film pendek dengan judul “TILIK”, atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “Menjenguk”. Film dengan durasi 32.34 menit ini tayang di youtube pada tanggal 17 Agustus 2020, dan pada tanggal 29 Agustus 2020 telah ditonton sebanyak 18,5 juta lebih penonton. Kesuksekan film ini tidak terlepas dari adanya tokoh yang bernama “Bu Tedjo”, yang dikenal karena nyinyirannya. Bahkan sosok Bu Tedjo ini sempat menjadi trending di twitter, dan berbagai kalimat celetukannya yang menggelitik dijadikan meme dan stiker whats app oleh para netizen, seperti “Dadi wong ki mbok sing solutip”, “Nuraninya itu loh dipake”, “Saiki mbok yo do miker” dan lain sebagainya.

Tokoh Bu Tedjo dalam film Tilik ini menggambarkan kebiasaan buruk masyarakat kita, khususnya di kalangan ibu-ibu atau lebih akrab disebut “emak-emak”, yang suka nyinyir, membicarakan keburukan orang lain dan nge-gosip tanpa mencari tahu dengan sebenar-benarnya terlebih dahulu akan kebenaran hal yang dibicarakan. Seringkali kebiasaan nyinyir dan nge-gosip hanya akan menimbulkan fitnah, karena itu hanya sebuah asumsi yang belum tentu kebenarannya. Terlebih masyarakat kita yang biasanya malas untuk mencari kebenaran informasi tersebut, dan hanya menerima secara mentah-mentah informasi yang sampai kepadanya. Maka dari itu, nyinyir dan gosip dianggap sebagai suatu hal yang buruk atau negatif.

Namun demikian, gosip tidak selalu berkonotasi buruk. Dalam ilmu sosiologi, gosip termasuk salah satu sarana pengendalian sosial. Gosip menjadi salah satu alat yang cukup efektif untuk mencegah terjadinya penyimpangan sosial di dalam suatu kelompok masyarakat. Misalnya, seorang wanita yang biasa pulang terlalu malam atau biasa dibonceng oleh laki-laki yang bukan mahramnya, dalam kelompok masyarakat tertentu dianggap sebagai bentuk penyimpangan sosial. Ketika wanita yang biasa melakukan penyimpangan sosial tersebut mengetahui bahwa dirinya sedang digosipkan, maka ia akan merasa tidak enak atau tidak nyaman sehingga dapat membuatnya berhenti melakukan hal tersebut.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

Memaknai Bulan Muharram, Bulan Kemuliaan

Oleh: Eka Erni Nurrokhmah

Pada tanggal 1 Muharram 1442 Hijriyah, seluruh umat Islam dunia menyambut tahun baru Islam atau tahun baru Hijriyah. Biasanya umat muslim di beberapa daerah merayakan tahun baru Hijriyah dengan berbagai rangkaian kegiatan, diantaranya seperti mengadakan pawai, menggelar pengajian dan doa bersama, gema sholawat, dsb. Namun, untuk tahun baru kali ini berbeda cerita dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena adanya pandemi Covid-19 sehingga kegiatan yang biasanya dilakukan ketika tahun baru pun ditiadakan.

Meskipun demikian, rasa syukur ini tidak berkurang sedikit pun. Alhamdulillah, kita masih diberikan umur yang manfaat dan barokah sehingga bisa menyambut datangnya bulan Muharram di tahun ini. Kita sebagai umat Islam tentu senantiasa menyambut tahun baru Islam dengan melakukan kegiatan di rumah, seperti berdoa, khususnya doa awal dan akhir tahun, kemudian menjalankan amalan-amalan yang dianjurkan ketika datangnya bulan Muharram ini, termasuk puasa Tasu’a dan Asyura’.

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang paling mulia. Ada banyak sekali keutamaan-keutamaan dalam bulan Muharram, bulan yang mulia ini.

Allah SWT telah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 36, yang artinya:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. At-Taubah: 36)

Menurut ahli tafsir, empat bulan haram tersebut di antaranya adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. yaitu, bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Adapun amalan-amalan ibadah yang dilakukan pada empat bulan haram itu akan dilipatgandakan pahalanya. Begitu juga dengan perbuatan dosa.

Berdasarkan beberapa sumber referensi, bulan Muharram mendapat sebutan khusus yakni syahrullah atau tepatnya syahrullah al Asham (bulan Allah yang sunyi). Karena sucinya bulan ini, maka seharusnya harus tidak terjadi konflik di bulan ini.

Nah, ada beberapa makna yang mendalam pada tahun baru Islam bagi umat Islam. Pada bulan Muharam ini, awal Nabi Muhammad SAW berniat dan bermaksud melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah. Setelah adanya peristiwa hijrah tersebut, agama Islam berkembang pesat dan semakin meluas hingga ke Makkah dan wilayah sekitarnya.

Selanjutnya, pada pergantian tahun ini sebaiknya kita jadikan sarana untuk introspeksi diri atau muhasabah. Di awal tahun ini kita berintrospeksi diri atas segala hal yang sudah kita lakukan selama setahun yang lalu dan memikirkan perbaikan dan kebaikan yang akan dilakukan pada tahun yang akan datang. Tinggalkan yang buruk dan tingkatkan yang baik. Dengan harapan agar kita menjadi umat muslim yang lebih mawas diri. Selalu berpikir sebelum bertindak atau istilah lainnya agar selalu eling dan waspada.

Dengan demikian, mari wujudkan semangat baru di tahun baru ini. Marilah membuka lembaran baru dan isilah dengan tinta kebaikan. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat.

كل عام وانتم بخير

Selamat Tahun Baru Islam 1442H.

Penulis merupakan salah satu mahasantri Pesantren Rist Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Computational Thinking dalam Kehidupan Sehari-Hari

Oleh: Muhammad Nurul Huda

Computational thinking atau dalam bahasa Indonesia yang berarti berpikir komputasi adalah metode pemecahan masalah yang melibatkan pengungkapan masalah dan solusinya dengan cara yang dapat dijalankan pada computer. Berpikir komputasi bukan hanya dilakuakn dalam pemprograman saja. Akan tetapi dapat dilakuakn oleh semua orang terutama anak-anak sekolah. computational thinking diajarkan kepada anak-anak sekolah agar memiliki kemampuan problem solving yang baik sejak dini.

Banyak di negara maju yang mengaplikasikan computational thinking pada kurikilum sekolah dasar. Sehingga para anak-anak memiliki kemampuan analisis yang baik, dimana pada era digital seperti ini computational thinking sangat dibutuhkan terutama pada startup atau usaha dibidang lain. Selain itu peran manusia juga mulai berkurang karena banyak yang sudah diganti menjadi teknologi seprti artificial intelligence.

Ketika belajar suatu bahasa pemprogaman maka akan melibatkan computational thinking. Karena suatu bahsaa pemprogaman merupakan bagian terkecil dari computational thinking. Dan kebanyakan bahasa pemprograman mudah untuk dipelajari karena hanya memiliki syntax (aturan bahasa ) kurang dari lima puluh, hal inilah yang menyebabkan belajar bahasa pemprograman lebih mudah dari belajar bahasa asing. Fungsi dari suatu bahasa pemprogramn sendiri adalah untuk memecahkan suatu masalah. Selain itu bahasa pemprograman digunakan sesuai dengan tujuan seperti Javascript untuk pengembangan web, Java untuk Native dan Python untuk data scientist.

Contoh dari computational thinking yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari yaitu dalam pembuatan mie instan. Sebelumya kita harus menyiapkan semua bahan-bahan terlebih dahulu. Seperti menyiapkan mie, air, kompor dan panci. Lalu kita merebus air dan memasukkan mienya ketika airnya mendidih. Selanjutnya kita tiriskan mie tersebut dan menaruhnya kepiring lalu memberi bumbu. Dan terakhir mengaduknya hingga rata lalu mie siap disajikan.

Dari contoh diatas kita telah melakukan berbagai yaitu proses dekomposisi ialah penyiapan bahan, lalu pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma atau urutan pembuatan mie agar lebih cepat. Berbagai permasalahn yang ada di kehidupan sehari- hari dapat diselesaikan dengan mengunakan program. Mungkin kedepanya ada salah satu program yang dapat dibuat untuk memudahakan pemantauan perkembangan seorang santri mulai dari riwayat takzir, pengumpulan tugas, keterlambatan dalam ta’lim dan lain-lainnya dapat dipantau melalui mobile app. Hal ini dapat memudahkan
para ustadz untuk mengetahui progres dan perkembangan anak didiknya dalam skala yang besar dan tentunya menghemat banyak waktu. Selain itu aplikasi seperti masih tidak dikatahui keberadaanya atau belum dibuat mengingat jumlah pondok pesantren di Indonesia yang banyak.

Penulis merupakan salah satu mahasantri Pesantren Rist Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

المُمَيِّزَات و العُيُوب بِطَاقَة العَامل فى إندونسيا

الكاتبة: نسا ئنا عزى لطيفة

الرَئِيْس يَتَلَقَّى كَثِيْرٌ مِنَ الجَدَلِ مِنْ عِدَّةٍ أَحْزَابٍ, مِثْل فِي تَنْفِيْذِه وَحُكُوْمَتِهِ وَمُعَارَضَتِهِ. وَلِهَذَا اخْتِيَار المَوْضُوع ذَاتَ صِلّة بِالوَضْعِ الحَالِي فِي المُجْتَمَع. وَهَكَذَا, نَعْرِفُ وَنَفْهَمُ عَنْ مَاذَا هَذِهِ البِطَاقَة؟ كَيْفَ تَنْفِيْذُهُ؟ وَكَيْفَ مميزات وَعُيُوبُهُ؟ مِنَّا لَا نَعْرِفُ أَنْ نَعْرِفَ, مِنَّا فِي حِيْرَة أَنْ نَفْهَمَ وَافْتِتَاحُ مَنَاظِرَ الأَخَر عَنِ المُشْكِلَة.

بِطَاقَةُ العامل هِيَ مِنْ أَحَدِ البَرَامِجِ الأَوّل مِنَ الرَّئِيْسِ الجُمْهُوْرِيْ جُوكُووِي الَّذِي يَعْتَبِرُ قَبْلَ أَنْ يَصْبِحَ رَئِيْسًا. شَكْلُ هَذَا البَرْنَامِج هُوَ تَقْدِيْمُ المُسَاعَدَة لِتَكَالِيْفِ التَّدْرِيْب المِهْنِي لِطُلَّابِ العَمَلِ عَلَى السِّنِّ ثَمانية عَشَر. التَّدْرِيبُ المِهْنِي هُوَ التَّدْرِيْبُ لِإِتْقَانِ المَهَارَاتِ المُعَيَّنَةِ عَلَى أَسَاسِ الصِّنَاعَةِ وَإِمْكَانَاتِ المِنْطَقَة. أَمَّا المُسْتَسْلِمُ البِطَاقَة هُمْ مُتَخَرِّجُوْنَ مِنَ المَدْرَسَةِ الثَّانَوِيَّة أَوْ مَدْرَسَةِ المِهْنِيَّة, وَالعُمَّالُ الَّذِيْنَ طَرَدُوا مِنْ وَظَائِفِهِمْ, وَأَيْضًا العُمَّالُ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ. وَهَكَذَا, خَصَّصَتِ الحُكُوْمَة عِشْرُيْنَ تريليون لِثَلَاثَةِ المُسْتَسْلِمُوْنَ مَعَ التَّدْرِيْب.

مِنْ أَحَدِ أَهْدَاف البَرْنَامِج هُوَ لِانْقَاصِ العَاطِلَة, سَجَّلَتِ العَاطِلَة سَبْعَة ملايين في إندونيسيا عام ألفين وتسعة عشر. وهكذا, هَدَفَتِ الحُكُومَة في عام ألفين وعشرين هو تَقْلِيْلُ مُعَدَّلِ العَاطِلَة. إِذَان, مع البَرْنَامِج أَنَّ المُجْتَمَع لَمْ يُوْجَد وَظِيْفَة لَكِنْ لَدَيْهِمْ مَهَارَات جَدِيْدَة تَتَعَلَّق بِالمِهْنِيَّة المَرْجُوَة أو احتِيَاجَات الصِّنَاعَة. ولهذا, أَنَّ المُجْتَمَع الذين يُشَارِكُون هذا البرنامج أَحْرَارٌ فِي اتِّخَاذِ خِيَارَات التَّدْرِيْب. وَلَيْسَ هَذَا فَقَط, يَحصُلُونَ عَلَى بَدَلِ رَأْسُمَال وَرَاتِب. والأَهَمُّ يَسْتَطِيْعُونَ أن يَطْوِرُوْنَ ويَزِيْدُوْنَ المهَارَات المَطْلُوْبَة.

لَكِنْ فِي تَنْفِيْذِهِ هَذِهِ البِطَاقَة لَمْ تَتَمَكَّن مِنَ الوُصُولِ جَمِيْع المجتَمَع لِأَنَّهَا يستطيع مُتَيَسِّر عَلَى بَعْضِ النَّاس فقط. وَلَيْسَ هَذَا فَقَط, كَثِيْرٌ من الفُصُولِ يَبِيْعُ بِتَعْرِيفِ الثَّمَن, إِذَا كَانَتِ الحُكُومَة تُرِيْدُ زِيَادَة المهَارَات شَعْبِهَا فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُوْنَ أَرْخَصُ التَّعرِيف. وَالأَخَر, كَثِيْرٌ مِن المَنَاطِق الإندونيسيا لَيْسَتْ لَدَيْها إِشَارَة القَوِيّة لِلوُصُول إِلَى الِإنْترنت, بَيْنَمَا يَجِبُوا عَنِ السِّمَاعَة المَادّة فِي الفَصْلِ حَيْثُ كُلِّهِ فِيدِيُو وَالطَّبْع سَيُعَقِّدُهُم. ولذالك رَأْيِيْ, اطْلَاق البِطَاقَة لَيْسَ صَحِيْح لِأَنَّ الْاَن مُرْتَبَط بِالطَّاعُون, وَكَثِيْرٌ مِنَ النَّاس يُوْجَد أَزْمَةَ المَالِيَة, بَيْنَمَا يَجِبُ أَنْ يَدْفَعَ هذه البطاقة. وَمِنَ الأَفْضَل أَنْ تَقَدَّمَتِ الحُكُومَة مُسَاعَدَةً مُبَاشَرَةً لِلمُجْتَمَع لِأَنَّهَا أَهَمّ لِكِفَايَةِ الاحْتِيَاجِهِمْ مِنَ التَّدْرِيْب.

وكذالك, فَتَنْبَغِي الحُكُوْمَة إَلَى النَّظَر فِي تَنْفِيْذ هَذَا البرنامج, ومُهَبَّأ بِعِنَايَة, وَلَا ثَقْل المجْتَمَع, وَاعْتِبَار إِمْكَانِيّة الوُصُول وَقَدْرَة الحَامِل البِطَاقَات فيِ فُصُولِ التَّدْرِيب, وَالضَّمَّان الأَمْنِ وَخُصُوصِيّة لِلمُشَارِكِين البِطَاقَاتِ.

Penulis merupakan salah satu mahasantri Pesantren Rist Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Supardi dan Kenangan

Aku ingin menjadi sebuah cinta sederhana nun dalam maknanya

Oleh:

Wihda Ikvina Anfaul Umat

Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Sastrawan kenamaan Indonesia, Sapardi Djoko Damono telah berpulang ke Rahmatullah, pagi tadi, Ahad 19 juli 2020. Sudah barang tentu hampir seluruh mahasiswa jurusan sastra, pun yang bukan, tak asing dengan sosok alm. Sapardi. Beliau adalah salah satu sastrawan kenamaan Indonesia yang telah melahirkan banyak karya sastra cantik dan menyuntuh hati para penikmatnya. Alm. Sapardi Djoko Damono yang akrab dengan singkatannya SDD, telah menjalani kehidupan sebagai sastrawan lebih dari 50 tahun. Karirnya dalam bidang sastra tidak dapat diragukan lagi. Almarhum sudah banyak malang melintang dan khatam betul perihal dunia sastra, utamanya pada bidang puisi. Selain sebagai sastrawan almarhum juga pernah menjadi dosen di Fakultas Ilmu Budaya UI dan menjadi guru besar. Berbagai penghargaan dalam bidang sastra juga telah almarhum raih, diantaranya anugerah SEA Write Award pada 1986, penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003 dll.

Mengenang alm. Sapardi, beberapa dari para pengagum sastra akan terarah pada buah karya puisi-puisinya yang amat terkenal. Satu diantara yang juga amat saya sukai adalah puisi “Aku Ingin” berikut:

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(sumber: https://www.gramedia.com/blog/5-kumpulan-puisi-cinta-sapardi- djoko-damono-paling-romantis/)

Puisi bebas dua bait tersebut amat dalam maknanya. Sebuah kesederhanaan cinta yang dilukiskan oleh alm.Sapardi. Tentang apa yang paling sederhana yang dapat kita berikan kepada yang terkasih namum dapat menyayat palung terdalam diujung hati. Puisi bertema cinta tersebut ditulis pada 1989 saat istrinya sedang sakit. Namun dalam pembawaanya tentu kita dapat mengekspresikan rasa cinta tersebut, tidak terbatas kepada kekasih, namun kepada guru, orang tua atau bahkan kepada teman sebaya. Begitulah puisi “Aku Ingin” hendak berbagai cinta dengan pembacanya.

Saat ini setelah Alm. Sapardi pamit dari dunia pun dunia sastra, agaknya puisi ini menjadi ungkapan cinta kepada alm. Sapardi. Diksi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” menjadi satu ekspresi kecintaan terhadap jasa almarhum atas karya-karya yang telah dilahirkan. “Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu” penggalan tersebut saat ini menggambarkan salam perpisahan kita terhadap sang maestro yang telah tiada, yang tak bisa lagi kita jumpai seakan seperti kayu yang telah terbakar api dan menjadi abu, tak dapat utuh seperti kayu lagi. Pun pada bait berikutnya yang saat ini juga menggambarkan cinta dalam kesedihan kepergiaannya.

Selamat jalan eyang Sapardi Djoko Damono. Terima kasih atas karya-karya manismu, selanjutnya biar kami yang menjaga engkau istirahatlah dengan tenang di pusaramu.

-Ahad, 19 Juli 2020.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.